entrepreneurship, me|write, my life stories, think sotoy
Comments 28

design hurts…

Belom lama gw kedatangan seorang om yang udah 20 tahun tinggal dan bekerja di seattle… anak-anaknya sekolah dan udah bekerja di sana… malahan anakanya yang bungsu, seorang cowok diterima bekerja di nintendo… uuuhhh.. ngiri amat guwa… bukan cuman itu, yang bikin ngiri lagi, semua pendidikan yang dia dapet dari mulei sekolah sampai jebol kuliah semuanya GRATIS !!!…. kalo gw mikir nih negara kok ya rasanya miris banget…

Menyempatkan mampir ke kantor gw, gw ngobrol dan memperlihatkan beberapa hasil karya kantor gw untuk diminta pendapatnya.. terus dia tanya soal harga, dan gw menyebutkan sejumlah angka.. dan dia tercengang abis.. “HAAA ?? cuma segitu…?!? yang bener aja kamu… ini kalo di sana bisa ratusan juta lebih… untuk perusahaan kelas kakap model begini mestinya kamu harus masukin harga kayak di sana dong…”…. gw yah jawab, “yaaahh itu sih aku pengen banget om… tapi yah disini gak bisa… masukin mahal dikit, udah ditandingin sama percetakan yang ngaku-ngaku bisa bikin desain bagus, padahal seh yang ngerjain operator komputer, bukan desainer.. jelas aja harganya jomplang abis.. terus yang harganya murah deh yang dapet..”

Om gw bales lage..”pokoknya kamu mesti berani gie… ini kalo dibandingin dengan harga di luar negeri, kecil banget nilainya..”… gw timpalin lageh..”disini sulit ooomm.. itu sih aku pengen banget ngehargain desain itu mahal… cuman yah itu, banyak orang sini gak ngerti kalo desain itu mahal.. yang ditender pun harga, bukan hasil karya.. jelas aja percetakan gebleg itu yang menang… wong spesifikasi itemnya sama, tapi harganya bisa beda… Naah.. disini banyak klien gak sadar, wong mie instant aja yang isinya sama-sama mie harganya bisa beda.. apalagi kalo HARGA ISI KEPALA…”

Singkat kata obrolan gw saat itu, om gw gak rela desain kita dihargain dengan murah.. yah gw sih setuju banget dengan pendapatnya, memang seharusnya begitu, apalagi gw bisnis jasa desain.. cuman kondisi pasar yang rusak dan cara kebanyakan orang Indonesia mengsargai seni itu yang bikin kita kepentok..

Seni, budaya, gimana lu bisa menghargainya secara matematis.. desain ituh jasa, sama dengan pengacara.. darimana itungan si pengacara A bisa 200 juta ?? dan bisa diterima, terus kenapa kita desainer disini kok ya gak bisa ngehargain desain dengan harga segitu ??.. Yahh, mungkin cuplikan beberapa paragraf yang gw caplok dari tulisan Andre Vltchek, Worldpress.org contributing editor bisa memberikan gambaran..

Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – Masya Allah! (pent.) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).

Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

SEBALIKNYA, Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi
dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower, salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Hanoi juga memugar Gedung Opera yang secara reguler mempertunjukkan
pagelaran musik Asia dan Barat.

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya,
dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia.

Yaahh… kurang lebih gitu deh kondisi seni dan budaya di indonesia ini.. Yang agak bikin sedih juga, kenapa cuman musik pop yang banyak laku dan berharga mahal… kenapa desain tidak ??.. kadang gw mikir, seorang penyanyi atau grup musik pop bisa dibayar puluhan juta untuk membawakan beberapa buah lagu yang notabene hanya berdurasi beberapa menit saja.. sensasinya pun mungkin hanya bisa bertahan dua tiga hari… tapi untuk sebuah desain (taroklah sebuah buku) yang notabene lagi membawa aura, mewakilkan citra, mempertaruhkan brand image sebuah perusahaan, dan sensasinya pun bisa bertahan sampai bertahun-tahun dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang dihargai lebih rendah daripada penyanyi.. Seharusnya ini ndak boleh terjadi… dari berbagai sumber yang gw baca, korea dan thailand maju berkat suburnya industri kreatif… merk samsung dulunya adalah merk abal-abal.. namun berkat pembaharuan brand dan desainnya, samsung mampu menunjukkan betapa penting dan unggulnya itu desain dan kemudian dikenal luas di dunia internasional..

