All posts tagged: radikal

virus ide..

Pernah nonton film karya Christopher Nolan: “Inception” ?? Film science fiction tentang konsep penanaman ide ke alam bawah sadar seseorang melalui mimpi yang “dalam”.. Dan si “korban” nantinya diharapkan bisa memiliki pikiran atau bersikap sesuai dengan maunya si “penanam” ide.. Di deket2 akhir film, tokoh utamanya: Cobb (Leonardo DiCaprio) menyatakan: sebuah ide itu seperti virus.. Ia bisa berkembang pesat di dalam pikiran seseorang.. Masalah ide tersebut destruktif atau konstruktif, itu adalah perkara yang berbeda.. Cobb juga menyatakan; sebagaimana virus pada umumnya, tentu butuh syarat2 tertentu supaya bisa berkembang dengan cepat.. Menurut Cobb, syarat paling utamanya: si ide harus sesederhana mungkin, supaya gampang untuk dipahami.. Dan syarat kedua yang nggak kalah penting; pikiran si orangnya harus menerimanya sebagai sesuatu yang logis.. Kalau kedua syarat itu terpenuhi, si ide bisa berkembang menjadi apa saja, bahkan mungkin menjadi realitas subjektif bagi orang tersebut.. Okay, itu dari film loh ya.. Tapi kok rasa2nya beneran bisa kejadian di dunia nyata ya.. Para “guru2” radikal sangat menyederhanakan ajaran agama, melihat hanya dari satu sudut pandang, ataupun menggunakan pemikiran2 yang sudah “usang”.. …

teroris radikal..

Sempat ada pejabat yang bilang, kalo radikal itu penyebabnya adalah kesenjangan sosial.. Gw sih nggak setuju.. Tuhan ngasi rejeki dengan Adil, siapa berupaya banyak, dia yang dapat banyak.. Seseorang nggak akan mendapatkan selain apa2 yang telah dia usahakan [QS.53:39].. “Menuduh” kesenjangan sosial sebagai penyebab radikal, ibarat orang yang gagal memanajemeni rasa iri di dalam dirinya, lantas seenaknya menyalahkan sesuatu di luar dirinya.. Wong dirinya sendiri yang memang kurang, kenapa jadi berang ke banyak orang ??.. Banyak kok di sekitar gw orang2 yang hidupnya kurang beruntung, namun jauh dari ke-radikal-an, yang notabene bisa menjadi bibit dari terorisme.. Apa para teroris itu punya kelainan mental ?? Paul Gill, PhD, dan Emily Corner, dalam “There and Back Again: The Study of Mental Disorder and Terrorist Involvement,” selama 10 tahun lebih meneliti hubungan antara kelainan mental dan keterlibatan teroris.. Kesimpulannnya, secara mental mereka “baik2 saja”, nggak ada yang aneh, dan cenderung sama dengan orang2 normal.. Jadi, nggak ada satu kelainan mental tertentu yang dianggap bisa menjadi cikal bakal seseorang menjadi teroris.. Untuk radikalisme, gw lebih suka “menyalahkan” gagalnya akal …

imun kontra..

Prof. Leon Festinger menyatakan, seseorang hidup di dunia ini pasti membangun urutan2, dan kata kunci untuk membangun urutan2 tersebut adalah konsistensi.. Dengan konsistensi itulah manusia membangun rutinitas dan kebiasaan: seperti jam makan & jam tidur, memilih tempat duduk favorit di sarana transportasi, termasuk menjadikan sebuah makanan menjadi favoritnya.. Dan kalo konsitensi ini terganggu, maka akan terjadi ketidak nyamanan.. Ternyata kognisi seseorang pun dibentuk dengan cara seperti itu.. Ada pola2 pikir yang akhirnya menjadi kebiasaan atau keyakinan.. Dan bila ada sesuatu yang kontradiksi dengan pikirannya atau keyakinannya sendiri, maka akan timbul perasaan nggak nyaman.. Kondisi kayak begitulah yang Festinger (1960) sebut dengan “Cognitive Dissonance”.. Contoh situasi kognisi nggak nyaman: Tau kalo youtube-an terus itu menghambat pekerjaan tapi tetep youtube-an; patah hati tapi tetep berpikir akan baik2 saja; atau tau kalo merokok itu buruk tapi tetep merokok.. Ketidak nyamanan ini bisa dihilangkan dengan cara2 berikut: (1) Mengurangi derajat kepentingan yang kontra (kerjaan ntar aja, mumpung wifi kantor kenceng & gratis, – youtube-an lebih penting..), (2) Menambah keyakinan2 baru (biarin gw ditolak, nanti dia pasti nyesel..), atau : (3) …