Latest Posts

les males..

“pak.. saya tau buat sukses itu gak boleh males… terus gimana caranya supaya nggak males??”
Wak wawawaw…. Kalo elu-elu orang ditanya kayak gitu kira-kira jawabannya ape coba ?? hehehe… sebetulnya ini pertanyaan seorang mahasiswa gw yang mungkin penasaran atau tergelitik dengan pernyataan gw sebelum-sebelumnya… Gw sebelumnya memang pernah ngomong ke mereka “Dari seminar-seminar wirausaha yang gw pernah ikutin, banyak pembicara yang bilang kalo kendala orang2 kita tuh pada MALES-MALES !!”…
Yang gw rasain pun seperti itu… termasuk di tempat gw ngajar… saat pagi gw masuk kelas, mahasiswa yang stand by pasti dibawah 5 biji… seringan dua atau tiga… hehe… gw memang nggak pake peraturan telat setengah jam, gak boleh masuk kelas… yang masuk 1 jam sebelum kelas bubaran pun gw biarkan masuk, gw absen pula……. buat gw mereka udah pada dewasa… tapi belum sadar ajah… toh dengan telat datengnya mereka pun gw nggak rugi…
Balik ke pertanyaan diatas… spontan aje gw jawab.. “kesadaran…”… “sadar gak sih lu pade kalo setiap apapun yang kita pilih di dalam hidup ini ada akibatnya ?”…. menurut gw mau males atau rajin itu pilihan… nggak ada orang yang terlahir langsung rajin, tapi yang ada orang yang merajinkan dirinya….
“Terus milikilah impian… coba sekarang bayangin lu jadi orang sukses… udah ??…. nah sekarang, kalian geser tuh mimpi kalian, kalian liat, ada yang mesti kalian lakukan untuk nyampe ke situ kan ??”
Gw sekedar mencoba membuka kesadaran mereka secara sotoy (hehe..), kalo setiap mimpi pasti ada harganya… dan mustahil meraih mimpi dengan kemalasan…. Malah semakin besar mimpi, semakin besar harga yang harus dibayar… “naah.. kalian mau bayar harga itu nggak..?? kalo mau mah Insya Allah pasti dapet tuh mimpi..”
Ya gitu deh gw ngejawabnya… gw berharap ada perubahan, minimal gak males on time masuk kelas di minggu depan demi meraih mimpi…
Daaaannn…. Di mingggu berikutnyaaaaaa…..
Mereka tetep pada telat masuk kelas…. (^_^!)

menganjurkan tapi tak melakukan…

“kamu harusnya begini…. kamu harusnya begitu…. mestinya kamu melakukan ini, mestinya kamu melakukan itu…”….. “bla bla bla bla….” dan seterusnya….
Pernah ngalamin kondisi seperti ini ?? diberi anjuran macem-macem, tapi belakangan kita tau orang yang menganjurkan itu tidak melakukan anjurannya sendiri ??
Yang jelas gw rada takut menganjurkan sesuatu secara frontal ke orang lain, karena belum tentu gw sendiri sudah melakukan apa yang gw anjurkan itu… terlebih sekarang dah jadi dosen… kadang omongan gw di kelas spontan bisa ngeloyor begitu aja, dan mungkin aja yang gw omongin spontan ke mahasiswa itu adalah sebuah anjuran spontanitas tanpa pikir panjang… dan kalo nanti terbukti gw tidak atau belum ngelakukan itu, jatohnya gw jadi orang yang OMDO alias omong doang….
Yang sering gw temui di perjalanan hidup, rasa-rasanya banyak juga orang yang hanya pintar menganjurkan, tapi nggak bisa melakukan apa yang dia anjurkan.. “Jangan menyimpan dendam..” tapi dia sendiri nggak bisa melupakan kesalahan orang.. “kamu tuh harus ikhlas..” tapi dia sendiri nggak bisa terima keadaan kalo nggak sesuai keinginannya, maunya terima keadaan yang sesuai sama kemauan dia sendiriii aja… “Kamu harus berempati…” tapi dia sendiri nggak bisa memposisikan dirinya sendiri pada bagaimana keadaan lawan bicaranya…
Mudah memang untuk ngasi anjuran… tapi menyamakan apa yang sudah dianjurkan dengan perbuatan diri sendiri nggak segampang itu… Alangkah baiknya kalo kita sendiri sudah melakukan hal itu sendiri lalu baru kemudian dianjurkan ke orang lain… Karena kata-kata akan lebih memiliki ruh dan power bila kita sendiri sudah melakukannya….
Hal ini mungkin bisa juga terjadi karena orang yang menganjurkan itu hanya sekedar tahu, tapi tidak paham.. Terdapat perbedaan yang jauh antara orang yang sekedar tahu dan orang yang paham…
Hadist Nabi tertulis dalam salah satu buku Hamka: “Hendaklah kamu menjadi pemaham ilmu, jangan hanya jadi perawi ilmu”… dan kemudian Buya Hamka menuliskan maksud dari hadist tersebut: “jangan hanya pandai mengabarkan, menceritakan, mempidatokan, padahal tiada paham apa maksudnya…”.. singkat kata… kita juga harus bisa mengamalkan…

