All posts filed under: think sotoy

[arti] pekerjaan

“Kalo kerja hanya sekedar bekerja, kerbau di sawah juga bekerja..”.. Tau quotes Buya Hamka yang ini ?? Gw seneng narik benang merahnya ke pemahaman “arti” dari pekerjaan.. Penelitian mengenai “arti” dari pekerjaan pernah dilakukan oleh Dan Ariely dkk (2010), dalam “Upside of Irrationality”.. Sekelompok mahasiswa diberikan balok2 Lego Bionicle (Lego robot).. Mereka diminta untuk bikin robot Lego sesuai manualnya.. Untuk robot pertama yang selesai, mereka dibayar $2.. Mereka boleh membuat robot kedua, ketiga, dan seterusnya, namun dengan bayaran yang makin kecil (dikurangin 11 sen per robot..).. Waktunya, terserah mereka kapan mau udahan, dan mereka boleh membuat robot sebanyak mungkin sesuai keinginan masing2.. Nah, tanpa sepengetahuan para partisipan, Ariely membagi mereka menjadi 2 kelompok.. Pada kelompok pertama, setiap robot2 yang sudah jadi akan ditarok di dalam kotak, dan disimpan.. Nah, pada kelompok kedua, saat mereka selesai dengan robot pertama, dan memulai membangun robot kedua, robot pertama akan dibongkar oleh seorang asisten di depan mata mereka.. Perbedaan yang kecil sih, yang satu disimpan, dan yang satu lagi dibongkar, tepat di depan mata kepala mereka sendiri.. Dengan aturan …

diri asing..

Dari doyan baca komik, terus saat kuliah, kesukaan baca gw “meluas” ke buku2 yang kesannya lebih berat.. Mungkin karena dipicu umur, pertanyaan2 tentang “diri” dan hidup ini jadi semakin banyak.. Jadi rasanya butuh role model orang2 besar, atau orang2 yang udah “jadi”, untuk lebih tau gimana itu “hidup” dari perspektif mereka.. Sejumlah orang yang pernah “tenar” di sini, buku2nya ya turut sempet gw lahap.. Kayak Arie Ginanjar, Amien Rais, Mario Teguh, Felix Siaw, Aa’ Gym, Yusuf Mansur, Buya Hamka, Quraish Shihab, dll.. Terus kalo yang orang “non-sini”nya, dulu gw suka banget sama Confucius, buku2 Kebijakan Cina yang dikomikin, Budha, Zen, dll.. Ada yang sampai saat ini tetep gw kagumi, karena konsistensi tulisan dan perbuatan mereka.. Dan ada juga yang tidak.. Berkat medsos, tindak-tanduk mereka jadi mudah sekali dipantau.. Yang lari ke politik apalagi, seringkali tau2 jadi “auto-aneh”.. Hehe.. Tetep sih, buat gw nggak ada orang yang bisa bener 100%, dan salah 100%.. Ada tulisan2 mereka yang gw anggap “ini cocok buat gw”, dan ada juga yang “nggak cocok”.. Pakai ilmunya Bruce Lee: “Absorb what is …

koar kasar..

Belum lama ini, gw ngobrol2 pagi sama seseorang.. Ntah gimana, tau2 dia cerita soal khutbah Jum’at yang sekarang kok banyak yang isinya politik.. Malah di daerah pemukiman dia, katanya sempet ada yang sampe diteriakin sama jama’ahnya dari luar: “Woi politik woi !!”.. Dan si khotib kata dia sih cuek2 ajah.. Obrolan pun berlanjut ke soal penceramah2 atau apapun lah namanya, yang doyan caci maki, mencela, berkata2 kasar, dan pesimisme tidak berdasarkan fakta.. Yah, dua minggu yang lalu pun pas gw Jum’atan, gw masih inget juga itu khotbahnya “maen” politik.. Omongannya juga “ngelantur”.. Adzan dilarang lah, lama2 nanti nggak ada adzan di Indonesia, terus jelek2in ini itu, dan sejenisnya.. (@_@!) Gw bukan ustad, hanya orang awam.. Tapi paling nggak dari baca2, gw ngarti dah kalo “congor” kite nih sebaiknya dihindari untuk ngomong2 negatif.. Terlebih dari atas mimbar.. Sebagai orang awam pun gw heran, kenapa ada orang yang dijuluki ustad atau habib atau ulama atau apapun lah sebutannya, tapi mulutnya koq ngeluarin yang jelek2.. Bahkan mendo’akan yang buruk2 pula ke orang lain, meskipun sesama muslim.. Yang dukung …

pelajaran utama..

Terakhir reunian sama temen2 kuliah S1, ada temen deket yang ngomong gini: “Kalo lu bisa jadi pengusaha, gw kebayang sih Gie, tapi kalo lu bisa jadi dosen, itu gw nggak kebayang sama sekali..!!” Gwakakak.. Lah guwe-nya sendiri juga bingung koq.. Mungkin karena dari dulu sukanya komik, maen game, dan hal2 konyol lain.. Sampe sekarang pun rasa2nya masih begitu.. Liat aja Quote2 Su’oD, jauh dari kesan serius.. Atau di tiap postingan, tulisan gaya bahasa verbal, suka2 tanpa mikirin tata bahasa, bahkan pake’ “elu guwe”.. Berasa nggak dosen banget.. Setelah mengalami sendiri jadi siswa, mahasiswa, kemudian menjadi pengajar, gw semakin menyadari satu hal: Sejatinya BUKAN GURU YANG MEMILIH MURID, tapi murid yang memilih guru.. Persis seperti kisah2 kungfu klasik, para murid lah yang mencari & memilih sendiri gurunya, yang dinilai pantas bagi dirinya.. Si guru sendiri seringkali diceritakan “datar” atau acuh.. Yaah, memang begitulah orang bijak hebat yang sebenarnya.. Seringkali merasa biasa saja, tidak merasa bijak, bahkan seringkali merasa tidak pantas untuk punya murid “formal”.. Gw memang dosen bagi semua mahasiswa yang pernah gw ajar, tapi apakah …

sinergis-iqra’..

Otak bekerja secara sinergis.. Jadi apa2 yang masuk ke otak, akan “bersinggungan” dengan apa yang sudah kita ketahui selama ini.. Kaitannya sama mendapatkan ide gimana ??.. Untuk pencetusan ide, gw paling suka dengan analogi kelereng.. Ibaratnya, isi otak kita adalah kelereng2 listrik, dan masing2 butir kelereng merupakan satu informasi/pengetahuan yang sudah kita ketahui.. Saat ada informasi baru masuk, maka satu butir kelereng baru pun masuk.. Apa yang terjadi saat otak seseorang PENUH dengan kelereng, lantas dimasukkan satu atau lebih kelereng lagi ??.. Kelereng baru tersebut akan menggeser kelereng2 lain, dan menyebabkan kelereng2 yang sudah ada saling beradu / bersinggungan satu sama lain.. Nah, saat kelereng2 saling bersinggungan, keluarlah percikan2 listrik akibat “beradu” itu.. Dan percikan itulah yang disebut IDE.. Itulah kenapa referensi, dan “koleksi” menjadi perlu.. Seorang komikus legendaris umumnya referensi / koleksi komiknya juga banyak, atau seorang pembuat film mumpuni, koleksi filmnya juga banyak, dan seorang ulama sejati koleksi buku2nya pun banyak.. Hal tersebut seakan “mempermudah” mereka untuk mencetuskan ide2 baru atau pemikiran2 yang berbeda saat menyerap informasi2 baru.. Sebaliknya, kalo kelereng di dalam …