Disamping keluhan gw itu semua, gw tetep optimis… era otak akan tiba.. pada penelitian terakhir, IQ hanya 5% menentukan kesuksesan seseorang.. dan nantinya orang akan lebih mengerti akan “MAKNA” daripada hanya sekedar “UANG”.. orang akan lebih banyak mencari tahu untuk apa, atau makna dia hidup ketimbang jadi “robot” yang menghasilkan uang… Di Barat sana, peminat dan kebutuhan Master of art saat ini lebih banyak ketimbang MBA…. yes.. era konseptual akan tiba.. Di Indonesia pun gw tetep optimis.. pemerintah sudah mulai berani mendukung melalui departemen perdagangan.. gw sempet liat sendiri slide konsepnya di klien gw yang memang berada di bawah naungan Dept perdagangan… Setelah era agraris, disusul era industri, kemudian era informasi, selanjutnya nanti era kreatif yang akan muncul… Terbukti makin banyak event desain dan terbitnya majalah-majalah yang bertemakan art dan desain.. 5 tahun lalu belum ada loh…

Di Indonesia pun ada juga kok yang mampu menjual desain dengan harga mahal.. harganya berlipat-lipat dari harga gw… 1 halaman saja bisa bernilai 10 juta !! Seperti Le Bo Ye, After hours, Design Lab, Makki makki, dll… seharusnya sih para klien yang tidak mengerti harga desain yang sesunggunya tuh bisa tanya langsung aja tanya ke perusahaan desain ini…. baru deh tau kalo harga desain gw cukup murah… bukannya ngebandingin sama percetakan gebleg yang berani terima di depan, mati di belakang.. hehehe…

(buset dah.. panjang juga yak… udah ahh…)

Advertisements

28 Comments

  1. ogieurvil said: untuk perusahaan kelas kakap model begini

    yo’eeeeeeeeeeeeeeeeeeehh!!OGIE MEMANG!!!*ngacungin 3 jari*

    Like

  2. yang dihargai bagus di negeri militeristik kayak kita gini ya… yang berbaju loreng dengan bintang lima berjejer di pundak… walau yang berbaju loreng dan berbintang lima dipundak itu bajingan sekalipun… salam buat om lo ya gie… bilangin : selamat datang di indonesia T-T

    Like

  3. Karena kita tidak dididik buat menghargai sesuatu yang abstrak dan mengapresiasi yang bagus. Yang bagus adalah yang terlihat, terukur, dan secara finansial menguntungkan. Seniman yang dulu jadi momok menakutkan buat jadi profesi pun sekarang lebih dihargai karena ada jalan pintas buat cepat menghasilkan (baca: dengan jadi penyanyi lagu rock menye-menye dan pemain sinetron). Buat apa beli desain mahal kalau dengan desain biasa-biasa aja sudah bisa informatif? Buat apa kreatif kalau pasarnya masih dirasa bodoh dan mesti disuapi terus? Buat apa punya mantu desainer kalau bisa punya mantu bankir atau calon pejabat negeri? Yang harus diubah adalah pola pikir jutaan orang dan ini bukan pekerjaan mudah….Eh, elu gak jadi makin minder buat cari istri kan? Ini cuma contoh lhoooooo…..*kabur*

    Like

  4. heeee3x..gie2x, om loe boleh jga…tp dia nggk bisa samakan kondisi disono ama disini dong…nah skrng dibalik dong, gmn agar jasa desain loe bisa diterima diluar dgn harga yg lebih dari harga di indo? begitu ogie memang…wakakakkk…gw mah setuju banget klo harga yg loe kasi ke perusahaan2x besar spt yg loe kasi ke kantor gw bisa gede…nah makin gede khan gw jga kelimpahan rejeki gedenya tuh…wakakakkk….lumayan tuk nambah penghuni di rumah gw….woiii gw nambah piaraan uler neh…ntar gw bw ke sign design deh gmn? biar pd kabur pas maen pingpong…kikikkkkkkkkk

