Latest Posts

no.. not again !!!

kemaren malem terima email dari seorang teman waktu SMA dulu.. nih gw copy paste deh emailnya:

Ogie,

Believe it or not, your mail have been inspired me to become entrepeneur. I’ll quit for my decent job,.and start to reach my dream… So, I’m asking you as an expert,…. What kind a business is good at this time

Regards, xxxxx

GWAAAKKS !!! jatuh lagi dah seorang korban… mbok ya dia gak usah bilang kek kalo dia keluar ada unsur inspired dari gw.. masalahnya gw jadi kepikiran.. iye kalo dia nekat keluar terus sukses, nah kalo nggak gimana ?? adduuuhh.. semoga sukses dah buat lu wahai teman… oh iye.. to call me as an expert is TOO EARLY… yes, a lot of years too early !!

buat gw pribadi, ini email yang cukup bikin gw kaget.. temen gw ini udah nikah, punya anak dua dalam sekali persalinan alias kembar.. so far, kalo arisan SMA Al-azhar pejaten pun dia jarang banget dateng.. jadi paling tau kabar dari friendster… yang bikin gw kaget ituuuu, tempat kerjanya dia itu loh.. dia bekerja di HALIBURTON.. gile, kurang apa jugak di sono ?? pake keluar segala… yaah.. gw gak tau sih apa impian dia atau motivasi dia… yang agak gw khawatir itu kalo dia kurang siap.. bayangin aja, dari ada income rutin dan berbagai tunjangan yang oke tiap bulan, tiba-tiba stop begetoh, masih butuh waktu buat mikir lagi mau bisnis apa.. kalo sebelum keluar dia udah tau sih yah masih mending..

sebelumnya ada beberapa temen gw juga yang akhirnya beneran keluar terus nyoba berbisnis, terus dianya kalo gw liat gak konsisten gitu, Alhamdulillahnya ada perusahaan link dari kantor lamanya yang narik dia.. akhirnya dia kerja lagi..

dunia bisnis emang kejam.. kalo orang kerja kantoran ibarat udah tau rute yang akan dilalui, dimana belokan, abis tol ini tembusnya ke mana, lampu merah dimana, perempatan kedua mesti kemana.. kurang lebihnya jenjangnya sudah ketahuan… memang tetap nggak ada yang pasti sih…

kalo orang berwirausaha itu ibarat memulai di tengah hutan belantara, jalannya sedikit perlu ngeraba-raba, jarak pandang gak penuh, bisa ketemu macan, bisa ketemu tambang emas kecil, bisa kejeblos jurang, bisa kejatuhan duren atau ketemu tambang minyak besar.. serba penuh ketidak pastian… tapi untuk level tinggi, sekali dia dapet sebuah tambang yang besar atau berhasil mengelola maksimal tambang-tambang kecil, bisa aja dia ngebabat hutan belantara itu, dibentuklah sebuah kota dengan rambu, jalan, jembatan, jalan tol yang nantinya akan diisi yaah orang-orang pegawai kantoran itu.. (no offense…)

Apapun pilihan ada resikonya.. mungkin lebih ke panggilan hati nurani.. masalah derajat, rejeki, semua sama di mata Allah.. mo wirausaha kek, karyawan kek.. bukan berarti yang satu lebih tinggi atau lebih hebat dari yang lain…

Belum lama kemarin sebuah berita di koran kompas menulis “pengangguran meningkat 3 kali lipat”.. dan di sebuah majalah, ada yang memprediksi total jumlah pengusaha di indonesia kurang lebih hanya 440 ribu dari 220 juta penduduk indonesia.. berarti ini nggak sampai 1 persennya…

So, temanku yang baik.. smoga tekad dan niat mu lurus… bisa tetap istiqomah, tawakkal selalu dan sukses dalam usaha yang dirintisnya nanti… Sesungguhnya kita emang gak berdaya sama sekali, dan hidup kita bener-bener ada dalam genggaman Allah…

“Ayo Menulis!”

