Latest Posts

penggemar instan..

002222Lucu juga ngeliat “share” status berita2 di media.. Ada yang dipelintir jadi negatif, kayak yang soal traktor buat para petani yang ditarik kembali.. Padahal itu mesin traktornya mau diganti, karena kualitasnya belum sesuai dengan pesanan pemerintah.. Maksud pemerintahnya melakukan proses kerja keras untuk menuju hasil positif, tapi setelah “digoreng” media, kesannya malah jadi negatif, di share pulak di medsos.. Bisa ditebak, komentar nyinyir2an pun ramai berkumandang.. Ada lagi berita yang ngajak2 demo turun ke jalan buat melengserkan presiden.. Hehe..

Sebagai pengusaha desain grafis, gw udah tau sendiri gimana itu rasanya hidup di tengah2 masyarakat yang nggak menghargai proses.. Mulai dari yang model jam 2 siang terima brief, jam 5 sorenya diminta jadi (padahal gw terima brief di kantor dia !!.. balik ke kantor gw aja bisa makan waktu 1 jam lewat..!!).. Sampe yang sekitar dua jam-an setelah brief & materi baru dikirim, langsung ditelpon kliennya: “Udah jadi belum mas ??..”.. (^0^!).. Dan masih banyak lagi sih sebenernya.. Huhu..

Ternyata dulu di Taman Ismail Marzuki (6 April 1977), pernah ada ceramah “menggemparkan”, soal karakter manusia Indonesia.. Disampaikan oleh almarhum Mochtar Lubis, seorang budayawan kondang.. Beliau tanpa sungkan mengungkapkan, karakter manusia Indonesia itu diantaranya nggak suka bekerja keras, malahan lebih suka bermalas2an, namun nggak sabar pengen cepet mencapai kesuksesan, sehingga selalu nyari jalan pintas.. Isi ceramah tersebut kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Inti Idayu Press dengan judul “Manusia Indonesia”.. Kalo gw perhatikan, plus mengamati opini2 lain dari beberapa pengusaha lokal sukses, sifat malas dan pengen serba instant memang jadi “label” negatif yang udah lengket juga sama karakter kebanyakan orang sini..

Gw nggak abis pikir.. Bagaimana mungkin,”ketidak beresan” yang terakumulasi selama sepuluh tahun lebih, lantas bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari setahun..??.. Kalo dibilang orang Indonesia sukanya instan, sadari saja, hal kecil yang katanya instan pun perlu proses & waktu.. Kopi instan, perlu dibuka dulu kan bungkusnya, ditaro di gelas, dimasukin air panas, diaduk, baru diminum.. Belum lagi kalo “situasi dan kondisi” nggak bisa diajak bekerja sama.. Misal, pas lagi ngaduk, sendoknya patah, gelas kesenggol temen, atau haji Lulung lewat, kopinya jadi serbuk lagi.. Hyaha…

Hal kecil kayak kopi instan aja perlu waktu untuk ngeberesinnya, apalagi ngeberesin negara ?!?.. Luas pula negaranya.. Orangnya juga macem2, plus lagi udah lama pula nggak diurus dengan baik.. Analogi sederhananya, kapten kapal lama mewariskan pada kapten kapal yang baru: sebuah kapal yg bocor & rusak dimana2, udah lama nggak diberesin (jadi makin parah), plus kru kapalnya gak produktif.. Dan penumpang berharap kapten baru dengan mantra saktinya mampu membereskan kapal dalam sekejap mata.. Wahai para pencinta instan.. Kata instan itu nggak identik dengan: “Sim salabim.. TRING.. JADI !!..”..

ikigai.. ikigai..

Untitled-1Seorang motivator ada yang menulis begini di dalam bukunya: “Saat2 paling menakutkan bagi saya itu adalah saat dimana saya kehilangan fokus..”.. Gw pikir ini oke juga.. Jadi kebayang saat bangun tidur, gak tau mau ngapain, di tempat aktivitas bingung mau ngerjain apa, dan ujung2nya kalo nggak produktif terarah, ketidak pastian jadi semakin besar..

Terus supaya mudah fokus gimana ??.. Ya yang paling gampang, dengan punya tujuan jangka pendek.. Dan kalo tujuan jangka pendeknya merupakan “bagian2” kecil dari tujuan jangka panjangnya, itu akan lebih bagus..  Di buku lain malah ada yang bilang kalo penetapan tujuan hidup itu adalah masalah hidup dan mati.. Sekaligus juga menunjukkan kemampuan seseorang untuk mendapatkan makna dari pengalamannya selama dia menjalani hidup..

Mungkin ini yang jadi penyebab pas waktu kita masih SD, kalo ditanya cita2nya apa, jawabnya seringkali dokter, pilot, insinyur, dan sejenisnya yang sebenernya kita sama sekali gak paham tentang profesi tersebut.. Karena penetapan tujuan terkait dengan pengalaman hidup.. Yah tau sendiri lah, hehehe.. Anak SD, pengalaman hidupnya seberapa sih ??.. Wong ingus aja masih dielapin.. hihi..

