All posts tagged: critical thinking

knowing is not a product..

Sepertinya masih banyak yang merasa kalo “udah tau” itu adalah hal yang final atau hasil akhir..  Cobalah kemukakan hal ini pada Jerome Bruner, ia pasti tidak sependapat.. Bruner adalah seorang Ph.D psikologi jebolan Harvard, sekaligus salah seorang pendiri Center for Cognitive Study di Harvard.. Dalam sebuah karyanya “Studies in Cognitive Growth” (1966), ia menyatakan “Knowing is not a product..” Menurutnya, seseorang bisa bener2 tahu akan sesuatu, jika dia bisa membangun makna dari informasi yang diterimanya, melalui penggunaan alasan2 atau “reasoning” (seperti kenapa bisa begini kenapa bisa begitu).. Nah, kondisi kayak gitu adalah bentuk dari sebuah “information processing”, dan bukan sebuah bentuk produk yang sifatnya final.. Maka Bruner berkesimpulan: “KNOWING IS A PROCESS, NOT A PRODUCT..” Banyak dari kita (termasuk gw juga) merasa, kalo sekedar tahu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup oke.. Padahal kalo merujuk pada teori Bruner, kondsi kayak gitu hanya bagian dari sebuah proses, bukan hasil akhir.. Tanpa berpikir reasonable, mengkonstruksi makna, terlalu naif bila hanya berhenti pada tahap TAHU saja.. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa ada orang2 yang tahu ayat Qur’an, …

diri merdeka persepsi Hamka..

Persepsi bisa jadi salah satu resep sukses seseorang.. Melihat suatu hal secara optimis atau pesimis, kalau disadari mendalam, juga merupakan dua buah lensa / persepsi yang bisa dipilih.. Kalo liat banyak orang sukses, umumnya mereka punya lensa2 unik yang dia kumpulkan dari banyak sumber & pengalaman, sekaligus mampu menggunakannya di momen2 yang tepat.. Pakar kreativitas Edward de Bono dan psikolog Harvard, David perkins melihat persepsi sebagai bagian terpenting dalam berpikir.. Studi Perkins menyimpulkan, 90% kesalahan berpikir terjadi karena kesalahan persepsi.. Tidak peduli sebagus apapun logika seseorang, kalau persepsinya salah, maka; opini, kesimpulan, atau solusi akhirnya juga akan salah.. Nggak jarang kan kita melihat logika2 aneh yg bersumber dari persepsi yg aneh juga dari para haters.. Mulai dari berita yang dipelintir, teroris jadi syuhada, ulama hebat difitnah, korupsi nggak papa kalo niatnya baik, do’a dicampur kritik, dan lain sebagainya.. Di mata mereka yang menggunakan lensa / persepsi normal, sebagus apapun logika yg disusun untuk membangun kesimpulan model begitu, tetep aja jadi aneh, dan nggak jarang malah jadi bahan tertawaan.. hehe.. Haters melihat dengan lensa kebencian.. Dan …

lensa persepsi..

Seseorang selalu memandang dunia ini dengan persepsi.. Di banyak referensi disebutkan, persepsi seseorang bersifat subjektif.. Analogi paling sederhananya dari teori ini: persepsi ibarat jenis lensa kamera DSLR.. Tau jenis lensa kamera kan ??.. Ada yang fish eye, macro, tele, wide, dsb.. Penggunaan lensa yang berbeda untuk sebuah objek yang sama, akan menghasilkan gambar yang berbeda.. Misal objeknya adalah kucing.. Coba ambil foto si kucing dengan lensa fish eye, si kucing akan keliatan kembung membulet.. Kalau pakai tele, bisa jadi hasil foto si kucing cuman kupingnya doang karena efek zoomnya.. Padahal objeknya tetep sama: kucing.. Intinya, penggunaan jenis lensa bisa “mengambil” hasil akhir yang berbeda, meskipun objeknya sama.. Dengan teori ini, sangat logis kenapa haters selalu mengambil kesimpulan yang berbeda dibandingkan “lovers”.. Taroklah objeknya misalnya Jokowi.. Apapun yang dilakukannya akan disimpulkan sebagai kesalahan dengan lensa (baca: persepsi) kebenciannya.. Sedangkan “lovers”, atau “netralers”, umumnya akan mengambil kesimpulan yang berbeda, bahkan bisa bertolak belakang dengan haters.. Karena mereka melihatnya dengan lensa cinta atau netral.. Persepsi ini bisa terbentuk dari pelajaran seseorang bertahun2.. Gw setuju dengan Arifin, MBA (2012) …

kritis berubah…

Dulu pernah pas gw sholat taraweh di mesjid komplek gw, ustad yang diundang utk ngisi ceramah berhalangan hadir.. Kemudian bapak2 di komplek gw yg ada di barisan paling depan saling mempersilahkan untuk jadi pengganti mengisi ceramah.. Kemudian salah satu bapak nyeletuk: “Hayo siapa aja lah, wong ceramahnya normatif koq..” Di beberapa kamus normatif itu bisa diartikan baku, standar.. Malah kalo di google terkait dengan kata “basic” atau dasar.. Kalo boleh jujur dan terus terang, gw lebih sering merasa “bosan” dengerin ceramah sholat taraweh atau sholat jum’at yang kesannya koq topiknya hampir2 sama / standar terus dan terkesan kurang berkembang secara signifikan.. Mungkin ini di mesjid komplek gw doang kali yaa.. Atau mungkin gwnya juga yang salah, karena punya rasa kepo yang kelewatan, hehehe.. Atau gwnya juga udah kadung menginginkan yang “lebih”.. Lagian kan nggak salah juga normatif untuk mengingatkan ??.. Mana tau ada juga yang belum tau… Tapi gw pikir, ini bisa ada benang merahnya dengan lambatnya perkembangan atau perubahan umat sekarang.. Dari postingan blog gw yang kemaren, ada yang ngeshare di FB, kemudian ada …