    Like

  5. roelworks said: Curhat yang sangat berisi…MEMANG!!!

    yahh… berisi apanya… tapi reply commentnya sangat menghibur…

    Like

  6. harlia said: OGIE MEMANG!!!*ngacungin 3 jari*

    ley ley…… maksutnya yang kakap tuh kliennya… guenya mah ece – ece….. terus tiga jari ?? biasanya yang ngacung kan jempol… simbol metal kah ??.. oh iya… satu lagi… AKU TIDAK MEMAAANG !!!

    Like

  7. republikradikal said: salam buat om lo ya gie… bilangin : selamat datang di indonesia T-T

    yes… okeh dieee….. “oomm… welcome to the club !!!”

    Like

  8. anakhalal said: Eh, elu gak jadi makin minder buat cari istri kan? Ini cuma contoh lhoooooo…..*kabur*

    kaggak takuuuttttt….. liat ajah… nanti bakal gw buktikan betapa dahsyatnya itu bisnis kreatif !!!… modal dapet istri sih sama kayak apa yang dibilang pamannya si aisha di AAC.. “yang penting… AKHLAKNYA…” aishaaa….. dimana dirimuuuu..

    Like

  9. debaztard said: he..he..desainer di adu ama percetakan he..he… gwa pernah jd korban neh ;-(

    tabahkan hatimu… kalo emang kita bener qualified dan isitqomah… time will tell…

    Like

  10. hendryanto said: heeee3x..gie2x, om loe boleh jga…tp dia nggk bisa samakan kondisi disono ama disini dong…nah skrng dibalik dong, gmn agar jasa desain loe bisa diterima diluar dgn harga yg lebih dari harga di indo? begitu ogie memang…wakakakkk…gw mah setuju banget klo harga yg loe kasi ke perusahaan2x besar spt yg loe kasi ke kantor gw bisa gede…nah makin gede khan gw jga kelimpahan rejeki gedenya tuh…wakakakkk….lumayan tuk nambah penghuni di rumah gw….woiii gw nambah piaraan uler neh…ntar gw bw ke sign design deh gmn? biar pd kabur pas maen pingpong…kikikkkkkkkkk

    okeh din… dengan ikhtiar pangkat 10… plus hanya berharap dan minta pertolongan pada Allah… suatu saat nanti… barang dagangan gue akan ada di luar Indonesia… amiiinnn…diiin diiinn… aneh-aneh aje luh… piaraan kok uler seh ?? gokil lu… yang lebih manis gitu loh.. beruang atau kuda nil…

    Like

  11. anakhalal said: Oooo… nyari yang namanya Aisha tokh…Teman temaaaaan! Ini lho penyebabnya ternyata… 😀

    HALAH… ditangkap secara harfiah !!!

    Like

  12. Oh, jadi maksudnya tidak begitu ya, Gie…Jadi sebenernya cari yang kaya apa sih?……………………………….^_^*duh maap ya gue lagi error nih, dah jam segini lagi flu berat tapi masih banyak kerjaan di kantor*

    Like

  13. anakhalal said: Oh, jadi maksudnya tidak begitu ya, Gie…Jadi sebenernya cari yang kaya apa sih?……………………………….^_^*duh maap ya gue lagi error nih, dah jam segini lagi flu berat tapi masih banyak kerjaan di kantor*

    GYYYAAAAAAAA…..gile luh ris masih di kantor jam segeneh… pulang woi… anak istri menungu.. kalo gw kan ketauan kagak ada yang nunggu.. si aishah.. .ah sudahlah…

    Like

  14. ogieurvil said: si aishah.. .ah sudahlah…

    aduh, Nak Ogie… kan anak Tante namanya Salma… Aishah mah nenek2 di sebelah rumah. hehehe…. gapapa, dimaafkan kok. Kami tetap komit kok dengan Nak Ogie. apalagi punya om yang kerja di Seattle, dan Nak Ogie kelas kakap gitu loh. alhamdulillahirabbil’alamiin, barakallah….