sabtu ini tidak lagi…

Mulai awal mei kemaren.. perkuliahan master gw berakhir sudah… seneng bercampur sedih seh… seneng soalnya proses lumayan panjang yang bikin gw begadang dan berkutat sama buku buat nulis paper akhirnya lewat sudah… hehe… sedih soalnya rutinitas hari sabtu yang biasanya selama setahun lebih ini gw isi untuk bertemu dengan orang-orang pinter dan berdiskusi bersama mereka untuk membuka wawasan udah nggak bisa terulang lagi…

Orang-orang pinter itu bener-bener membuka wawasan gw… kesannya sama sekali nggak ada ruginya kalo kita bisa jadi orang yang banyak tau… hehe… bisa banget yak mereka-mereka itu bikin level curiosity mahasiswanye meningkat.. Setelah gw melalui proses itu, rasanya gw pikir nggak ada ilmu yang tidak menarik… semuanya menarik…

Ngobrol sama mahasiswa jurusan yang lain, woow.. ternyata jurusan mereka pun rasanya menarik banget… keingin tahuan kita yang besar seringkali terbentur dengan keterbatasan waktu yang kita miliki untuk menyerap semuanya… ehehe.. mangkanya kadang ada beberapa kasus, kita banyak beli buku, tapi pas giliran baca waktunya nggak sempet atau kurang… akhirnya tuh buku tergeletak di rak, tertunda untuk dibaca….

“siapa saja yang berhenti belajar itu tua, entah pada usia dua puluh atau delapan puluh. Siapa saja yang masih belajar tetap muda” – Henry Ford.

“memang menyedihkan bahwa pengetahuan dapat dicapai hanya dengan kerja keras.” – W. Somersets

“silahkan anda mencari pengetahuan sebanyak mungkin, tetapi kalau tidak didukung imajinasi, maka yang akan anda miliki hanyalah pengetahuan, bukan kemampuan menaklukkan realita” – Albert Einstein.

“Ada pertanya’aaann ??”

Kalo gw ngomong gitu di depan kelas, pasti lebih sering banyak yang diem nggak bertanya.. entah karena paham atau bingung… hehehe… ntah itu di kelas pas gw ngajar, ataupun pas saat gw sendiri jadi mahasiswa… gw sendiri biasanya memilih untuk diem…. Mungkin gw gak sendiri, banyak kasus kayak gini di kelas mulei dari sekolah sampe perkuliahan… kalo berdasarkan pengalaman gw pribadi, yah ini emang kenyataan…
Ada orang yang bilang itu gara-garanya budaya kita yang selalu atau mungkin terlalu menganggap bahwa orang yang jauh lebih tua dari kita itu selalu lebih tau dan lebih bener dari pada kita… padahal belum tentu.. orang ini juga bilang, katanya kalo di barat sana, kelas bisa jadi ajang debat…. Dan buntutnya sang guru atau dosen yang kemudian harus turun membenahi apa yang salah dari debat isi kelas tersebut..
Mungkin ada benernya juga yee…. Yang gw rasain mulei dari SMA sampe kuliah juga rasanya kalo mau nanya tuh gimanee gitu… kadang juga ada rasa takut atau segen sama guru ataw dosen…. atau mungkin emang gwnya yang masih sering gak ngerti topik pelajaran… ngerti aja kagak, gimana mau nanya ?? hehehe…
Padahal bagus kalo orang memiliki budaya bertanya… terlepas sekritis atau segokil apa pertanyaan itu.. yang penting, dengan adanya pertanyaan di dalam diri itu, bisa menandakan kalo rasa ingin tahunya masi tinggi… dan bertanya bisa menjadi cara untuk mendapatkan ilmu dan wawasan baru… Ilmu bisa dimulai dari bertanya…
Rasulullah bersabda: “Ilmu itu seperti perbendaharaan yang sangat berharga. Kuncinya adalah bertanya. Bertanyalah kalian, mudah-mudahan Allah merahmati kalian; karena dalam hal bertanya itu, ada empat kategori orang yang diberi pahala. Orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengarnya dan orang yang menggemari mereka”. (Kanzul Ummal: 28.662)

Rahasia Keunggulan Para Tokoh Besar

Description:
bener-bener bukt kemanjuran IQRA’ !!!

