All posts filed under: spiritual

renungi – resapi – jalani..

“Memadukan antara ilmu akademis & agama..”.. Kalimat dari blogger pemberi award kemaren itu menimbulkan pertanyaan baru buat gw.. Sebetulnya yang gw lakukan itu namanya apa sih ??.. Menafsir Qur’an ?? Kok rasa2nya bukan ya ?? Karena kalo jatohnya ke istilah tafsir, kesannya jadi berat banget.. Menafsirkan itu kalo liat “requirement” yang dipahami secara umum emang berat: mesti paham bahasa arab, sejarah sastra arab, asbabun nuzul, dan unsur2 lain dimana setiap kalimat harus diteliti.. Ibnu Katsir, Qurais Shihab, dan Buya Hamka, merupakan manusia2 luar biasa yang mencapai level tersebut.. Lah guwa ?? Yang gw lakukan jauh lebih sederhana, hanya menarik benang merah antara sains dan Qur’an.. Lah itu istilahnya apa ??.. Jawaban memuaskan gw temukan dalam bukunya Cak Nun (2016) “Hidup itu harus pintar ngegas & ngerem”.. Ada istilah Tadabbur.. Menurut beliau, arti sederhana dari Tadabbur adalah MENCARI MANFAAT dari Qur’an.. Tujuan tadabbur itu untuk mendapatkan manfaat dari Qur’an.. Ukuran tafsir adalah benar atau tidak secara rasional, secara ilmiah.. Bahkan secara akademis dan teknis.. Sedangkan kalo tadabbur, ukurannya sederhana, yaitu cari manfaatnya saja.. Anjurannya pun ada …

MindMeld..

Film keren Pacific RIM menimbulkan kepo2 baru di kepala gw.. Salah satunya itu saat pilot cowok ngomong ke Mako (pilot cewek): “Don’t chase the rabbit..”.. Gw pikir itu rabbit kelinci.. Ternyata bukan, tapi R.A.B.I.T (Random Access Brain impulse Trigger).. Di film itu, dua otak pilot bergabung menjadi satu dan larut dalam mesin Jaeger.. Kedua pilot berbagi memori, insting, dan emosi.. Di situ proses penyatuan dua otak disebut “Drifting”.. Kalo dalam science masuk ke kategori Mind Meld, dimana komputer dikendalikan oleh lebih dari satu otak manusia.. Saat proses drifting, dibutuhkan ketenangan, dan kedua pilot harus menjaga pikiran mereka untuk tidak terganggu oleh pikiran atau memori apapun.. Bisa diliat di filmnya, saat ingin drifting, pilot menarik nafas dalam dan memejamkan matanya untuk mendapatkan kondisi rileks, sebuah syarat dari  proses drifting.. Saat itu Mako “mengejar” R.A.B.I.T, terjebak memorinya sendiri, dan mind meld menjadi gagal.. Satu otak manusia “berpadu” dengan mesin sudah terbukti bisa.. Teknologi Brain-Computer Interfaces (BCIs) sudah membantu para disabilitas mengontrol kursi roda mereka dengan gelombang otak.. Nah, kalo dua otak bisa nggak ya ?? Ternyata bisa …

knowing is not a product..

Sepertinya masih banyak yang merasa kalo “udah tau” itu adalah hal yang final atau hasil akhir..  Cobalah kemukakan hal ini pada Jerome Bruner, ia pasti tidak sependapat.. Bruner adalah seorang Ph.D psikologi jebolan Harvard, sekaligus salah seorang pendiri Center for Cognitive Study di Harvard.. Dalam sebuah karyanya “Studies in Cognitive Growth” (1966), ia menyatakan “Knowing is not a product..” Menurutnya, seseorang bisa bener2 tahu akan sesuatu, jika dia bisa membangun makna dari informasi yang diterimanya, melalui penggunaan alasan2 atau “reasoning” (seperti kenapa bisa begini kenapa bisa begitu).. Nah, kondisi kayak gitu adalah bentuk dari sebuah “information processing”, dan bukan sebuah bentuk produk yang sifatnya final.. Maka Bruner berkesimpulan: “KNOWING IS A PROCESS, NOT A PRODUCT..” Banyak dari kita (termasuk gw juga) merasa, kalo sekedar tahu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup oke.. Padahal kalo merujuk pada teori Bruner, kondsi kayak gitu hanya bagian dari sebuah proses, bukan hasil akhir.. Tanpa berpikir reasonable, mengkonstruksi makna, terlalu naif bila hanya berhenti pada tahap TAHU saja.. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa ada orang2 yang tahu ayat Qur’an, …

kontekstual donk..

Kemaren ngobrol sama calon klien, ngomongin soal konteks (bisa berupa lingkungan, keadaan, budaya, waktu, zaman, dan sejenisnya..).. Lantas di kepala gw jadi muncul pertanyaan: sebenernya gimana sih hubungan konten dan konteks.?? Banyak definisi konteks, diantaranya, menurut Deddy Mulyana (2005) dalam “Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar”, konteks merupakan sebab / alasan terjadinya suatu pembicaraan, dan menjadi sangat berperan dalam pemahaman makna serta informasi.. Terkait dengan konteks, Barnett dkk (2005) juga mengembangkan sebuah teori yang namanya Coordinated Management of Meaning (CMM).. Salah satu konsep dari teori tersebut menyatakan bahwa konteks menjadi titik acuan dari pemaknaan dan tindakan seseorang.. Menurut Mellisa (2009) dalam ‘The Fundamental of Branding’, “bekerjanya” sebuah konten, sangat bergantung pada konteks.. Contohnya, strategi komunikasi brand gadget yang canggih banget (konten), sangat tidak bisa “bekerja” di sebuah tempat yang masih ‘primitif’ yang bahkan handphone saja orang jarang liat (konteks).. Bisa dibilang, sampainya makna konten dengan tepat pada user, bergantung pada konteksnya.. So, untuk memahami konten teks sebenar2nya, harus turut memperhatikan konteks.. Karena kalau nggak, akan bisa jadi aneh, nggak cocok atau janggal.. Contoh sederhananya bisa dari kasus …

(Me:) & (Di:) maafkan..

Bermaaf-maafan memang bisa dilakukan kapan saja.. Sebagaimana puasa, yang salah satu esensinya adalah “menahan”, sebenarnya juga bisa dilakukan kapan saja.. Kita menahan tidak mengambil hak orang lain, menahan tidak tergoda orang lain selain pasangan resmi, menahan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, atau bahkan menahan keinginan membeli game baru yang sangat diinginkan.. Hyaha.. 1 Syawal menjadi hari yang seakan spesial untuk maaf2an, setelah melalui bulan yang sifatnya spiritual, plus lagi setelah menang “menahan” setan di dalam diri masing2.. Seakan kesalahan siapa pun bisa dihapuskan di saat istimewa tersebut.. Euh, meski nggak semua sih.. hehe.. Ada yang bener2 “melepas” kembali setan2nya dengan menyebar berita hoax nan bohong bin fitnah.. Tapi apapun yang mereka lakukan, mungkin memang sebaiknya kita ini memaafkan juga.. Menurut psikolog Michael McCullough & Giacomo Bono dari Univ. Miami, memaafkan adalah bentuk bersyukur dan tanggapan positif terhadap kesulitan.. Yaa, bukankah kalo kita dikecewakan, disakiti, atau di “enggak enak-i” itu sebuah bentuk kesulitan ??.. Lantas, bukankah semua yang sampai di depan atau terjadi pada kita ini sebenarnya sudah melalui “approval” Tuhan ??.. Berhasil memaafkan …