credits:
tukang potonya : ogie urvil
asisten tukang poto : arief budhi
tukang digital imagingnya : ogie urvil
tukang croping mobil : oyak, rimba rakha dkk..
tukang tagih invoicenya : orang akunting…
credits:
tukang potonya : ogie urvil
asisten tukang poto : arief budhi
tukang digital imagingnya : ogie urvil
tukang croping mobil : oyak, rimba rakha dkk..
tukang tagih invoicenya : orang akunting…
Teresa Amabile telah melakukan studi tentang kreativitas hampir selama 30 tahun, melalui kerjasamanya dengan para mahasiswa kandidat Ph.D, manajer berbagai jenis perusahaan dan mengumpulkan 12 000 jurnal harian dan serta berbagai aktivitas lainnya yang terkait dengan proyek kreativitas. Berdasarkan hasil telaahannya dia mengungkapkan 6 pandangan yang keliru atau mithos tentang kreativitas yang terjadi selama ini. Keenam mithos tersebut adalah.
1. Creativity Comes From Creative Types
Ada anggapan bahwa kreativitas seolah-seolah hanya berasal dan milik kalangan atau golongan tertentu, misalnya kelompok orang-orang yang bergerak dalam bidang R & D, marketing atau advertising, yang didukung dengan bakat, pengalaman, serta kecerdasan yang luar biasa. Namun studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan normal pun sesungguhnya dapat memiliki kemampuan untuk bekerja secara kreatif, hanya mereka kadang-kadang tidak menyadari potensi kreatifnya, karena mereka bekerja atau berada pada lingkungan yang mengahalangi tumbuhnya motivasi intrinsik. Motivasi instrinsik inilah justru merupakan faktor yang dianggap dapat menyalakan seseorang untuk bekerja secara kreatif.
2. Money Is a Creativity Motivator
Banyak orang beranggapan bahwa uang dianggap sebagai pemicu dan pendorong kreativitas. Studi eksperimental yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ternyata uang bukanlah apa-apa. Ketika ditanyakan kepada sejumlah orang: “Termotivasi oleh penghargaan (baca: bonus) apa hari ini Anda bekerja?. Mereka menjawab “ Itu pertanyaan yang tidak relevan”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam bekerja mereka tidak hanya berfikir tentang berapa upah yang harus diterima per harinya.
Tentunya setiap orang membutuhkan kompensasi yang adil atas kinerjanya, tetapi ternyata banyak orang cenderung meletakkan nilai–nilai (value) yang lebih jauh, dan tidak hanya sekedar uang. Orang menjadi sangat kreatif tatkala lingkungan kerja memberikan ruang yang terbuka bagi dirinya untuk berkreasi dan memperoleh perluasan keterampilan untuk kemajuan nyata dalam bekerjanya. Hal yang penting agar orang menjadi kreatif adalah berusaha menempatkan mereka tidak hanya berdasarkan pengalaman kerja semata tetapi juga harus memperhatikan minatnya (interest), sehingga mereka akan lebih peduli terhadap apa yang dikerjakannya.
3. Time Pressure Fuels Creativity
Banyak orang berfikiran bahwa orang menjadi kreatif ketika dia bekerja di bawah tekanan deadline. Namun hasil studi menunjukkan kebalikannnya. Orang menjadi miskin kreativitas ketika harus bertempur dengan waktu. Tekanan waktu yang hebat dapat mencekik kreativitas sehingga dalam bekerja mereka tidak mampu lagi untuk berusaha mendalami masalah-masalah yang ada.
Kreativitas mensyaratkan adanya masa inkubasi, orang membutuhkan waktu untuk mendalami suatu masalah dan membiarkan untuk menggelembungkan segala pemikirannya.
Bekerja dengan deadline akan menimbulkan banyak masalah sehingga banyak menyita waktu mereka untuk melakukan terobosan-terobosan pemikiran kreatifnya. Agar orang menjadi kreatif harus terlindungi dari berbagai gangguan atau masalah, sehingga dia dapat lebih fokus dalam bekerjanya.