Description:
ternyata menulis itu manfaatnya gak cuman ke otak yah..

Ingredients:
keyboard ??

Directions:
“Orang yang memiliki kebiasaan menulis memiliki kondisi mental lebih
sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukannya. ”
— James Pennebaker, Ph.D., dan Janet Seagal, Ph.D., University of
Texas, Austin, dalam Journal of Clinical Psychology.

“AYO BELAJAR!”, begitulah perintah orang tua terhadap anaknya ketika
sang anak ketahuan sedang asyik menonton televisi atau bermain game.
Kalimat generik dari orang tua mana pun, bahkan hal serupa pernah
kita alami ketika kita masih kanak-kanak. Namun, rasanya kita jarang
mendengar atau bahkan tak pernah ada orang tua yang menyuruh anaknya
untuk menulis? “Ayo menulis!”, pernahkah Anda mendengarnya?

Betul, menulis. Tak lazim memang perintah itu. Bagi anak-anak yang
masih terbatas kemampuan menulisnya pasti akan mendelik. “BT ah”
mungkin kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya. Lagi pula,
jangankan anak-anak, orang dewasa pun pasti akan kesulitan untuk
diberi perintah seperti itu. Menulis?

Betul, menulis. Sederet kalimat akan meluncur. Bila semua orang bisa
menulis, tentu negeri ini akan penuh dengan karya sastra. Mungkin
juga sastra tidak akan ada lagi, kalau semua orang bisa menulis,
apalagi dengan kalimat yang indah dan berirama layaknya pujangga.
Menulis memerlukan keterampilan tersendiri. Benarkah demikian?

Tidak juga sebenarnya. Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan
kegiatan tulis-menulis, bahkan secara menyenangkan. Tak ada
keterampilan atau keahlian khusus dalam menulis. Anda mungkin
mengenal nama Rachmania Arunita. Dia adalah perempuan muda pengarang
novel remaja best seller, `Eiffel, I’m in Love’. Rachma mengaku pada
awalnya tidak suka menulis. Tapi ketika guru bahasa Prancis
mewajibkan murid-muridnya untuk membuat sebuah karangan, dia mulai
ketagihan menulis. Rachma berkisah, awalnya ia sering melakukan
plagiat alias menjiplak tapi ketahuan. Rachma pun kena omel dan
dihukum untuk membuat PR mengarang. Tak diduga, hasil karangannya
mendapat acungan jempol gurunya bahkan dipuji di depan kelas. Mulai
dari situ Rachma pun ketagihan menulis hingga akhirnya ia menelurkan
novelnya yang ternyata meledak di pasaran. Bahkan kemudian diangkat
dalam film dengan judul yang sama, dan berhasil mengundang dua juta
penonton. Kebanyakan dari mereka adalah kaum remaja.

Persoalan lain yang kerap mengganggu proses menulis adalah soal
mood. Lainnya? Fasilitasnya tidak tersedia dengan lengkap, seperti
komputer, laptop atau lainnya. Ah, itu sih alasan klasik. Lihatlah
Agatha Christie, pengarang novel misteri terkenal. Anda mungkin bisa
membayangkan susahnya orang menulis saat itu, di zaman tahun 1920-
1930an. Namun dengan segala keterbatasan peralatan, lahir novel-
novel berkelas dunia dari Agatha Christie, Ngaio Marsh, Sir Arthur
Conan Doyle dan seabreg pengarang top lainnya.

Jadi sesungguhnya yang paling penting untuk menulis ialah niat dari
awalnya. Kesungguhan tanpa dimulai dengan niat pada awalnya, tentu
tak akan terlaksana dengan baik. Orang bijak bilang bahwa cara yang
paling sederhana untuk menumpahkan isi hati dan pikiran adalah
dengan menulis, karena bila tidak, ia seperti sebuah saluran, suatu
saat tersumbat dan meledak.

