me|write, spiritual
Comments 2

frekuensi ide..

Sejarah penemuan “telepon” seru juga ya.. Ada nama Elisha Gray.. Dia ini penemu telepon juga, tapi kenapa kita lebih taunya Alexander Graham Bell ??.. Simple, karena Bell duluan ngantri saat ngambil formulir patennya..

Ada buku yang menyebutkan, mereka cuma berselisih sekitar 3 jam saja.. Si Bell dapet antrian nomer 5, dan Gray nomer 39.. Perbedaan ini yang menyebabkan Bell jadi pemilik paten penemuan telepon pertama.. Konsep “jeroan” alatnya pun ada yang mirip2.. Sehingga Gray membawa hal ini ke ranah hukum, tapi dia kalah di pengadilan..

Urusan hukum itu lain cerita sih.. Yang pengen gw catet: nggak sedikit karya kreatif atau penemuan yang hampir sama, dihasilkan di waktu yang berdekatan, oleh orang yang berbeda dan di tempat yang berjauhan.

Darwin dan Wallace juga begitu.. Konsep mekanisme teori evolusi mereka berdua (seperti natural selection, survival of the fittest) disebut2 hampir sama.. Padahal mereka meneliti sendiri2 di tempat yang berbeda..

Di tahun 1920an, profesor dari Univeritas Columbia: William Ogburn & Dorothy Thomas mencoba meneliti fenomena ini, dimana ada penemuan2 yang sama pada waktu yang berdekatan.. Dan hasilnya: ada sekitar 148 penemuan dengan beragam tema yang mirip2, yang dihasilkan secara terpisah dalam waktu yang berdekatan..

Pernah denger istilah “Zeitgeist” ??.. Ini bahasa Jerman, yang kalo di-english-kan jadi “Spirit of The Age”, kalo bahasa sininya sebut saja “Semangat Zaman..”.. Makna sederhananya: setiap zaman merupakan “wadah” bagi para individunya untuk melakukan eksplorasi atas apapun yang tersedia pada zaman tersebut..

Bell dan Gray nggak akan jadi penemu telepon seandainya mereka lahir 50 tahun lebih awal, karena teknologi “zaman” itu belum bisa “menopang” penemuan mereka.. FB dan IG juga mungkin nggak akan setenar sekarang kalo internet “zaman”nya masih lemot dan kalo selfie2 muke kite masih belepotan pixel2 RGB..

Pesannya sih: jangan berpikir kita akan kehabisan ide untuk eksplorasi, atau menghasilkan karya kreatif.. Karena setiap zaman pasti akan menyediakan “wadah”nya..

Zeitgeist ini “beririsan” dengan kreativitas dari perspektif Tasawuf yang menjadikan Tuhan sebagai sumber kreativitas.. Tuhan selalu “menyiarkan” gelombang2Nya, dan manusia hanya bisa menjadi “antena” saja.. Menurut Wilcox (1995) dalam “Ilmu Jiwa Berjumpa Tasawuf”: bila waktu dan situasinya cocok, dengan akal kuat & batin yang terlatih, “antena” individu yang sudah siap bisa menangkap frekuensi2 tersebut.. Dan terciptalah sebuah karya kreatif..

Nyambung sama Tesla: “If you want to find secrets of the universe, think in terms of energy, frequency, and vibration..”

Cuman ya gw bingung, gimana penjelasan dan cara “tune-in” ke frekuensi-Nya..?? (@_@!).. Tapi pernyataan Wilcox cukup menghibur: “Tasawuf bukanlah penjelasan, melainkan pencarian dan penelusuran jalan menuju makna, jalan menuju keterhubungan dengan Sumber Cahaya..”

2 Comments

Leave a Reply to mbot Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s