Year: 2017

teori ah..

Belakangan ini otak gw berasa “gosong”.. Sampe2 komitmen nulis postingan seminggu sekali pun sempet gw langgar.. Mungkin gara2 emang lagi banyak kerjaan.. Atau mungkin juga karena kebanyakan baca buku2 teori untuk update materi ajar.. Di sebuah buku creative thinking, gw pernah baca, untuk bikin sesuatu yang bagus terus menerus itu emang bisa menjadi “beban” bagi otak.. Akibatnya, otak ribet, penuh informasi, tapi nggak bisa dikeluarin, persis kayak makanan mateng yang nggak diangkat2, dan akhirnya jadi gosong..!! Walau bagaimanapun, gw tetep suka banget baca2 teori sains.. Terlebih buku2 terbitan luar.. Dulu, dosen gw yang S3-nya cumlaude jebolan UI pernah bilang, kalo tulisan penyajian teori orang2 sini tuh sukanya muter2.. Hehe.. Menurut beliau, kultur orang timur untuk nulis atau berteori, memang berbeda dengan kultur atau cara pandang orang barat.. Barat itu lebih sering nggak banyak beropini dalam menyajikan teori2.. Sedangkan kultur timur biasanya lebih “seneng” untuk menambah opini.. Mungkin Itulah kenapa, kalo gw perhatiin, banyak buku2 teori sains barat, untuk satu bab saja, rujukan / referensinya bisa puluhan buku, (yes, cuma untuk satu bab !! ).. Beda …

informasi & kreativitas..

Diluar dugaan, di semester ini gw dikasi amanat untuk ngajar mata kuliah kreativitas, selain mata kuliah “langganan” yang udah biasa gw pegang.. Cukup tertantang sih, karena pastinya gw jadi buka2 buku kreativitas lagi, dan cari artikel2 baru tentang kreativitas biar tetep update.. Yang gw suka dari kreativitas, dia itu ilmu yang “fluid”, bisa ditarik ke mana2.. Dan luas banget, masih banyak menyimpan misteri serta ketidakjelasan, namun tetep asyik buat diikuti.. Karena di era sekarang, kreativitas bisa masuk dalam resep kesuksesan.. Bisa dibilang orang2 yang sukses / berhasil pastilah orang yang kreatif.. Ternyata cukup sulit meneliti kreativitas dari perspektif kognitif / proses berpikir.. Robert & Lauretta (2013) dalam “Cognition – From Memory to Creativity” menyatakan: salah satu penghalang studi kognitif kreativitas adalah subjektivitas.. Sebagian ilmuwan berpendapat kalo kreativitas sangatlah subjektif, sangat bergantung pada individunya.. Buktinya, nggak sedikit kan kreator yang kesulitan menjawab pertanyaan “Dapet ide karyanya darimana ??”.. Hehe.. Gimana mau ditelaah secara objektif kalo banyak dari objek penelitiannya udah “galau” gitu..?? Sampai sekarang pun para ilmuwan masih sulit mendefinisikan kreativitas secara lugas.. Sawyer (2012), dalam …

self-transcendence..

Dulu pas kuliah pernah dapet teori kebutuhan Abraham Maslow, tapi seinget gw, dulu itu puncak tertingginya Self-Actualization.. Kalo googling, banyak juga sih yang puncak tertinggi dari piramida kebutuhuan Maslow itu Self-Actualization.. Pas baca buku terbitan 2012, “The Psychology Book – Big ideas simply explained“, kayak kumpulan teori psikologi gitu, editor dan kontributornya banyak, ternyata masih ada satu tingkat lagi di atas Self Actualization.. Yakni Self-transcendence.. Self-transcendence merupakan kebutuhan manusia untuk “bergerak” keluar diri, dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, seperti Tuhan misalnya.. Atau melakukan sesuatu diluar ego diri, seperti membantu orang lain tanpa berpikir imbalan.. Self-transcendence ada di puncak tertinggi piramida kebutuhan.. Berarti bisa dibilang teori Maslow juga bersinggungan dengan teorinya Pierre Teilhard de Chardin (seorang filsuf sekaligus palaentologist).. Pierre menyatakan: “We are not human beings having a spiritual experience; we are spiritual beings having a human experience.” Sebagai makhluk spiritual, bisa jadi kebutuhan tertingginya adalah menjadi “terhubung” kepada penciptanya.. Di situ sepertinya kedamaian terhebat bisa didapat.. Bukan dari sesuatu yang sifatnya material, seperti harta, kuasa, narkoba, dsb.. Pernyatan Maslow …

yakin, bisa, jadi..

Sebelum tahun 1954, pada cabang olahraga lari dunia 1.500 meter, banyak orang meyakini kalo kemampuan fisik manusia nggak mungkin bisa menembus batasan waktu 4 menit.. Rekor dunianya selalu mentok di atas 4 menit.. Lantas, di bulan Mei 1954, seorang mahasiswa kedokteran sekaligus atlit yang kurang dikenal Roger Bannister berhasil memecahkan rekor 1.500 meter di bawah 4 menit.. Setelah beritanya tersebar, dalam waktu beberapa minggu, pelari Australia John Landy juga berhasil menembus batas 4 menit.. Dan dalam kurun waktu 3 tahun setelah itu, ada sekitar 17 pelari berhasil melakukan hal yang sama.. Keyakinan “batas fisik manusia lari 1.500 meter adalah 4 menit” mampu ditembus banyak orang setelah Roger Bannister berhasil mematahkan keyakinan bersama tersebut.. Pencapaian Bannister berhasil mempengaruhi keyakinan banyak pelari lain.. Ada juga ceritanya si George Dantzig, mahasiswa S2 matematika di University of California, Berkeley.. Suatu ketika Dantzig telat masuk kelas.. Saat sampai di kelas, kelasnya udah bubar, dosen dan temen2nya udah pada pulang.. Yang tersisa cuman 2 buah soal matematika di papan tulis.. Berpikir kalo itu adalah tugas yang mesti dikerjain di rumah, ia …

placebo vs nocebo..

Tau PLACEBO EFFECT ??.. Umumnya dipakai di dunia pengobatan.. Si pasien diberi obat “palsu”, seperti pil gula misalnya, lantas diberitahu si dokter, ini obat diminum supaya sembuh.. Padahal nggak ada bahan yang “nyambung” sama penyakit si pasien di obat itu.. Tapi anehnya, metode “mengelabui pikiran” si pasien ini lumayan sering berhasil.. Lisa Rankin M.D (2013), dalam “Mind Over Medicine: Scientific Proof That You Can Heal Yourself”, menyatakan 18-80% dari pengobatan ala metode “plasebo effect” sejauh ini menunjukkan keberhasilan.. Bahkan ada yang sampe bisa menurunkan tekanan darah, ngilangin kutil, dan menumbuhkan rambut..!! Metode penyembuhan dengan “mind-body power” ini ternyata punya sisi gelap, namanya NOCEBO EFFECT.. Dimana keyakinan salah yang ditanamkan pada pikiran, justru bisa membuat seseorang menjadi sakit.. Ada percobaan dengan “double-blinded clinical”, jadi si pasien diberi obat placebo, tapi dikasi tau juga kalo ada efek sampingnya.. Anehnya, 25% dari pasien merasakan efek samping tersebut meskipun yang diberikan hanya pil gula !!.. Lucunya lagi, Nocebo efek samping ini nggak menimbulkan keluhan yang random / acak dari si pasien.. Tapi selalu efek2 samping yang udah dikasi tau …