Seorang wanita bernama Dewi Hermayanti dalam suatu milis
menceritakan unek-uneknya. Dewi mengatakan, “Kadang-kadang perlu
rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati lewat tulisan.
Apalagi rasanya sudah sesak di dada. Cuma apa yang harus ditulis,
bingung tidak apa yang akan ditulis. Tapi dia menyadari, menulis
adalah sangat penting. Aneh memang. Tapi begitulah, Andai saja otak
kita punya tombol print mungkin gampang saja mengeluarkan isi otak
kita. Tinggal pencet print terus select subject, langsung keluar deh
apa yang mau kita ungkapkan dalam tulisan. Sayang, otak kita cuma
bisa memerintah si tangan untuk bergerak sesuai yang diperintahkan. “

Terkesan dengan unek-unek tersebut, Pak Hernowo dari Penerbit Mizan,
menanggapi posting Ibu Dewi. Dia pernah melakukan studi kecil-
kecilan tentang kegiatan menulis. Selama melakukan studi itu, nah
ini yang penting, ia kemudian bertemu dengan Psikolog Pennebaker
yang menganggap menulis dapat mengatasi depresi. Menulis itu dapat
menyehatkan tubuh dan jiwa. Pennebaker meniru tradisi confession
dalam agama Katolik dan menerapkannya pada pembuatan catatan harian.
Bahkan seorang penulis kondang, Fatima Mernissi, juga bilang bahwa
menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah. Hernowo pun
bercerita bahwa ia bertemu dengan ahli linguistik bernama Dr.
Stephen D. Krashen. Penelitiannya menunjukkan bahwa menulis dapat
memecahkan problem-problem diri. Katanya, menulis itu menata
pikiran. Jadi, kalau kita dapat menata problem kita, bisa jadi
problem kita bisa hilang. Dan dia juga membuktikan bahwa menulis dan
membaca itu tidak dapat dipisahkan. Membaca itu memasukkan, dan
menulis itu mengeluarkan. Demikian Hernowo menjelaskan dalam
postingnya.

Keampuhan menulis tidak saja dialami Hernowo dalam penelitian kecil-
kecilannya itu. Dari seberang sana, tepatnya di Amerika Serikat,
Joshua M. Smyth, psikolog dari Syracuse University lebih jauh lagi
menyatakan menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas
dan hormonal dalam merespons beban stres, dan meningkatkan hubungan
dan kemampuan kita menghadapi stres.

Contohnya, ada juga. Dia adalah Debra Van Wert, 44 tahun, dari
Rochester, New York, setelah menderita Pre-Menstrual Syndrome (PMS)
atau sindrom menjelang menstruasi selama lebih dari satu dekade,
Debra mulai mencatat gejala-gejala yang dialami tubuhnya. Debra
mengatakan, “Dengan membuat catatan, saya dapat mengantisipasi fase-
fase hormonal dan mengidentifikasi minggu kapan saya berada pada
kondisi paling fit dan paling buruk.”

Kegiatan menulis tidaklah dimaksudkan untuk menjadi sastrawan besar,
tapi paling tidak punya manfaat bagi kesehatan. Sebagaimana dikutip
dari Majalah Reader Digest Indonesia, April 2005, berikut adalah
sejumlah keuntungan dari menulis:

MENGURANGI BERAT BADAN. Para peneliti dari Women’s Health
Initiative menarik kesimpulan bahwa catatan harian tentang makanan
yang dikonsumsi membantu menimbulkan kesadaran tentang konsumsi
kalori dan asupan lemak. Dan jika Anda mengetahui seberapa banyak
yang telah dilahap, akan lebih mudah menguranginya.

MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR. Ilmuwan di Temple University menemukan
bahwa wanita yang menuliskan pengalaman traumatisnya – seperti
pemerkosaan atau kecelakaan lalu lintas yang parah – ternyata jarang
mengalami sakit kepala, susah tidur, dan gejala depresi dibandingkan
mereka yang tidak mau menuliskannya.

