All posts filed under: think sotoy

(Me:) & (Di:) maafkan..

Bermaaf-maafan memang bisa dilakukan kapan saja.. Sebagaimana puasa, yang salah satu esensinya adalah “menahan”, sebenarnya juga bisa dilakukan kapan saja.. Kita menahan tidak mengambil hak orang lain, menahan tidak tergoda orang lain selain pasangan resmi, menahan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, atau bahkan menahan keinginan membeli game baru yang sangat diinginkan.. Hyaha.. 1 Syawal menjadi hari yang seakan spesial untuk maaf2an, setelah melalui bulan yang sifatnya spiritual, plus lagi setelah menang “menahan” setan di dalam diri masing2.. Seakan kesalahan siapa pun bisa dihapuskan di saat istimewa tersebut.. Euh, meski nggak semua sih.. hehe.. Ada yang bener2 “melepas” kembali setan2nya dengan menyebar berita hoax nan bohong bin fitnah.. Tapi apapun yang mereka lakukan, mungkin memang sebaiknya kita ini memaafkan juga.. Menurut psikolog Michael McCullough & Giacomo Bono dari Univ. Miami, memaafkan adalah bentuk bersyukur dan tanggapan positif terhadap kesulitan.. Yaa, bukankah kalo kita dikecewakan, disakiti, atau di “enggak enak-i” itu sebuah bentuk kesulitan ??.. Lantas, bukankah semua yang sampai di depan atau terjadi pada kita ini sebenarnya sudah melalui “approval” Tuhan ??.. Berhasil memaafkan …

bintang yang jatuh..

Tahu Bernard Loiseau ??.. Dia ini seorang chef terbaik di zamannya.. Punya beberapa restoran terbaik di Paris, menerbitkan beberapa buku masak, dan memproduksi merk makanan beku sendiri.. Restoran2 miliknya dirating tinggi oleh banyak buku & majalah.. Buku panduan restoran terkemuka di Eropa yang “pelit nilai” Guide Michelin pun, memberikan 3 bintang pada salah satu restorannya.. 3 bintang dari Guide Michelin adalah barang langka.. Namun di puncak masa jayanya (tahun 2003), si Bernard malah bunuh diri.. Aneh ya ??.. Sebelum lanjut cerita Chef yang aneh itu, simak dulu cerita si profesor berikut ini.. Namanya Carol Dweck.. Dia ini seorang profesor psikologi dari Stanford University yang penasaran mengenai mindset.. Berdasarkan beberapa studinya, ia menyatakan bahwa ada dua tipe mindset: yakni fixed mindset, dan growth mindset.. Dalam suatu studinya ia membuat pertanyaan2 pada mahasiswa2 yang baru masuk kuliah bahasa Inggris di Hong Kong.. Ia melalui pihak fakultas menawarkan kursus tambahan peningkatan kemampuan untuk mahasiswa2 baru yang dinilai kurang fasih berbahasa inggris.. Sebelumnya “calon2” yang akan ikutan kelas tersebut diberikan sejumlah pertanyaan.. Dengan menjawab setuju atau tidak, dari sekian …

baca jadi “sakti”..

Gw lebih mudah terkagum2 sama ustadz yang nggak hanya paham ilmu agama saja, tapi juga nguasain ilmu pengetahuan umum yang lain.. Entah itu fisika nuklir (Agus Mustofa), filsafat atau sastra (Buya Hamka), seni, budaya, psikologi, atau ilmu2 pengetahuan lainnya.. Buat gw orang2 seperti inilah yang sudah membaca ayat2 Alloh dalam 2 wujud.. Pertama, wujud ayat yg tertulis di Qur’an, dan kedua, ayat2 Alloh yang “berwujud” di alam semesta.. Di mata gw, mereka itulah yang sebenar2nya ulama.. Kalo gw perhatikan, mereka2 ini bisa lebih bijak, lebih mendamaikan, lebih praktis, lebih merdeka berpikir, dan nggak neko2.. Mungkin karena mereka dengan akal pikir maksimalnya sudah berhasil menarik banyak “benang merah” antara ayat2 Alloh dari kedua wujud di atas.. Mereka nggak mudah tersinggung kalo dikomentari atau dilabeli apapun.. Terkesan mendalami kedua wujud ayat2 Alloh itu jauh lebih menarik ketimbang meladeni tanggapan2 yang nggak penting.. Karena mau setuju atau nggak sama pemikiran mereka, ya terserah masing2 aja.. Ada satu ulama yang gw tau sendiri rumahnya, pernah masuk ke dalam sana, meski saat itu beliau sudah almarhum.. Sejumlah buku pernah ditulisnya.. …

menanam proses..

Gw seringkali ngerasa heran dengan banyak klien di sini.. Semenjak jadi freelancer sampe punya perusahaan kayak sekarang, nggak sedikit klien yang minta desain dengan kecepataan sim salabim.. Wuushh, tring2, jadi..!! Sepertinya kok sulit untuk paham itu yang namanya PROSES.. Yang lebih aneh, terkadang desain minta jadi cepet, tapi briefnya nggak jelas, malah materi belum mateng pun diminta mulai didesain.. Hyaha.. Bisa ditebak, desainnya jadi, materi berubah, desainnya otomatis mesti berubah juga.. Udah gitu, hehehe, mintanya cepet, lebih cepat dari kecepatan cahaya.. Kata proses seakan diabaikan.. Dan seringkali mereka2 itu ngomongnya enak sekali: “Kan cuman ngerubah gitu doang..”.. AAAWWWW..!! Tolong ubah aku jadi Ultraman saja..!! Karena sering ketemu orang2 model gitu, gw jadi agak2 sedikit berkesimpulan kok ya banyak yang nggak paham soal proses di negeri ini.. Maunya cepet langsung jadi.. Pengen berubah, namun tanpa memperhatikan proses.. Awal presiden baru terpilih dulu pun sempet rame kan meme yang ngomong: berubah jadi sarjana aja perlu 4 tahun, mosok pengen ngerubah negara dalam waktu kurang dari satu semester ??.. Kalo versi Wikipedia, Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian …

bosan & manipulator..

Masih sedikit nyambung sama postingan kemaren tentang kebosanan.. Ternyata salah satu penyebab kebosanan itu bisa juga perhatian yang termanipulasi / manipulation of attention.. Maksudnya, kita bisa mendadak menjadi merasa bosan melakukan sesuatu karena perhatian kita “termanipulasi” oleh aktivitas yang lain.. Contohnya, seseorang sedang membaca buku di kos2an.. Taroklah sudah 15 menit ia asyik baca buku.. Lantas ia mendengar suara game Street Fighter V di kamar sebelah yang sedang dimainkan oleh temennya.. Kondisi kayak gini ternyata bisa membuat orang tersebut mendadak jadi bosan membaca buku.. Ia menjadi “termanipulasi” untuk berpikir bosan baca buku, atau bisa juga berpikir maen game bisa jadi lebih asyik ketimbang baca buku di saat itu.. Studi jenis ini pernah dilakukan oleh Damrad & Laird (1989), dalam “The experience of boredom: The role of the self-perception of attention..” Namun bukan tanpa kritisi, karena sulit untuk mengukur tingkat / derajat perhatian, maupun kebosanan seseorang.. Seringkali kita bingung tingkat bosan kita ini akut apa nggak, masih bisa dibawa ke pemicu tindakan positif atau nggak ??.. Demikian juga untuk parameter tingkat perhatian, masalahnya sama, gimana ngukurnya …