Latest Posts

stock duit..

10 tahun lewat berwiraswasta dan “bergelut” di industri kreatif, cukup banyak suka dukanya.. Nggak hanya industri perbankan, retail dan sejenisnya yang terkena dampak kemajuan teknologi informasi, industri kreatif pun juga ikut “tergerus”..

Dulu gw suka2 pusing untuk cari2 gambar buat kepentingan bikin company profile klien, bikin kalender, ataupun media2 promosi lainnya.. Tapi sekarang, dengan majunya bisnis “Microstock”, kepusingan kayak gitu nggak pernah terjadi lagi..

Microstock Site Companies atau Microstock Agencies adalah perusahaan yang menyediakan berbagai macam foto, illustrator dan video dalam bentuk RF (Royalti Free).. Sederhananya mereka seperti “gudang ilustrasi/gambar” atau image bank..

Dari sekian banyak Microstock Agency, favorit gw adalah ShutterStock.. Kenapa ??.. Karena buat gw jumlah image yang disediakannya lebih banyak dan lebih variatif ketimbang agency yang lain.. Dan nggak hanya image (foto, ilustrasi, dan vector) aja loh, tapi ada juga footage video dan musik..

Sejauh ini, entah sudah berapa project kantor menggunakan image dari shutterstock.. Yang pasti, ratusan lebih foto / gambar / vector yang udah gw download untuk kepentingan pekerjaan kantor..

Microstock ini memang bisa dibilang ikut andil dalam “menggerus” pekerjaan fotografer maupun ilustrator lokal.. Namun sekaligus juga memunculkan peluang baru bagi mereka.. Karena mereka bisa menjadi contributor dan turut menjual karya2 mereka ke jutaan orang di beragam negara..

Buat kalian yang ingin freelance, kerja dari rumah, atau kepingin penghasilan tambahan, bisa loh lewat cara “bermain” microstock.. Memang peluang ini hanya untuk mereka yang punya kemampuan seni seperti: fotografi, menggambar, mendesain (vector), membuat musik, ataupun membuat video.. Tapi nggak mesti harus jago2 amat kok.. Karena kita nggak bisa tau kebutuhan pasti jutaan orang di dunia ini.. Banyak juga loh dari mereka, yang perlunya ternyata karya yang nggak bagus2 amat..

Daripada hasil karya2 itu menganggur di harddisk, lebih baik diupload ke salah satu perusahaan microstock.. Kali aja ada yang “selera” dan kemudian membeli.. Yang saya ikutin sih, lagi2 ya Shutterstock.. Cukup profesional dan berpengalaman, dan sejauh ini tidak pernah ada masalah berarti, apalagi untuk pembayaran.. Hehe.. Penting banget nih guys..

Karena memang hobby gambar dari dulu, yaah, kali aja nih gambar2 gw ada yang butuh di belahan dunia yang lain.. Hehe.. Jadi ya pada gw upload ke situs shutterstock.. Kalo mau liat gambar2 gw ya bisa di klik di sini..

Oke guys.. Kalo mau tau info lebih jauh tentang microstock ini, bisa ke situs shutterstocknya langsung.. Dan kalo mau bikin akun / sign up bisa klik di sini juga.. Tapi kalo mau tanya2 ke gw soal ini boleh2 aja koq.. Insya Alloh gw bantu.. Pendek katanya, ini peluang nyata untuk bisa dapet duit tambahan.. Wassalam..

diri asing..

Dari doyan baca komik, terus saat kuliah, kesukaan baca gw “meluas” ke buku2 yang kesannya lebih berat.. Mungkin karena dipicu umur, pertanyaan2 tentang “diri” dan hidup ini jadi semakin banyak.. Jadi rasanya butuh role model orang2 besar, atau orang2 yang udah “jadi”, untuk lebih tau gimana itu “hidup” dari perspektif mereka..

Sejumlah orang yang pernah “tenar” di sini, buku2nya ya turut sempet gw lahap.. Kayak Arie Ginanjar, Amien Rais, Mario Teguh, Felix Siaw, Aa’ Gym, Yusuf Mansur, Buya Hamka, Quraish Shihab, dll.. Terus kalo yang orang “non-sini”nya, dulu gw suka banget sama Confucius, buku2 Kebijakan Cina yang dikomikin, Budha, Zen, dll..