MELAWAN PENYAKIT. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2002 di
Ben-Gurion University, Israel, disimpulkan bahwa mereka yang
menuliskan sebuah kejadian yang menjadi beban pikiran, akan
mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke klinik pengobatan selama l5
bulan ke depan.

MENGURANGI STRES. Sebuah studi di Chicago Medical School menemukan
bahwa ketika penderita kanker yang kurang diperhatikan keluarganya
menuliskan tentang penyakit yang diderita selama 20 menit setiap
hari, mereka jadi jarang mengalami stres selama enam bulan
berikutnya.

Nah, mengapa Anda tidak menyiapkan pulpen dan kertas untuk mulai
menulis sejak sekarang. Karena ternyata menulis bukan hanya
menyenangkan, tapi juga menyehatkan lahir dan batin. Bahkan bisa
jadi Anda dapat menangguk untung karenanya. Dan, jangan lupa, bila
suatu saat Anda sakit, setidaknya satu resep sudah di
tangan: “menulis”. Ini bukan sekedar lelucon. Penelitian telah
membuktikannya. So, tunggu apa lagi? Ayo Menulis!

Sumber: “Ayo Menulis!” ole
h Sonny Wibisono, penulis, tinggal di
Jakarta

cursed !!

sabtu kemaren 9 feb, kumpul-kumpul bareng beberapa family di kelapa dua, termasuk family2 yang jauh, eehh.. dalam arti gw kok yah baru kenal saat itu sama beberapa tante dan oom gw.. diantara beberapa family gw ini, ternyata ada satu orang tante gw yang pinter nerawang alias pinter nebak-nebak masa depan.. hehe… dan ternyata lagi, di keluarga besar dari nyokap, tante ini emang dari dulu udah terkenal sama maen terawang2an masa depan dengan akurasi yan cukup gaswat… langsung deh setelah makan siang, beberapa orang diterawang.. dibaca karakternya, nebak-nebak masa depannya.. kalo soal karakter, dia bisa nebak karakter adik2 gw, kakak gw secara tepat.. padahal ama adik gw yang cewek, nih tante baru ketemu saat itu.. ama kakak dan adik gw yang cowok juga baru ketemu minggu kemaren.. sebelumnya gak pernah ketemu.. gokil jugak nih orang.. tante-tante gw yang laen jugak ditebak, dan ada yang emang udah jadi saksi hidup akurasi tebakannya..

Gw iseng-iseng nanya ke tante dukun ituh,”tan.. aku niat mo nikah taon ini neh tan.. gimana.. bisa nggak yee?”.. Tante gw ngejawab “gyahaha.. ntar dulu luu.. masih agak lama luu.. tunggu 2 taon lagiii..” … GYYAAA…. jawaban yang menohok.. hihihi.. terus tante gw yang laen bercerita.. “gie.. dulu banget tante juga pernah diprediksi sama tante “itu”, katanya tante gak bakal selesai kuliah, soalnya sebelum lulus kuliah tante bakal dinikahin sama orang.. Tante langsung gak percaya, wong niatnya mau lulus kuliah dulu sebelum nikah.. tapi ternyata…. “… Hmm.. tebakan tante dukun itu bener.. tante gw gak kelar kuliah sampe sekarang, udah dinikahin sesuai prediksi, dan sudah punya anak laki yang menurut ukuran gw cukup sukses.. AAWWW.. gelo bener..

