All posts filed under: me|write

tulisan guwa sendiri

knowing and creating self..

Pas ke Gramed, ada buku yang menarik perhatian gw.. Di cover belakangnya, pentolan tim penulis menyatakan: “Life is not about finding yourself, life is about creating yourself..”.. Nice quote.. Meski ‘nice’, sifat sotoy gw ngerasa masih ada yang janggal.. Karena kalo dipikir lebih dalam lagi, “finding yourself” itu bisa jadi dasar dari segalanya.. Gimana caranya seseorang bisa meng”create” dirinya tanpa dia tahu diri sendirinya “terbuat” dari apa ??.. Logika sederhananya, setiap “bahan dasar” selalu membutuhkan cara pengolahan yang berbeda.. Logam, tanah, air, bahkan tiap sayur atau daging sekalipun memerlukan pengolahan yang berbeda untuk kemudian jadi sesuatu yang istimewa.. Bisakah kita meng’create’ sesuatu dari apa2 yang nggak diketahui ??.. Bisa aja sih, tapi nggak tau juga jadinya bakal gimana.. Hasilnya bisa jadi mengejutkan, atau menyedihkan.. Untuk “experimen” kehidupan, kayaknya mendingan membuat sesuatu dari apa2 yang udah diketahui.. Kalo udah tau diri ini adalah pisang, kan enak, tinggal nentuin nanti di masa depan diri ini mau di”create” jadi apa.. Mau jadi pisang goreng kah, kripik pisang kah, atau tendangan pisang ?? (Halah..!!).. Kalo tau diri ini logam, …

give birth to himself..

Erich Fromm (1900-1980), seorang ilmuwan yang sangat tertarik pada sosiologi (bergelar Ph.D), dan juga suka konsep psikoanalisisnya Freud.. Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai kontributor penting bagi humanistic psychology.. Pernyataan terkenalnya cukup lucu: “Man’s main task is to give birth to himself..”.. Entah ini lucu apa garing, hehe.. Yang jelas ini bukan dalam hal gender, namun dalam konteks pencarian jati diri.. Erich menyatakan; sebenernya manusia hidup dalam perasaan takut, cemas, dan tidak berdaya, karena hidup “sendiri” dan “terpisah” dari alam.. Menurut studinya; perasaan2 kayak gitu bisa dilawan dengan menemukan / mencari ide2 dan kemampuan diri sendiri yang otentik, “merangkul” keunikan personal diri, serta mengembangkan kemampuan untuk mencintai.. Menurutnya juga, ikut2an saja tanpa kemampuan “membangun” pikiran sendiri, justru semakin membuat kita menjadi asing bagi diri kita sendiri.. Kalo dipikir2, sepertinya keimanan seseorang juga bisa merupakan sesuatu yang bisa disebut otentik.. Karena perjalanan atau “pembangunan” keimanan setiap orang berbeda2.. Ada yang melalui jalan kehidupan biasa2 saja, ada yang melalui jalan penyakit, jalan ilmu, jalan kehilangan, pengucilan, dan masih banyak “jalan2” yang lain, sebagaimana Naruto dengan jalan ninjanya.. hehe.. Seseorang …

interaksi diri + Qur’an..