Ada yang sampai saat ini tetep gw kagumi, karena konsistensi tulisan dan perbuatan mereka.. Dan ada juga yang tidak.. Berkat medsos, tindak-tanduk mereka jadi mudah sekali dipantau.. Yang lari ke politik apalagi, seringkali tau2 jadi “auto-aneh”.. Hehe..

Tetep sih, buat gw nggak ada orang yang bisa bener 100%, dan salah 100%.. Ada tulisan2 mereka yang gw anggap “ini cocok buat gw”, dan ada juga yang “nggak cocok”.. Pakai ilmunya Bruce Lee: “Absorb what is useful, reject what is useless, add what is essentially your own..”

Untuk mendevelop diri sendiri, sulit rasanya tanpa belajar dari orang lain.. Meniru orang sukses lain secara persis pun adalah hal yang mustahil.. Gw pikir, mengambil pelajaran itu bisa dari siapa saja.. Bisa dari mereka yang sepaham, berbeda paham, berbeda keyakinan, ataupun berbeda sudut pandang.. Satu yang vital: Hanya orang yang mau berpikir-lah yang bisa mengambil pelajaran.. (QS:02.269)..

Ulama2 hebat menganjurkan untuk tidak taqlid buta.. Karena mereka sadar bahwa kita semua manusia, dan manusia memang tempatnya salah dan lupa.. Manusia yang sadar kalo dirinya “hanya” manusia, adalah mereka yang tidak merasa paling benar sendiri.. Sadar atau tidak, itu merupakan bentuk dari kesombongan..

Setelah baca2, biasanya gw pikirkan & banding2kan, lantas memilih yg sesuai untuk diri tanpa mencela yang berbeda.. Naif banget kan kalo fanatik buta sama ketoprak tanpa mengetahui adanya nasi goreng, hamburger, ataupun wagyu steak.. Lantas dia teriak2: “Ketoprak lah yang paling enak.!!!.. Atau “Apapun selera Anda, ketoprak-lah solusinya..!!!”..

Saat iman hanya sekedar ikut2an, ibarat jadi buih di lautan, gampang diombang-ambingkan.. Erich Fromm Ph.D (1900-1980), seorang ilmuwan sosiologi menyatakan: ikut2an saja tanpa kemampuan “membangun” pikiran sendiri, justru semakin membuat kita menjadi asing bagi diri kita sendiri..

Contoh: Ikut2an bela2 capres yg katanya muslim, tapi koq capresnya menolak tes baca Qur’an dan malah natalan ??.. Nah, mendadak merasa asing kan ??.. (^o^)/

kulit simbol..

Ada cerita sufi jadul: terdapatlah dua orang dalam perjalanan sehari penuh.. Saat waktu sholat tiba, mereka pun sholat.. Keduanya bergantian membaca do’a usai sholat.. Jadi, pas waktu Dhuhur, si A membaca do’a usai sholat, kemudian saat Ashar, si B yang membaca do’a usai sholat..

Kelar si B baca do’a, si A berkomentar: “Masbro, tata bahasa do’amu salah, terus pe-lafalanmu juga terdengar kurang fasih..”.. Si B cemberut dikit, dan diem aja.. Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui hutan yang sepi..

Di dalam hutan, tiba2 seekor singa muncul dari semak2 di hadapan mereka.. Singa mengaum keras hingga mereka berdua pun ketakutan.. Kemudian si A segera berdo’a, memohon dengan kefasihan bahasa dan pelafalan yang mumpuni supaya singa itu segera pergi..

Tapiii, tuh singa nggak juga pergi.. Melihat si A gagal, si B pun mencoba berdo’a juga.. Dan ternyataa, usai si B berdo’a, si singa langsung pergi.. Si A yang memiliki kefasihan dan pelafalan oke melihat itu dengan penuh tanda tanya.. “Koq bisa sih do’aku gagal, dan do’amu berhasil ??..”

Si B menjawab: “Karena engkau lebih mementingkan bagusnya pengucapan daripada makna do’a itu sendiri..”

Ya gitu deh.. Kita nih seringkali sibuk dan lebay dengan “wajah” dari simbol2, tapi tidak getol terhadap maknanya.. Gw jadi teringat kisah “pentolan” biksu Zen yang buta huruf, dan ditanya oleh biksu kutu buku: “Anda bahkan nggak bisa mengenali huruf, gimana bisa memahami artinya..??”.. Si pentolan Zen ngejawab: “Kebenaran tidak ada kaitannya dengan kata2..”