Gw seh sebenernya gak percaya sama yang namanya ramalan.. cuman sekedar buat seru-seruan ajah kalo lagi ngumpul-ngumpul.. tapi memang harus gw akui ada bebereapa orang yang gw gak tau maksudnya Allah apa, diberi kelebihan dalam hal-hal kayak gini.. kalo menurut gw seh takdir bisa diubah, atau lebih halusnya lagi, pindah ke takdir yang lain.. contoh, kalo kita harus melewati desa yang kena wabah penyakit, terus kita masuk ke situ, sudah hampir dipastikan kita bakal terjangkit penyakit juga.. terus gimana caranya ?? yah pilih jalan lain, jangan lewat desa itu.. kedua pilihan itu termasuk takdir juga toh ??..

Takdir pasti itu apa yang udah lewat, tahun kemaren, hari kemaren, menit yang lalu, atau apa-apa yang kita gak bisa memilih, misalnya warna rambut, lahir dimana, orang tuanya siapa, bentuk wajah gimana, kematian, dll.. Takdir di masa depan masih bisa berubah.. masa depan dibentuk oleh berjuta variabel.. dan Allah yang maha bijaksana yang mengaturnya dengan rapi.. masa depan bisa tergantung sama ikhtiar kita, do’a kita, do’a temen, do’a orang tua, amal kita, dll.. boleh jadi kita memberi uang pada pengemis, terus dia mendo’akan sesuatu yang akhirnya makbul ?? who knows ?? perhitungan matematika Allah memang lain.. yang jelas kapan gw bisa bener kejadian nikah, itu gw pasrahkan sama yang Maha Kuasa.. tapi, sesuai sama blog resolusi gw kemaren, emang gw niatnya taon ini.. tapi kalo Allah merencanakan lain ya sudah, gw ikhlas banget, berarti gw masih harus ngerjain yang lain dulu.. nikahnya nanti taon ini kek, taon depan kek, atau emang bener dua taon lagi, itu urusan Allah.. yang pasti, apapun kehendak Allah nantinya, gw yakin memang itu YANG TERBAIK buat guwe..

be good, juniors !!

rabu kemarin tanggal 30 januari berkunjung ke tempat lahir komik karpet biru, Lembaga Pers Mahasiswa Suara Ekonomi.. diundang oleh junior-junior untuk diwawancara mengenai profil alumni untuk dimuat di majalah kampus edisi terbaru.. halah ?? capability gw apa yak ampe perlu diwawancara segala.. berhubung lama gak maen kesana, terus kangen juga sama ayam alaking nya, hehe.. jadilah gw putuskan untuk bersilaturahmi kesana..

Secara fisik ruangan udah berubah, warna tembok dan karpet nggak lagi “biru” yang inspired kite dulu ambil nama kokabi.. tembok sudah dicat ulang berwarna hijau.. beberapa coretan kenangan gw, epiet dan ardie bikin gw sedikit bernostalgia.. khuhuhu.. bener-bener sudah lama banget.. mengenai isi orang-orangnya juga udah agak beda seh.. hihihi.. kalo dulu jaman pendiri kokabi aktif, mahasiswa tingkat satu jumlahnya sedikit, kebanyakan kita yang aktif udah pada tingkat 3 semua.. nah sekarang, hasil dari perekrutan pendidikan dasar jurnalistik kemarin, semuanya anak tingkat satu.. dan parahnya lagi cewek semua !!! cowoknya yang mau aktif sepertinya cuman 1 orang.. gwaaa.. gw pikir nanti mereka bakal kesulitan nih kalo mau bikin majalah.. soalnya dari jaman kita bikin majalah, selalu ada “sesi begadang” nge lay out majalah yang dilakukan oleh cowok-cowok.. nah kalo cewek semua gini piye tooo..?? hehe.. semoga aja kedepannya nanti ada solusinya deh..

