ulama dan atau ahli ilmu..
Berkat pemilu ini gw jadi bisa sedikit menyimpulkan, banyak orang sini yang menafikan sains, atau ilmu pengetahuan.. Lebih percaya kepada perkataan para ulama atau pimpinan agama / kelompoknya ketimbang percaya pada penelitian ilmiah, lebih memilih condong pada opini ketimbang fakta.. Setau gw sih ilmu statistik itu nggak gampang dan sembarangan.. Penelitian kuantitatif itu objektif, karena memang “mengolah” angka / data yang aktual ada di lapangan.. Tapi di jaman sekarang pun gw masih pernah baca & “ngadepin” sendiri koq bantahan kolot terhadap penelitian2 sains: “Itu ilmunya orang kafir..!!”.. Jadi jangan percaya sama yang begituan.. Hadeehh..(T_T!).. Kalo gw pribadi nggak mungkin meremehkan hal2 yang begitu.. Karena apa ?? Karena pas gw nguli S2, gw udah ngerasain sendiri mata kuliah metode penelitian selama satu semester.. Dan itu udah cukup bikin gw pusing.. Kalo diizinkan, gw akan angkat topi, angkat jempol, angkat cangkir, meja, komputer dan semua barang yang ada di kelas untuk menunjukkan betapa salutnya gw sama pakar penelitian ilmiah.. Hehehe.. Pengertian ulama di Indonesia sini memang sudah bergeser / terdistorsi.. Kata “ulama” disini lebih identik dengan orang2 …