Ingredients:
copas dari sini neh :

http://imperiumindonesia.blogspot.com/2007/08/if-i-have-been-able-to-see-further-it.html

Directions:
“If I have been able to see further, it was only because I stood, on the shoulders of Giants.” [Isaac Newton]

Semua tokoh–tokoh terbesar dunia adalah para penyerap ilmu pengetahuan besar. Mereka mendapatkan pengetahuan besarnya, terutama dari membaca. Mereka adalah kutu buku kelas berat.

Harun al-Rasyid (dari Masa Keemasan Peradaban Islam, Zaman 1001 Malam) adalah penggemar karya-karya Plato dan Aristoteles.

Napoleon adalah pembaca kelas berat. Dia membaca tentang Alexander the Great, Julius Caesar (juga “Perang Galia”), Plutarch, Homer, Plato, Rousseau, berbagai buku tentang kemiliteran, sejarah, pemerintahan, geografi, bahkan membaca Al-Qur’an semasa ekspedisinya ke Mesir.

Isaac Newton sejak muda membaca karya para tokoh–tokoh besar masa lalu, “The Giants”, Euclid, Kopernicus, Galileo, Descartes dan banyak lainnya.

Hitler adalah pembaca buku–buku militer, buku sejarah kebesaran Jerman, Bismarck, filosofi Nietzsche, dan banyak lainnya. Saat menganggur dipakainya untuk menghabisi buku–buku di perpustakaan di Wina, Austria.

Einstein suka bolos sekolah untuk bisa membaca lebih banyak.

John F. Kennedy tidak hanya pembaca buku. Ia menulis buku “Profiles in Courage” yang meraih penghargaan tertinggi Pulitzer tahun 1957.

Bill Gates (pendiri Microsoft, orang terkaya di dunia) menghabisi seluruh buku komputer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

Alexander The Great kemanapun pergi selalu membawa buku cerita kepahlawanan pahlawan besar Achilles berjudul “Iliad ” karangan Homer.

Mukjizat terakhir yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah sebuah buku.

Bagaimana Dengan Tokoh-tokoh Besar Indonesia?

Sukarno sejak remaja (di hbs/SMU) sudah senang membaca buku-buku filsafat Voltaire dan Rousseau, tokoh-tokoh Marx, Karl Kautsky, dan Lenin, juga para bapak bangsa Amerika, Washington, Jefferson, dan Lincoln. Ada juga Ernest Renan dan H.G Wells. Sukarno juga belajar berpidato selain dari Tjokroaminoto juga dari membaca buku seperti dari Adler dan Jean Léon Jaurès (1859-1914), pemimpin sosialis Prancis. (Siapakah tokoh-tokoh yang begitu dikagumi Sukarno ini? lihat Wikipedia.org)
(“selama masa hbs ia (Sukarno) bagaikan busa yang mengisap semua informasi intelektual yang bisa ia peroleh. ‘Buku menjadi teman saya,’ ceritanya.” Kutipan dari Soekarno, Biografi 1901-1950, Lambert Giebels).

Mohammad Hatta memiliki perpustakaan besar, sangat besar. Jumlah bukunya? 30.000 buah. Ia sudah sangat gemar membaca sejak kecil. Semua Bapak bangsa Indonesia sejak sekolah menengah (Hbs) menguasai 4 bahasa sekaligus, Belanda, Prancis, Inggris, Jerman. Ini berarti mereka juga mempunyai kemampuan menyerap pengetahuan, dari 4 bahasa dunia sekaligus. Keunggulan mereka, daya belajar mereka, pengetahuan mereka yang unggul.. (cukup jelas kan kenapa mereka dulu bisa mengalahkan Belanda?)

Jika para tokoh bangsa Indonesia itu menyerap semua pengetahuan dunia seperti itu, bagaimana mungkin mereka tidak menjadi sejajar dengan para tokoh besar dunia?
Jika nanti Ratusan Juta Manusia Indonesia menyerap pengetahuan dari semua manusia-manusia terbesar dunia, bukankah ratusan juta manusia itu juga akan menjadi manusia-manusia yang unggul di dunia?
(Ratusan juta manusia yang akan menyerap semuanya, dari Nabi Muhammad, Napoleon, sampai Kennedy. Dari Leonardo da Vinci, Newton, sampai Einstein. Dari Adam Smith, Rockefeller, sampai Bill Gates. Buku. Membaca). Dan pastikan anak anda senang membaca, dia mungkin juga akan jadi orang besar.

Great Input = Great Mind.

(sinetron input = sinetron mind. Ratusan juta orang nonton sinetron = sinetron nation = dark ages..).

Read. Learn.