All posts tagged: optimis

untung sial..

Belum lama, ada mahasiswa yang tanya ke gw.. Ngaruh nggak sih, dulu mas itu pernah kuliah akuntansi dulu untuk jadi seorang entrepreneur desain grafis..?? Yah jujur aja, setelah lulus, ilmu akunting gw nggak kepake, bahkan melegalisir ijazahnya pun gw lakukan kurang lebih 8 tahun kemudian, dan hanya untuk melengkapi persyaratan masuk kuliah S2.. Sekarang ini, gw sepenuhnya lupa cara bikin laporan rugi laba, neraca, dan sejenisnya.. Kalo pertanyaannya ada pengaruh atau nggak, jawabannya adalah ada.. Namun bukan secara keilmuan, tapi secara pembentukan cara gw berpikir.. Itung2an adalah “makanan” otak kiri.. Mungkin gara2 itulah otak gw jadi nggak terlalu “kekanan-kananan”.. Ujungnya, gw jadi bisa mikir secara runut, sistematis, dan logis nyusun sebab akibat.. Gw pikir, hal2 begini cukup diperlukan untuk membangun sebuah perusahaan desain, dan bukan semata kemampuan artistik.. “Salah jurusan nih, apes dah 4 taon kebuang..”.. Dulu sempat juga berpikir begitu, tapi akhirnya gw revisi..  Seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang nggak kita mengerti.. Terkadang yang kita anggap apes, eh pada akhirnya ternyata adalah keberuntungan.. Atau bisa sebaliknya.. Ada cerita, seorang pedagang sedang melakukan perjalanan …

yakin, bisa, jadi..

Sebelum tahun 1954, pada cabang olahraga lari dunia 1.500 meter, banyak orang meyakini kalo kemampuan fisik manusia nggak mungkin bisa menembus batasan waktu 4 menit.. Rekor dunianya selalu mentok di atas 4 menit.. Lantas, di bulan Mei 1954, seorang mahasiswa kedokteran sekaligus atlit yang kurang dikenal Roger Bannister berhasil memecahkan rekor 1.500 meter di bawah 4 menit.. Setelah beritanya tersebar, dalam waktu beberapa minggu, pelari Australia John Landy juga berhasil menembus batas 4 menit.. Dan dalam kurun waktu 3 tahun setelah itu, ada sekitar 17 pelari berhasil melakukan hal yang sama.. Keyakinan “batas fisik manusia lari 1.500 meter adalah 4 menit” mampu ditembus banyak orang setelah Roger Bannister berhasil mematahkan keyakinan bersama tersebut.. Pencapaian Bannister berhasil mempengaruhi keyakinan banyak pelari lain.. Ada juga ceritanya si George Dantzig, mahasiswa S2 matematika di University of California, Berkeley.. Suatu ketika Dantzig telat masuk kelas.. Saat sampai di kelas, kelasnya udah bubar, dosen dan temen2nya udah pada pulang.. Yang tersisa cuman 2 buah soal matematika di papan tulis.. Berpikir kalo itu adalah tugas yang mesti dikerjain di rumah, ia …

optimis antagonis..

Dalam perjalanan gw ngebangun bisnis, gw melalui proses “peremehan impian” dari sejumlah orang yang gw temui… Dari dulu, gw selalu berusaha menjadikan cemoohan, sikap merendahkan, penghinaan, pesimisme yang ditujukan kepada gw sebagai bahan bakar yang bisa bikin gw “panas”.. Dimarahin ibu2 di sebuah TK “elite” saat jualan kaos, terus tuh ibu2 langsung keluar ruangan dengan muka asem.. Diketawain orang digital printing saat gw ngeprint file dengan kualitas lowres (karena saat itu gw cuman punya floppy disc yang kecil, flash disk waktu itu belum ada..).. Sampe ditatap dengan tatapan yang “aneh” karena kantong mata item, badan kurus, yang mungkin yang model begitu gak ada potongan jadi orang kaya.. hihihi.. Untungnya gw tetep optimis aje.. Kalo gw masukin ati tuh omongan, bisa ngedrop dah guwa… Gw suka dengan istilah “Beginner’s Luck”.. Dimana para pemula biasanya memulai dengan “polos”, tanpa banyak pertimbangan mengenai resiko dan embel2 lainnya.. Karena dulu itu ilmunya cuman sedikit, jadi yang lebih banyak dilakukan itu yah mencoba dengan ilmu yang sedikit itu.. Ada benernya juga itu kalo keberuntungan lebih berpihak kepada yang kurang pandai …

optimis membawa berkah

Description:OPTIMIS PRIME dunk ah… Ingredients:copas dari sene neh… http://jopiesihebadnih.blogspot.com/2009/08/berkahnya-menjadi-orang-optimis.html Directions:Menjadi optimistis dapat secara mencolok mengurangi kemungkinan serangan sakit jantung atau bahkan kematian, demikian hasil satu studi baru yang dikutip laporan media, Selasa (11/8). Studi tersebut, yang dilakukan oleh beberapa peneliti dari University of Pittsburgh, mendapati orang yang gembira dan memiliki harapan cenderung berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang menjalani hidup dengan pandangan yang lebih suram. Studi itu telah melacak lebih dari 97.000 perempuan Amerika yang telah memasuki masa menopause selama lebih dari delapan tahun, studi terbesar sampai saat ini mengenai dampak berpikir positif pada kesehatan. Semua perempuan yang ikut dalam studi tersebut menyelesaikan berbagai survei saat memasuki studi guna menilai tingkat optimisme mereka dantingkat sinisme serta permusuhan secara umum. Setelah mengikuti perkembangan mereka selama delapan tahun, dibandingkan dengan orang pesimistis, “Orang yang optimistis memiliki resiko 9% lebih rendah terhadap serangan sakit jantung dan 14% lebih rendah terhadap kemungkinan kematian,” kata Dr. Hilary A. Tindle, ahli penyakit dalam di University of Pittsburgh Medical Center dan penulis utama laporan mengenai studi tersebut. Meskipun …