Lantas pentolan Zen menunjukkan jarinya ke bulan, sambil berkata lagi: “Kebenaran bisa diumpamakan seperti bulan terang di langit, dan kata2 bisa diumpamakan seperti jari..”

Jari bisa nunjukin posisi bulan, tapi jari kan bukan bulan.. Namun supaya orang sekitar kita bisa lihat bulan, kita memang perlu melihat kemana jari mengarah.. Jadi, maksud dari si pentolan Zen: Kata2 bukanlah kebenaran, tapi BISA menunjukkan ke arah kebenaran…

Lihat gimana penceramah2 / ustadz / ustadzah “aneh” merangkai kata dengan indah, dibalut emosi, seakan2 yang ia lontarkan itu benar (jari), padahal esensi sejati kebenarannya (bulan) belum tentu ??.. Berapa banyak dari kita kemudian “terjebak” untuk melihat “jarinya” saja, dan bukan bulannya..?

Bupati Cianjur ngadain gerakan sholat subuh berjama’ah di mesjid.. Eh, usai sholat, serah terima uang korupsi di halaman mesjid.. Mesjid dan kubahnya cuma jadi simbol..

Lihat patung, salib, dan topi natal takut.. Sama orang lain prasangka buruk, sampe2 orang mau numpang sholat di mesjid digebukin rame2 hingga tewas..

Berapa banyak orang bisa membaca kata2 petunjuk di kitab sucinya (melihat jari), tapi gagal melihat substansinya, alias masih korup dan dzalim (nggak liat bulannya..??)..

koar kasar..

koarBelum lama ini, gw ngobrol2 pagi sama seseorang.. Ntah gimana, tau2 dia cerita soal khutbah Jum’at yang sekarang kok banyak yang isinya politik.. Malah di daerah pemukiman dia, katanya sempet ada yang sampe diteriakin sama jama’ahnya dari luar: “Woi politik woi !!”.. Dan si khotib kata dia sih cuek2 ajah..

Obrolan pun berlanjut ke soal penceramah2 atau apapun lah namanya, yang doyan caci maki, mencela, berkata2 kasar, dan pesimisme tidak berdasarkan fakta..

Yah, dua minggu yang lalu pun pas gw Jum’atan, gw masih inget juga itu khotbahnya “maen” politik.. Omongannya juga “ngelantur”.. Adzan dilarang lah, lama2 nanti nggak ada adzan di Indonesia, terus jelek2in ini itu, dan sejenisnya.. (@_@!)

Gw bukan ustad, hanya orang awam.. Tapi paling nggak dari baca2, gw ngarti dah kalo “congor” kite nih sebaiknya dihindari untuk ngomong2 negatif.. Terlebih dari atas mimbar..

Sebagai orang awam pun gw heran, kenapa ada orang yang dijuluki ustad atau habib atau ulama atau apapun lah sebutannya, tapi mulutnya koq ngeluarin yang jelek2.. Bahkan mendo’akan yang buruk2 pula ke orang lain, meskipun sesama muslim..

Yang dukung atau yang denger pun seringkali “meng-amin-kan” tanpa berpikir.. Ini juga gw heran.. Karena gw belum pernah baca sih, referensi yang menunjukkan kalo hal2 seperti itu dianjurkan, apalagi dari atas mimbar.. Baik itu dari perspektif etika, ataupun agama…

Di Qur’an juga dikatakan, hendaknya menyeru kebaikan (QS5:104).. Apakah berkata kasar, mencela, mendoakan yang jelek2 pada orang lain itu suatu kebaikan ??.. Pertanyaan yang gampang banget dijawab bagi mereka yang akal dan hatinya masih sehat..

Hadist pun begitu.. Ada yang tertulis begini: “Tidaklah benar iman seseorang, hingga hatinya menjadi benar. Dan tidaklah benar hati seseorang, hingga benar lisannya.” (HR. Imam Ahmad dari Anas ra.).

Imam Al – Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah juga menjelaskan hal yang sama.. Beliau bernasehat supaya kita menjaga mulut kita dari 8 perkara.. Dan beberapa perkaranya yang menurut gw nyambung sama kasus postingan ini: (1). Berbohong.. Yaah, tau sendiri lah, ngomong di atas mimbar lantas nggak berdasarkan data dan fakta, tentu saja bisa termasuk ke poin ini..