Berbeda dengan mereka yang sudah dewasa, penetapan tujuan hidup bisa dirancang dan di”action”kan… Termasuk juga bisa ditentukan kapan mau dihentikan / pensiun atau masih mau lanjut..  Ada sebuah studi yang dilakukan oleh Brithis Medical Journal pada karyawan perusahaan Shell..  Dibikin jadi dua kelompok: kelompok pertama adalah mereka yang pensiun di usia 55 tahun, dan kelompok kedua adalah mereka yang pensiun di usia 65 tahun.. Hasil studinya, kelompok pertama memiliki resiko kematian 37% lebih tinggi, dan 89% punya kemungkinan meninggal 10 tahun setelah pensiun dibandingkan kelompok kedua..

Ada juga studi lain dimuat dalam jurnal Archives of General Psychiatry yang meneliti 246 orang mengenai Rush Memory & Aging Project.. Para peneliti menemukan: mereka yang tidak punya tujuan jelas dalam hidup, akan mengalami tingkat penurunan mental yang lebih cepat secara signifikan.. Penelitian ini juga menemukan, tidak punya tujuan hidup bisa memperpendek umur dan beresiko lebih tinggi terkena penyakit Alzheimer..

Dan Buettner (2008) dalam bukunya menggunakan istilah “The Blue Zones” untuk tempat2 dimana penduduknya bisa hidup lebih dari 100 tahun.. Salah satunya ada di bagian utara Okinawa.. Penduduk sana tidak punya kata “retirement” atau pensiun.. Sebaliknya mereka malah punya kata penting buat hidup mereka yakni: “Ikigai”.. Kalo secara kasar diterjemahin jadi “alasan kenapa anda bangun pagi..”.. Bagi penduduk di sana, mengajar karate di usia 120 tahun, atau belajar mancing di usia 104 adalah hal biasa.. Yang terpenting adalah mereka punya kesadaran yang kuat akan adanya tujuan.. Ikigai adalah bahan bakar untuk mesin diri, sekaligus kompas yang menunjukkan arah dan membuat kita terus maju..

“The more purpose you inject into your life, the brighter your internal spark will burn, the longer you will live, and the more productive you will be while you’re alive..” Isaiah Hankel, PhD in “Black Hole Focus” (2014).

energi harapan tujuan..

000222Pernah liat seseorang yang kesannya “nggak ada matinya” ??.. Energinya kayak gak abis2, selalu aja ada tenaga untuk ngerjain sesuatu dalam waktu yang lama, dan jangka panjang pulak.. Sampe2 kitanya jadi mikir, nih orang dapet energi dari mana seh ??..  

Kalo boleh berspekulasi, gw bisa bilang biasanya orang2 yang kayak gitu itu orang2 yang udah punya tujuan yang jelas.. Gw juga meyakini perasaan penuh energi kayak gitu bisa dialami sama orang yang udah punya peta jangka panjang yang udah di”break down” secara cermat ke dalam peta jangka pendek.. Lantas energi pun datang.. Loh ?!? Energi darimana ?!? Emang ada hubungannya antara tujuan dan energi ??..

Secara tidak langsung ada, cuman kurang satu elemen aja, yakni HOPE atau harapan.. Umumnya orang2 yang udah punya tujuan, sangat2 berharap tujuannya bisa benar2 tercapai.. Terlebih kalo tujuannya itu jelas2 bisa dibuat “terpampang” di depan mukanya atau di dalam kepalanya tiap hari.. Jadi hubungannya begini: ada tujuan = ada harapan = ada energi.. Terdengar Absurd ?? Ada bukti ilmiahnya loh..

Di tahun 50an, lulusan Harvard: Curt Paul Richter dan scientist Johns Hopkins melakukan percobaan terkait hal ini.. Mereka menyebutnya “The Hope Experiment”.. Kurang lebih eksperimennya kayak gini: seekor tikus diletakkan di wadah yang ada sirkulasi airnya (cukup dalem lah buat seekor tikus), dibiarin dia berenang.. Kemudian diamati berapa lama si tikus mampu berenang di situ.. Dan rata2 tikus hanya mampu bertahan berenang selama 15 menit, kemudian kelelep alias tenggelam…

Lantas, dilakukan sedikit perubahan.. Sesaat sebelum tikus mau tenggelam, dia “diselamatkan”, diangkat dari wadah tersebut, dikeringkan, dan dibiarkan istirahat selama beberapa waktu, sebelum kemudian “diberenangkan” kembali di tempat yang sama.. Tahu berapa lama si tikus mampu berenang setelah proses “penyelamatan” itu..??.. 60 JAM !!!.. Yes, gokil ya.. 60 jam, dan itu sama dengan 240 kali lebih lama daripada saat dia berenang tanpa proses “penyelamatan”.. Koq bisa ya ??..