dengan beda umur 10 tahun lewat, gw kok ya masih bisa nyambung ama mereka yah ?? voltus V sama megaloman mereka udah gak kenal loh !!.. hihi.. bener-bener beda generasi.. kadang gw ngerasa aneh, rejeki gw kok banyak bertemen sama yang umurnya jauh dibawah gw ye ??.. di komplek gw sendiri pun, waktu gw maen basket, maennya sama anak kuliahan, SMA dan SMP !!.. gokil juge yeee.. tapi bukan berarti gw gak seneng seh.. seneng malah, bisa bikin ngerasa muda terus.. khihihi.. yang jelas memang ngobrol sama mereka yang jauh lebih muda buat gw lebih enak.. mereka gak mandang gw kerja dimana, jadi apa, gaji gw berapa, udah hebat apa belom, lebih hebat dari gw apa nggak.. yang biasanya obrolan atau pandangan “menakar” seperti ini gw temui kalo ngobrol sama orang berpendidikan yang sepantaran atau yang lebih tua di kondangan atau dimanapun.. sepertinya junior-junior itu cuman memandang “oohh.. ini temen gw yang umurnya jauh lebih tua dari gw.. jadi gw harus hormat..”.. udah.. sepertinya cuman itu.. nilai plus kita dimata mereka nanti itu tergantung bagaimana kita bersikap..

mungkin ada benernya kalo kita punya gelar jabatan, kekuasaan, atau status pendidikan bisa bikin kita lupa diri, jadi bisa mandang remeh orang laen.. termasuk ke orang yang jauh lebih muda.. padahal seh bedanya kita sama orang yang mudaan basically cuman kita yang lebih tua itu ngeliat matahari duluan, dan mereka belakangan.. jelas aja jarak dan pengalaman yang udah ditempuh dalam hidup jadi berbeda.. kalo seandainya mereka start melihat matahari pada tahun yang sama kayak kita, bisa jadi ceritanya bakal laen.. hihihi..

Pada dasarnya gw seneng sharing apa yang gw tau ke siapa aja yang mau nanya.. sharing ke yang jauh lebih muda apalagi.. seperti jadi pembicara soal desain grafis di pelatihan jurnalisik kemaren ituh.. atau kalo temen2 gw yang jauh lebih muda nanya soal apa aja yang mau mereka tau dari gw.. timbang nanya ke orang2 gak jelas (kayak gw jelas ajah.. hehe).. Insya Allah gw kasi masukan yang baek-baek deh.. tapi soal “salah tanya orang” ini emang pengalaman pribadi seh.. jadi jangan sampe mereka ngalamin apa yang gw alamin.. toh anjuran Islam juga hendaknya kita meninggakan generasi yang lebih baik..

Sokrates pernah ditanya oleh seseorang,” Hoi sokrates, kenapa sih engkau selalu berteman dengan anak-anak muda ?” Sokrates menjawab, “Aku melakukan hal itu sebagaimana pelatih kuda mengambil kuda-kuda yang muda untuk dilatih, bukan kuda-kuda tua yang lemah”..

siapa yang gak dewasa hayoo…

hari sabtu minggu kemaren hunting lagi ke senen.. ngubeg-ngubeg ke tempat komik bekas.. Alhamdulillah yang niat mo gw beli ada.. komik DORAEMON jadul.. cetakan elex pertama kali.. gak kumplit semua sih.. tapi sebagian besar ada, paling sisa 5 atau 6 nomor yang gak ada.. dapet tambahan lagi komik MARS sampe tamat, soalnya nanggung udah koleksi SYLPHEED yang notabene ada benang merah antar keduanya..

habis baca postingan roel di karpet about comic geek.. mungkin gw termasuk jugak yak.. kalo ngeliat komik gw udah banyak banget.. ampe bikin rak yang gw desain sendiri di samping lemari baju kamar gw.. tinggi pula.. dari lantai sampe langit-langit kamar.. gw taksir, 70% rak itu udah terisi.. (hehe.. bisa liat di poto.. gokil ye..).. Tapi jujur komik-komik inilah yang udah sangat berjasa membikin gw jadi HOBBY BACA… dan gw berasa beruntung banget punya hobby positip gituh.. timbang hobby mabok or dugem ya gak seh ?? akibatnya di sebrang tower komik itu juga ada rak buku-buku laen.. bukan komik lagi tentunya.. tapi gak gw aplot disini.. malu.. jumlah isinya masih kalah jauh sama comic tower gw.. gwkakakak..

