All posts filed under: me|write

tulisan guwa sendiri

dark playground..

Tim Urban, lulusan cum laude dari Harvard, CEO “Wait But Why” yang  berdomisili di New York mengartikan procrastination sebagai “The action of ruining your own life for no apparent reason..”.. Gw suka gimana si Tim ini menjelaskan procrastination saat ia tampil di TED talk.. Kita ini makhluk reaktif, otak sangat suka bereaksi terhadap stimulus tindakan2 yang gampang..   Tim menganalogikan kegiatan2 nyaman + gampang dan mengakibatkan penundaan itu sebagai “Dark Playground..”.. Mantengin youtube, medsos, liat2 instagram, window shopping situs belanja online, bahkan ngobrol ngalor ngidul, di saat tugas2 / pekerjaan masih tergeletak tak terurus, kesemuanya itu adalah sesuatu yang menyenangkan.. Penamaan “Dark Playground” menjadi cocok.. Roller coaster emosi di facebook, pertunjukan / show yang oke di youtube, berputar2 di komedi putar situs belanja online, kesemuanya merupakan arena bermain dari Dark Playground.. Cobalah “masuk” ke zona itu, memang terasa sensasi bermainnya yang tanpa beban berat di otak.. Menjadi “Dark” saat sebetulnya ada rasa aman yang palsu, rasa bersalah, kesenangan yang sejatinya nggak menghasilkan apapun, males yang diturutin, dan habisnya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.. Kalau seseorang …

passionku HOAX..

Ada yang bilang kalo passion adalah barang mewah.. Karena nggak semua orang paham, bahkan untuk kepengen tahu passionnya sendiri aja belum tentu.. Passion itu ibarat benih atau biji, nggak bisa dimakan sebelum jadi buah.. Maka, passion yang bisa “menghasilkan”, pastilah selalu passion hasil “perawatan” atau pemeliharaan bertahun2 yang outputnya berupa karya2 yang apik.. Sebelum passion terkonversi menjadi sebuah skill, ia akan sulit untuk dijual atau ditukar dengan harga yang mahal.. Passion seseorang nggak akan bisa ketahuan tanpa berkarya.. Banyak orang sepertinya salah berharap: pengennya ketemu passionnya dulu, baru beraksi / berkarya.. Padahal yang bikin orang bisa cepet ketemu passion itu ya banyak berkarya / beraksi dulu, baru nanti bisa ketemu.. Karena sejatinya passion itu produk hati, dan bukan produk pikiran.. Coba aja, pikirin aja terus passion kita apa, tanpa beraksi.. Bisakah ketemu ??.. Dari survey yang dilakukan Rene (2013) dan timnya, yang dimuat dalam buku “Passion Without Creation is Nothing”, ternyata hanya 1 dari 10 orang yang bisa membedakan antara passion dan profesi.. Proses mengetahui, memahami, dan memaknai passion bisa saja memakan waktu seumur hidup.. …

MindMeld..

Film keren Pacific RIM menimbulkan kepo2 baru di kepala gw.. Salah satunya itu saat pilot cowok ngomong ke Mako (pilot cewek): “Don’t chase the rabbit..”.. Gw pikir itu rabbit kelinci.. Ternyata bukan, tapi R.A.B.I.T (Random Access Brain impulse Trigger).. Di film itu, dua otak pilot bergabung menjadi satu dan larut dalam mesin Jaeger.. Kedua pilot berbagi memori, insting, dan emosi.. Di situ proses penyatuan dua otak disebut “Drifting”.. Kalo dalam science masuk ke kategori Mind Meld, dimana komputer dikendalikan oleh lebih dari satu otak manusia.. Saat proses drifting, dibutuhkan ketenangan, dan kedua pilot harus menjaga pikiran mereka untuk tidak terganggu oleh pikiran atau memori apapun.. Bisa diliat di filmnya, saat ingin drifting, pilot menarik nafas dalam dan memejamkan matanya untuk mendapatkan kondisi rileks, sebuah syarat dari  proses drifting.. Saat itu Mako “mengejar” R.A.B.I.T, terjebak memorinya sendiri, dan mind meld menjadi gagal.. Satu otak manusia “berpadu” dengan mesin sudah terbukti bisa.. Teknologi Brain-Computer Interfaces (BCIs) sudah membantu para disabilitas mengontrol kursi roda mereka dengan gelombang otak.. Nah, kalo dua otak bisa nggak ya ?? Ternyata bisa …

knowing is not a product..

Sepertinya masih banyak yang merasa kalo “udah tau” itu adalah hal yang final atau hasil akhir..  Cobalah kemukakan hal ini pada Jerome Bruner, ia pasti tidak sependapat.. Bruner adalah seorang Ph.D psikologi jebolan Harvard, sekaligus salah seorang pendiri Center for Cognitive Study di Harvard.. Dalam sebuah karyanya “Studies in Cognitive Growth” (1966), ia menyatakan “Knowing is not a product..” Menurutnya, seseorang bisa bener2 tahu akan sesuatu, jika dia bisa membangun makna dari informasi yang diterimanya, melalui penggunaan alasan2 atau “reasoning” (seperti kenapa bisa begini kenapa bisa begitu).. Nah, kondisi kayak gitu adalah bentuk dari sebuah “information processing”, dan bukan sebuah bentuk produk yang sifatnya final.. Maka Bruner berkesimpulan: “KNOWING IS A PROCESS, NOT A PRODUCT..” Banyak dari kita (termasuk gw juga) merasa, kalo sekedar tahu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup oke.. Padahal kalo merujuk pada teori Bruner, kondsi kayak gitu hanya bagian dari sebuah proses, bukan hasil akhir.. Tanpa berpikir reasonable, mengkonstruksi makna, terlalu naif bila hanya berhenti pada tahap TAHU saja.. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa ada orang2 yang tahu ayat Qur’an, …

otakku pemalas..

Pernah ngalamin kayak begini ??.. Lagi asyik2 kerja atau “on-fire”, tauk2 keganggu notif dari messenger, fesbuk, atau email promo situs belanja online.. Lantas jadi “terjebak”, konsentrasi jadi berubah, dan akhirnya justru malah jadi asyik menindak lanjuti notif2 tersebut.. Daann, tauk2 udah jam pulang kantor.. hehe.. Kalo dari sebuah referensi, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk reaktif.. Dia akan mudah bereaksi terhadap apapun yang mengusiknya.. Serajin atau semales apapun seseorang, sebenarnya organ yang ada di kepalanya, alias otaknya, tetaplah males.. Yes, otak memang diciptakan kayak begitu supaya bisa menghemat energinya seefisien mungkin.. Otak manusia memang canggih, punya kemampuan super hebat, meski dengan energi kurang dari 13 watt..!! Nah, yang jadi masalah, sebuah studi juga menyimpulkan kalo otak manusia itu lebih suka bereaksi terhadap hal2 yang mudah.. Pakar kreativitas Mihaly Csikszentmihalyi menyatakan kalo kita sejatinya lebih kuat bereaksi / tertarik kuat banget pada hal2 yang gampang, nyaman, dan udah jadi kebiasaan.. Dan untuk bisa melawan / melampaui kondisi tersebut bukanlah hal yang mudah.. Kenapa kok cuma “bereaksi” bisa jadi masalah ??.. Karena kalo dipikirin lebih dalam, tindakan dengan …