(2). Membahas kejelekan orang lain / ghibah.. (3). Menganggap baik diri sendiri.. Hmm.. Cukup jelas lah.. (4). Melaknat, baik terhadap makhluk hidup ataupun benda mati, memvonis syirik, kafir, kepada sesama orang Islam.. dan (5). Mendo’akan jelek terhadap makhluk.. Makhluk loh ya, umat agama lain kan makhluk juga.. Berarti ya tetep jangan dido’akan yang jelek2..

Jadi mereka yang ngomong2 kasar & buruk dari atas panggung / mimbar itu sebetulnya rujukannya dari mana ya ??.. Ahh, sudahlah….. (^_^)/

pelajaran utama..

Untitled-1

Terakhir reunian sama temen2 kuliah S1, ada temen deket yang ngomong gini: “Kalo lu bisa jadi pengusaha, gw kebayang sih Gie, tapi kalo lu bisa jadi dosen, itu gw nggak kebayang sama sekali..!!” Gwakakak.. Lah guwe-nya sendiri juga bingung koq..

Mungkin karena dari dulu sukanya komik, maen game, dan hal2 konyol lain.. Sampe sekarang pun rasa2nya masih begitu.. Liat aja Quote2 Su’oD, jauh dari kesan serius.. Atau di tiap postingan, tulisan gaya bahasa verbal, suka2 tanpa mikirin tata bahasa, bahkan pake’ “elu guwe”.. Berasa nggak dosen banget..

Setelah mengalami sendiri jadi siswa, mahasiswa, kemudian menjadi pengajar, gw semakin menyadari satu hal: Sejatinya BUKAN GURU YANG MEMILIH MURID, tapi murid yang memilih guru.. Persis seperti kisah2 kungfu klasik, para murid lah yang mencari & memilih sendiri gurunya, yang dinilai pantas bagi dirinya..

Si guru sendiri seringkali diceritakan “datar” atau acuh.. Yaah, memang begitulah orang bijak hebat yang sebenarnya.. Seringkali merasa biasa saja, tidak merasa bijak, bahkan seringkali merasa tidak pantas untuk punya murid “formal”..

Gw memang dosen bagi semua mahasiswa yang pernah gw ajar, tapi apakah gw adalah guru bagi mereka semua??.. Belum tentuuu.. Hubungan guru dan murid sejati tidak sesederhana itu..

Mahasiswa/i2 yang selalu datang telat, kata2 / nasihat dosen tidak didengarkan (apalagi mencoba diamalkan), tugas selalu terlambat seadanya, dan sering nggak masuk kelas.. Apakah kesemuanya itu bisa disebut sebagai hubungan guru dan murid ??.. I don’t think so..

Tapi gw juga tau, ada dari mereka yang benar2 niat belajar.. Datang lebih dulu dari dosen, fotokopian tiap pertemuan bener2 disimpen, bahkan mereka “koleksi” sampe jadi alumni untuk kemudian suatu saat dibaca2 kembali..

Gw sendiri pun seperti itu.. Nggak semua dosen dulu itu sepertinya bisa gw anggap sebagai guru.. Ada yang tidak berkesan sama sekali, “hampa”, bahkan sampe lupa namanya.. Tapi ada juga yang bener2 gw inget.. Sampe sekarang fotokopiannya masih gw simpen, serta sejumlah kata2 beliau pun masih lengket di kepala gw dan masih gw coba untuk amalkan..

Seseorang yang lain yang juga gw anggap sebagai guru pernah berujar: “Dalam mengajar itu, sebenernya THE REAL LESSON IS YOU !!.. Anda adalah pelajaran utamanya..”.. Jadi tugas guru pertama kali sebelum menyampaikan pelajaran adalah berusaha membuat hati si murid tertarik dengannya.. Entah gimana caranya, kalo itu bisa tercapai, materi akan lebih mudah untuk bisa “masuk” ke mereka, dan kelas akan selalu ramai..

Sebuah nasihat yang buat gw cukup logis.. Karena memang seringkali sebuah mata pelajaran / mata kuliah menjadi favorit, bukan karena materinya, tapi karena pengajarnya..

Selamat Hari Guru.. (^_^)/