Mungkin masih ada sebagian orang berpikiran “udah gede kok masih baca komik ? kayak anak kecil aja kamu..” Kata-kata ini pernah terlontar bwt gw dari seorang sekuriti yang saat itu gw lagi baca komik sambil nunggu klien gw turun ke lobby.. Mungkin juga beberapa klien, teman, atau oom & tante gw berpikiran seperti itu, cuman gak dikeluarin aja.. hehe..

Tapi fakta yang gw temuin lain.. Gw suka banget manga soalnya banyak pesan yang bisa diambil.. hampir kebanyakan pesan moral yang ditanamin adalah SEMANGAT TINGGI, KERJA KERAS, YAKIN SAMA IMPIAN SENDIRI, NGGAK ADA HASIL INSTANT, SEMUA BUTUH PROSES, dan lain sebagainya. Bisa diliat usaha chinmi nguasain jurus-jurus yang diajarin gurunya, pasti babak belur dulu. Sena dalam komik Eyeshield 21 ancur-ancuran untuk bisa jadi pemain american football. Hanamichi sakuragi dalam slamdunk juga gitu. Passport Blue, Luffy dalam one piece, Kaza matsuri dalam Whistle, naruto dalam belajar rasengan dan jurus lainnya, semua seperti itu.. pasti ada babak belurnya dulu untuk mencapai sebuah hasil.. dan yang gw suka dan sesuai sama buku best seller quantum ikhlas adalah MEREKA YAKIN BANGET SAMA CITA-CITANYA, jauh sebelum mereka sampai ke sana, biasanya ada momen sang tokoh akan ngomong apa yang ingin diraihnya..

Comic geek kayak anak kecil dan gak dewasa ?? kalo dewasa ditarik kaitannya sama tanggung jawab, waktu kuliah gw bisa menyebutkan temen gw yang IPKnya diatas rata-rata yang juga punya hobby baca komik, jauh diatas mereka yang gak baca komik. Ini bukannya membuktikan mereka lebih bertanggung jawab ?? Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan.

kalo menurut gw tuh yang kayak anak kecil tuh para koruptor.. ibarat abis nyuri dendeng di lemari, terus ngakunya “nggak kok, saya gak ngambil dendeng”, tapi mulutnya belepotan minyak dendeng.. Artis yang ketangkep pake narkoba jugak sama, kayak anak kecil.. kalo dia lebih pake otak kayak orang dewasa pasti gak akan gitu deh jadinya.. coba pikir, badan sehat, income ada, istri cantik setia, tabungan masih ada jugak, anak masih jadi tanggungan, maenan banyak, NGAPAIN SEH maenan yang kayak gitu ?? kayak anak kecil aja.. hehe..

Yang ngontrol stock kacang kedelai dan barang pokok juga sama.. kayak anak kecil ajah, gak punya empati yang besar.. mikirin perut sendiri.. gak mikir hajat orang banyak.. mereka ngerti gak sih tahu tuh lauk yang banyak dipake tukang jualan di jakarta ?? Dua tukang ketoprak di komplek gw yang biasanya gw dan orang kantor beli buat sarapan ABSEN udah dua minggu.. Sore hari tiba, tukang somay hokie langganan gw tetap berjualan, langsung aja gw panggil lewat jendela kantor.. terbayang udah racikan kumplit somay, tahu, kol dan kentang di kepala gw.. sampe di gerobak, karena cukup akrab alias sering beli, gw tinggal nyebut,”yang biasa ya bang..”.. Hari itu ternyata jawaban si abang siomay nggak seperti biasanya “TAHUnya udah 3 hari ini gak ada gie…” …………GGGWWWWAAAAAAAA…!!!!!