    Like

  15. ada tuh Gie..disekolahnya Ardi..sholehah, cantik, putih, imut!loe ke sini aja, ntar cari di kelas Kelompok Bermain 2 ya…atau dijemputannya Ardi.. sama2 ikut pak Murad kok:D 😀

    Like

  16. hmm…keinget kembali masa perasaan dan emosi aku tidak stabil,akibat aku merasa banyak yang tidaak keadilan…bagaimana mungkin..kita berusaha keras siang malam baik itu di psikologi,survey kapal dan radio link internet, keberhasilan kita hanya di hargai rendah…di banding kalo di luar negeri kita usaha yang sama…hiks..hiks…dan tadi sohib saya juga curhat juga dan kurang lebih samalah…..hanya bidang perkerjaannya yang beda…hmm..jangankan perkerjaan itu di bidang seni bro…. di bidang teknologi juga sama bro, emang di banding negara maju kita kurang di hargai..hanya.. apakah mereka juga yang tidak menghargai itu mengerti arti penghargaaan…jangan2 mereka di lingkungannya juga tidak di hargai…bagaimana mereka bisa menghargai..dan emang beginilah rata2 bangsa kita…tidak pernah di ajari negara kita arti menghargai secara sosial tp hanya berdasar hukum dan perintah….apakah pindah negara?..bodo amat ama negara ini…hmm…rasanya terlalu sayang bro….mungkin negara ini kurang baik dari sisi itu, tapi di disini kita belajar untuk melihat ke kaum atas dan bawah, kalo mau kita menghilangkan kepedihan akibat tidakadilan, masih banyak saudara2 kita yang lebih dibuat tidak adil, sedangkan di negara maju, susah melihatnya karena lingkungannya sudah termapping, di sani gampang bro… tinggal keluar rumah aja ato keluar kantor, jalan aja kurang dari 1 kilo …keadaan itu telah jelas terlihat,danmau berbagi ke sesama juga gampang..dan yang terakhir…untuk jalan akhir kita…toh kita tak hidup selama2nya….untuk mencapai akhirat rasanya di negara ini masih lebih mudah fasilitasnya..bukan secara negara…tapi secara sosial…toh itulah tujuan akhir hidup kita……sori bro semua kalo tulisan kali ini rada2 jelek…maklum yang nulis jelek dan bego he..he…

    Like

  17. thanx bro… jangan putus asa geto ah… hehehe… pusing mikirin negara… udeh, kita maen minton aja mendingan…. kemane luu kemaren… ditantangin pak joko lagi tuh…

    Like

  18. huaaaaaa pedih rasanya kalo inget2 soal ini…hik hik hik…saya sebagai desainer merasa sedihhh…makanya banyak para seniman2 kita melanglang keluar negri, karena disana lebih dihargai…tapi kek gt saya ngerasa melarikan diri dari kenyataan, kenapa nggak dikit2 mencoba untuk berubah seperti kek km blg, disni banyak jg kok orang yang masi mau menghargai sebuah karya “seni”. Memang gak banyak, tp ada. Ada lebih baik daripada nggaklagian ujungny2 sih, seni itu ga bs diukur dengan nilai, so ya selama aku seneng ngelakuinnya, why bother… soal duit? yang diatas uda ada yang ngatur, knapa mesti bingung… : )no offensip ya…piss :Dbagaimanapun saya tetap cinta Indonesia bro…

    Like

  19. salvadorkatz said: disni banyak jg kok orang yang masi mau menghargai sebuah karya “seni”. Memang gak banyak, tp ada. Ada lebih baik daripada nggak

    well… hehehe… that’s why gue masi bertahan di bisnis ini… cinta mati… panggilan jiwa…

    Like

  20. harlia said: huahahahaha….ketemu lagi sama gambar ini:

    iye neh… padahal gue udah berusaha melupakan…. gwakakakakak….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s