Dr. Richter berkesimpulan hal itu terjadi karena si tikus diberikan harapan.. Si tikus mendapatkan energi melalui harapan akan diselamatkan kembali.. Terlebih si tikus udah punya gambaran yang sangat jelas mengenai gimana itu rasanya diselamatkan.. Jadi, dengan punya tujuan, membayangkan tujuan tersebut sejelas2nya di kepala seperti saran dari teori Law of Attraction, benar2 bisa membesarkan harapan, dan terus berlanjut akan menghasilkan energi..

“Purpose equals hope equals energy. Defining the path in front of you will give you the energy you need to complete it.” Isaiah Hankel, PhD in “Black Hole Focus” (2014).

your life, your orbit..

Untitled-1Kalo diperhatikan lebih dalam di alam semesta ini, banyak hal yang sifatnya “siklus”, perputaran, atau alur pengulangan, yang menandakan adanya “kehidupan” di situ.. Contoh, aliran darah dari dan menuju jantung.. bukankah itu alur perputaran ?? Bukannya dengan adanya hal tersebut manusia dan hewan bisa hidup..?? Kalo tumbuhan gimana ??.. Kayaknya sama juga deh.. setiap hari mereka memanfaatkan sinar matahari untuk berfotosintetis.. Itu juga bisa dibilang pengulangan rutin kan..

Fenomena alam juga seperti itu.. Liat gimana siklus rantai makanan, siklus turunnya hujan, dan berputarnya planet2 mengelilingi matahari.. Bahkan dalam agama Islam pun sama, minimal sholat lima waktu tiap hari, ini juga kan bisa dibilang siklus pengulangan harian.. Dan yang keliatan banget, ya Thawaf mengelilingi Ka’bah, itu jelas banget “nyata” gimana berputar pada “orbit” seakan adalah sebuah pesan dari Alloh yang mesti dimaknakan oleh manusia..

Siklus / perputaran adalah pengulangan, dan pengulangan adalah rutinitas.. Bisa dimaknakan, untuk membangun sebuah kehidupan yang “sehat” diperlukan sebuah rutinitas yang positif, yang tidak keluar dari jalur / orbitnya, dan dijalankan secara konsisten.. Lihatlah gimana kita “hidup”.. Hampir sebagian besar dari kita setiap hari pulang pergi tempat kerja, melakukan sesuatu dalam koridor industri yang sama, bahkan mungkin buat sejumlah orang kesehariannya sudah demikian “terprogram”, sampe2 ada yang bilang kalo kita2 ini tuh bisa2 ntar jadi robot.. Hehe..

Jadi kesimpulannya, rutinitas kita adalah orbit kita.. Untuk membangun sebuah kehidupan yang sukses dan sehat, diperlukan rutinitas yang sehat juga.. Tapi kan ada ungkapan “Routinity kills creativity..”, lah ini gimana hayoo..?? Berada dalam orbit / rutinitas yang “baku”, sempit, dan begitu2 saja, jelas bisa jadi membosankan & bisa bikin otak jadi kurang sip… Orang2 kreatif mampu menciptakan sendiri orbit yang luas yang akan dijadikan rutinitasnya..

Siklus rutin orang kreatif bisa berisi banyak hal dalam orbitnya.. Misal: pergi ke tempar kerja > nulis > ngegambar > baca buku > baca komik > maen game > kerja lagi > maen piano > update status FB > kongkow bareng temen > kerja lagi > baca berita > nyari ide baru > maintain klien > maen gitar > olahraga > pulang ke rumah > nonton tipi > maen sama anak > ngobrol sama istri > tidur.. Hehehe.. Siklus ini bisa lebih panjang lagi sebetulnya.. Dan kalo gw pikir yang nggak kalah penting, orbit yang luas itu bukan berarti bekerja di banyak tempat, tapi bisa dimaknakan mengerjakan banyak hal dalam waktu yang runut / sistematis.. Jadi, untuk ibu rumah tangga, rumah pun bisa juga jadi memiliki sebuah “orbit” yang luas bila kegiatan harian / mingguan / bulanannya berisi beraneka ragam jenis aktivitas..

So, gw lebih seneng kalo nambah satu kata lagi pada ungkapan “routinity kills creativity” di atas, jadinya: “Poor routinity kills creativity..”.. Yes, rutinitas yang “miskin” jelas akan mempersempit orbit.. Mungkin ini juga yang bikin kita jadi sering denger pernyataan: “Hidup gw begini2 aja..” So, tantangannya adalah, gimana caranya “memperluas” sendiri orbit yang bisa mengantarkan kita pada peningkatan kualitas diri dan kebermanfaatan..

Jangan heran juga kalo ngeliat orang2 kreatif punya rutinitas yang aneh dan terkesan bebas, karena menurut Alan J. Rowe (2004) dalam bukunya “Creative Intelligent” menyatakan: orang2 dengan kecerdasan kreatif yang baik memiliki ciri2: mau berkembang (expansive), unconstrained (tidak dibatasi), unpredictable, uninhibited (tanpa-hambatan), free-spirited, revolutionary, dan fanciful (aneh, khayal, ajaib).. (^_^)/