Gw ngerasa kita nih seakan lebih sering berinteraksi dengan ‘orang’ dalam belajar agama, dan kurang berani berinteraksi dengan Qur’an langsung secara individu.. Lebih percaya kata2 habib (??), ustad atau penceramah daripada mencoba membaca sendiri.. Padahal wahyu pertama itu kan “BACA” ya, bukan “DENGAR”.. Fritz Perls, seorang Doktoral medicine, kemudian menjadi psikiatris asal Jerman, menulis buku “Gestalt Therapy Verbatim” (1969).. Ia menyatakan “Truth can only be tolerated if you discover it yourself..”.. Semua yang kita ketahui sebenarnya bukan kebenaran objektif, karena lensa persepsi seseorang lah yang membentuk mana benar dan mana salah.. Masalahnya, lensa persepsi kita dibentuk oleh subjektivitas banyak orang.. Jadi menurut Fritz, kebenaran sejati hanya bisa dibangun oleh diri sendiri.. Interaksi dengan Qur’an nggak mesti melalui penafsiran yg terkesan berat, tapi juga bisa melalui cara sederhana seperti Tadabbur = mengambil manfaat (ada di postingan kemaren).. Kalo gw baca2 lagi, memang sepertinya di dalam Qur’an nggak ada pernyataan langsung  / menggunakan kata2 tafsir / menafsirkan untuk berinteraksi dengan Qur’an.. Yang ada justru kata Tadabbur (QS. 4:82 dan QS. 47:24).. Anggaplah gw seorang tukang sayur atau …

renungi – resapi – jalani..

“Memadukan antara ilmu akademis & agama..”.. Kalimat dari blogger pemberi award kemaren itu menimbulkan pertanyaan baru buat gw.. Sebetulnya yang gw lakukan itu namanya apa sih ??.. Menafsir Qur’an ?? Kok rasa2nya bukan ya ?? Karena kalo jatohnya ke istilah tafsir, kesannya jadi berat banget.. Menafsirkan itu kalo liat “requirement” yang dipahami secara umum emang berat: mesti paham bahasa arab, sejarah sastra arab, asbabun nuzul, dan unsur2 lain dimana setiap kalimat harus diteliti.. Ibnu Katsir, Qurais Shihab, dan Buya Hamka, merupakan manusia2 luar biasa yang mencapai level tersebut.. Lah guwa ?? Yang gw lakukan jauh lebih sederhana, hanya menarik benang merah antara sains dan Qur’an.. Lah itu istilahnya apa ??.. Jawaban memuaskan gw temukan dalam bukunya Cak Nun (2016) “Hidup itu harus pintar ngegas & ngerem”.. Ada istilah Tadabbur.. Menurut beliau, arti sederhana dari Tadabbur adalah MENCARI MANFAAT dari Qur’an.. Tujuan tadabbur itu untuk mendapatkan manfaat dari Qur’an.. Ukuran tafsir adalah benar atau tidak secara rasional, secara ilmiah.. Bahkan secara akademis dan teknis.. Sedangkan kalo tadabbur, ukurannya sederhana, yaitu cari manfaatnya saja.. Anjurannya pun ada …

award dari blogger..

Yeah.. Alhamdulillah, dapet award lagi dari seorang blogger.. Nggak ada hadiahnya sih emang, namanya juga award subjektif dari seorang blogger.. Tapi buat gw, ini merupakan bentuk apresiasi yang sangat layak untuk dihargai.. Karena si pemberi award telah menulis sejumlah Annual Report (3 kali berturut-turut sebagai Juara 1 Annual Report Awards), lebih dari 90 edisi Majalah Internal Perusahaan, lebih dari 100 naskah Press Release, dan lebih dari belasan advertorial.. Mendapatkan feedback apresiasi dari seseorang yang terbukti punya kompetensi menulis, sudah cukup menyenangkan hati gw.. Apalagi blog gw ini seringkali ditenagai oleh pikiran2 ngalor ngidul gw yang entah mau dikemanain, atau diobrolin sama siapa, akhirnya ya jatohnya ditulis di blog.. Ada kata2 dari orang bule sono: “Sometime, only paper will listen to you..”.. Ya itu dulu sih, mungkin sekarang papernya udah ganti jadi monitor.. hehe.. Tahun kemarin gw juga dapet award yang sama dari blogger yang sama.. Sang pemberi award di tahun ini menyatakan suka dengan gaya tulisan gw.. Beliau bahkan menuliskan di postingan awardnya seperti ini: “Blogger Ogie Urvil selalu hadir dengan tulisan yang sangat membuka …