me|write, spiritual
Comment 1

kulit simbol..

Ada cerita sufi jadul: terdapatlah dua orang dalam perjalanan sehari penuh.. Saat waktu sholat tiba, mereka pun sholat.. Keduanya bergantian membaca do’a usai sholat.. Jadi, pas waktu Dhuhur, si A membaca do’a usai sholat, kemudian saat Ashar, si B yang membaca do’a usai sholat..

Kelar si B baca do’a, si A berkomentar: “Masbro, tata bahasa do’amu salah, terus pe-lafalanmu juga terdengar kurang fasih..”.. Si B cemberut dikit, dan diem aja.. Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui hutan yang sepi..

Di dalam hutan, tiba2 seekor singa muncul dari semak2 di hadapan mereka.. Singa mengaum keras hingga mereka berdua pun ketakutan.. Kemudian si A segera berdo’a, memohon dengan kefasihan bahasa dan pelafalan yang mumpuni supaya singa itu segera pergi..

Tapiii, tuh singa nggak juga pergi.. Melihat si A gagal, si B pun mencoba berdo’a juga.. Dan ternyataa, usai si B berdo’a, si singa langsung pergi.. Si A yang memiliki kefasihan dan pelafalan oke melihat itu dengan penuh tanda tanya.. “Koq bisa sih do’aku gagal, dan do’amu berhasil ??..”

Si B menjawab: “Karena engkau lebih mementingkan bagusnya pengucapan daripada makna do’a itu sendiri..”

Ya gitu deh.. Kita nih seringkali sibuk dan lebay dengan “wajah” dari simbol2, tapi tidak getol terhadap maknanya.. Gw jadi teringat kisah “pentolan” biksu Zen yang buta huruf, dan ditanya oleh biksu kutu buku: “Anda bahkan nggak bisa mengenali huruf, gimana bisa memahami artinya..??”.. Si pentolan Zen ngejawab: “Kebenaran tidak ada kaitannya dengan kata2..”

Lantas pentolan Zen menunjukkan jarinya ke bulan, sambil berkata lagi: “Kebenaran bisa diumpamakan seperti bulan terang di langit, dan kata2 bisa diumpamakan seperti jari..”

Jari bisa nunjukin posisi bulan, tapi jari kan bukan bulan.. Namun supaya orang sekitar kita bisa lihat bulan, kita memang perlu melihat kemana jari mengarah.. Jadi, maksud dari si pentolan Zen: Kata2 bukanlah kebenaran, tapi BISA menunjukkan ke arah kebenaran…

Lihat gimana penceramah2 / ustadz / ustadzah “aneh” merangkai kata dengan indah, dibalut emosi, seakan2 yang ia lontarkan itu benar (jari), padahal esensi sejati kebenarannya (bulan) belum tentu ??.. Berapa banyak dari kita kemudian “terjebak” untuk melihat “jarinya” saja, dan bukan bulannya..?

Bupati Cianjur ngadain gerakan sholat subuh berjama’ah di mesjid.. Eh, usai sholat, serah terima uang korupsi di halaman mesjid.. Mesjid dan kubahnya cuma jadi simbol..

Lihat patung, salib, dan topi natal takut.. Sama orang lain prasangka buruk, sampe2 orang mau numpang sholat di mesjid digebukin rame2 hingga tewas..

Berapa banyak orang bisa membaca kata2 petunjuk di kitab sucinya (melihat jari), tapi gagal melihat substansinya, alias masih korup dan dzalim (nggak liat bulannya..??)..

Advertisements

1 Comment

  1. its true..realita banget skrg…, asal berbalut sorban udah bisa gaet pengikut.., menyibukan diri mengkritik, mempetisi krn selembar kain di TVC yang bisa merusak moral bangsa,tapi acara ‘sampah’ tiap hari berisi ghibah dilahap bulat2, lebarnya kain yg menutupi aurat jg ga menjamin bisa ngejaga jari manisnya nulis kata2 buruk di sosmed. wajah, penampilan..hmm

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s