All posts tagged: mikir

knowing is not a product..

Sepertinya masih banyak yang merasa kalo “udah tau” itu adalah hal yang final atau hasil akhir..  Cobalah kemukakan hal ini pada Jerome Bruner, ia pasti tidak sependapat.. Bruner adalah seorang Ph.D psikologi jebolan Harvard, sekaligus salah seorang pendiri Center for Cognitive Study di Harvard.. Dalam sebuah karyanya “Studies in Cognitive Growth” (1966), ia menyatakan “Knowing is not a product..” Menurutnya, seseorang bisa bener2 tahu akan sesuatu, jika dia bisa membangun makna dari informasi yang diterimanya, melalui penggunaan alasan2 atau “reasoning” (seperti kenapa bisa begini kenapa bisa begitu).. Nah, kondisi kayak gitu adalah bentuk dari sebuah “information processing”, dan bukan sebuah bentuk produk yang sifatnya final.. Maka Bruner berkesimpulan: “KNOWING IS A PROCESS, NOT A PRODUCT..” Banyak dari kita (termasuk gw juga) merasa, kalo sekedar tahu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup oke.. Padahal kalo merujuk pada teori Bruner, kondsi kayak gitu hanya bagian dari sebuah proses, bukan hasil akhir.. Tanpa berpikir reasonable, mengkonstruksi makna, terlalu naif bila hanya berhenti pada tahap TAHU saja.. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa ada orang2 yang tahu ayat Qur’an, …

otakku pemalas..

Pernah ngalamin kayak begini ??.. Lagi asyik2 kerja atau “on-fire”, tauk2 keganggu notif dari messenger, fesbuk, atau email promo situs belanja online.. Lantas jadi “terjebak”, konsentrasi jadi berubah, dan akhirnya justru malah jadi asyik menindak lanjuti notif2 tersebut.. Daann, tauk2 udah jam pulang kantor.. hehe.. Kalo dari sebuah referensi, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk reaktif.. Dia akan mudah bereaksi terhadap apapun yang mengusiknya.. Serajin atau semales apapun seseorang, sebenarnya organ yang ada di kepalanya, alias otaknya, tetaplah males.. Yes, otak memang diciptakan kayak begitu supaya bisa menghemat energinya seefisien mungkin.. Otak manusia memang canggih, punya kemampuan super hebat, meski dengan energi kurang dari 13 watt..!! Nah, yang jadi masalah, sebuah studi juga menyimpulkan kalo otak manusia itu lebih suka bereaksi terhadap hal2 yang mudah.. Pakar kreativitas Mihaly Csikszentmihalyi menyatakan kalo kita sejatinya lebih kuat bereaksi / tertarik kuat banget pada hal2 yang gampang, nyaman, dan udah jadi kebiasaan.. Dan untuk bisa melawan / melampaui kondisi tersebut bukanlah hal yang mudah.. Kenapa kok cuma “bereaksi” bisa jadi masalah ??.. Karena kalo dipikirin lebih dalam, tindakan dengan …

kontekstual donk..

Kemaren ngobrol sama calon klien, ngomongin soal konteks (bisa berupa lingkungan, keadaan, budaya, waktu, zaman, dan sejenisnya..).. Lantas di kepala gw jadi muncul pertanyaan: sebenernya gimana sih hubungan konten dan konteks.?? Banyak definisi konteks, diantaranya, menurut Deddy Mulyana (2005) dalam “Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar”, konteks merupakan sebab / alasan terjadinya suatu pembicaraan, dan menjadi sangat berperan dalam pemahaman makna serta informasi.. Terkait dengan konteks, Barnett dkk (2005) juga mengembangkan sebuah teori yang namanya Coordinated Management of Meaning (CMM).. Salah satu konsep dari teori tersebut menyatakan bahwa konteks menjadi titik acuan dari pemaknaan dan tindakan seseorang.. Menurut Mellisa (2009) dalam ‘The Fundamental of Branding’, “bekerjanya” sebuah konten, sangat bergantung pada konteks.. Contohnya, strategi komunikasi brand gadget yang canggih banget (konten), sangat tidak bisa “bekerja” di sebuah tempat yang masih ‘primitif’ yang bahkan handphone saja orang jarang liat (konteks).. Bisa dibilang, sampainya makna konten dengan tepat pada user, bergantung pada konteksnya.. So, untuk memahami konten teks sebenar2nya, harus turut memperhatikan konteks.. Karena kalau nggak, akan bisa jadi aneh, nggak cocok atau janggal.. Contoh sederhananya bisa dari kasus …

lensa persepsi..

Seseorang selalu memandang dunia ini dengan persepsi.. Di banyak referensi disebutkan, persepsi seseorang bersifat subjektif.. Analogi paling sederhananya dari teori ini: persepsi ibarat jenis lensa kamera DSLR.. Tau jenis lensa kamera kan ??.. Ada yang fish eye, macro, tele, wide, dsb.. Penggunaan lensa yang berbeda untuk sebuah objek yang sama, akan menghasilkan gambar yang berbeda.. Misal objeknya adalah kucing.. Coba ambil foto si kucing dengan lensa fish eye, si kucing akan keliatan kembung membulet.. Kalau pakai tele, bisa jadi hasil foto si kucing cuman kupingnya doang karena efek zoomnya.. Padahal objeknya tetep sama: kucing.. Intinya, penggunaan jenis lensa bisa “mengambil” hasil akhir yang berbeda, meskipun objeknya sama.. Dengan teori ini, sangat logis kenapa haters selalu mengambil kesimpulan yang berbeda dibandingkan “lovers”.. Taroklah objeknya misalnya Jokowi.. Apapun yang dilakukannya akan disimpulkan sebagai kesalahan dengan lensa (baca: persepsi) kebenciannya.. Sedangkan “lovers”, atau “netralers”, umumnya akan mengambil kesimpulan yang berbeda, bahkan bisa bertolak belakang dengan haters.. Karena mereka melihatnya dengan lensa cinta atau netral.. Persepsi ini bisa terbentuk dari pelajaran seseorang bertahun2.. Gw setuju dengan Arifin, MBA (2012) …

mikir jadi ada..

Suka aneh sama mereka yang share tanpa berpikir.. Yang mereka lakukan itu hanya menambah “keberadaan” si penulis hoax.. Yah, kalo secara tersirat, si tukang “share” fitnah atau hoax ini bisa dibilang “nggak ada”.. Toh kalo pun ada, nggak jarang kan langsung kita “unfriend”, terus jadi nggak ada deh.. Hehe.. Teringat kalimat “Corgito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada, begitu kata Descartes, filsuf ternama dari Perancis.. Descartes, sebagaimana filsuf lainnya, ingin mencari kebenaran.. Menurutnya, meragukan semua hal (termasuk meragukan diri sendiri) bisa menjadi cara untuk menemukan kebenaran, dan bisa membersihkan dirinya dari prasangka2 yang menuntunnya ke jalan yang salah.. Descartes juga beranggapan, bisa saja berpikir tidak membawanya menuju kebenaran, tapi malah ke kesalahan.. Mungkin saja ada kekuatan besar lain di luar dirinya yang mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.. Tapi meskipun begitu, ia TETAPLAH BERPIKIR, inilah satu2nya yang sudah jelas.. Maka kalau dilepas dari aspek kesalahan atau kebenaran, BERPIKIR sendiri adalah sebuah bentuk keberadaan diri, lantas singkatnya, sampailah ia pada kesimpulan “Corgito ergo sum”.. Jadi nyambung sama paragraf awal postingan.. Kalo para tukang share nggak …