4. Fear Forces Breakthroughs
Seringkali orang beranggapan bahwa ketakutan, kecemasan dan kesedihan akan menjadi kekekuatan seseorang untuk menjadi kreatif, sebagaimana banyak dibicarakan dalam beberapa literatur psikologi. Tetapi hasil studi tidak melihat ke arah itu. Kreativitas muncul justru pada saat orang merasa senang dan bahagia dalam bekerja. Terdapat korelasi antara kebahagiaan seseorang dalam bekerja dengan tingkat kreativitasnya. Bahkan, kebahagaian seseorang pada suatu hari seringkali menjadi ramalan kreativitasnya pada hari berikutnya
5. Competition Beats Collaboration
Ada semacam keyakinan, khususnya di kalangan dunia industri high –tech dan keuangan bahwa kompetisi internal dapat membantu terciptanya inovasi. Namun hasil survey menunjukkan bahwa kreativitas justru muncul pada saat orang bekerja secara kolaboratif. Melaui team work orang dapat menunjukkan rasa percaya dirinya, saling berbagi dan memperdebatkan berbagai pemikirannya. Namun ketika orang harus dikompetisikan malah mereka menjadi enggan dan menghentikan untuk saling berbagi informasi dan pengalamannya.
6. A Streamlined Organization Is a Creative Organization
Banyak orang beranggapan bahwa organisasi yang ramping adalah organisasi yang kreatif. Memang benar, bahwa ukuran organisasi yang besar seringkali mengalami kesulitan untuk mengendalikan karyawan. Tetapi jika, tabah dan bersabar menghadapinya justru akan menghasilkan kekuatan, kreativitas dan kolaborasi. Yang terpenting disini adalah bagaimana setiap orang dapat diberikan kesempatan untuk bekerja secara otonom dan mencintai pekerjaannya, memiliki komitmen, terjalin komunikasi dan kolaborasi, sehingga pada suatu saat kreativitas akan muncul dengan sendirinya.
Sumber: adaptasi dan disarikan dari “The 6 Myths Of Creativity” karya Bill Breen (2004)
Dulu tetangga gw yang umurnya udah 50 tahunan pernah cerita ke gw, kalo dia di masa mudanya dulu energinya gak abis-abis… Nyupir mobil surabaya jakarta bolak-balik beberapa kali dalam seminggu sama sekali gak jadi masalah.. Belajar untuk kuliah dan kerja ampe larut malem juga dia jabanin… Intinya sih, dia mau bilang kalo dulunya dia selalu asyik sama yang dia kerjain dan ujung2nya nggak pernah ngerasa tua..
Terus kurang lebih dia bilang beginih: “saya baru ngerasa udah tua tuh gie, waktu mau ngapa2in, eh berasa cepet capek.. mesti nambah istirahat… Dulu mah nggak perlu tuh pake istirahat dulu”….
Gw yang lupa, atau dianya yang emang gak ngomong ya waktu itu dia ngerasa kayak gitu di umur berapa… Terkadang batasan giat bekerja berbasis umur emang susah dipatoknya.. Karena gw udah ngeliat sendiri emang ada orang yang meskipun udah tua, tapi energinya masih banyak, masih kuat maen badminton hampir tiap hari (umur 50 tahun, pas tanding single sama guwa, guwa cuma dikasi 1 poin… hihi… ), terus plus aktif bekerja pulak ngalah2in orang muda..
Sebaliknya gw juga udah ngeliat sendiri, ada orang2 muda di jaman sekarang ini, yang lebih banyak istirahatnya ketimbang kerjanya… Baru ngapa2in dikit udah capek, baru ngapa2in dikit udah ngerasa mesti istirahat… hehe… udah kayak orang tua ajah… Gw gak tau ini gara2 kebiasaan yang menjadi karakter, atau emang faktor umur beneran yah ?? Tapi kalo gw pikir sih, “stamina” itu bisa dilatih, diperkuat, dan dibiasakan untuk bisa stabil di performa yang bagus… Lama-lama kebiasaan jadi karakter deh, dan kebawa sampe tua…
Kadang gw juga mikir, abis ketemu2 mahasiswa gw yang gak tau Voltus sama Lion maru, yang bedanya 10 tahun lebih ama guwa, guwe ini sebenernya udah tua apa masi muda yah ?? hehe… Jadi nulis gini gara2 semalem ke beberapa toko selalu dipanggil mas atau kak… Tapi kayaknya gw emang gak ngerasa tua seh.. Dan pada kenyataannya gw emang masih ABG, tapi yang stok lama… Gwakakak…
Yang jelas jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu nggak pasti, dan jadi anak kecil terus jelas juga nggak mungkin.. Silahkan dicoba yang umur 20 ke atas, kemana-mana pake seragam SD, nggak bakalan dah tuh dipanggil “dek”.. Wakakak…
Sebenarnya ini adalah ringkasan dari buku Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland yang berjudul “Why Asians Are Less Creative Than Westerners”(Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari negara-negara barat), tapi berhubung saya tinggal di Indonesia dan lebih mengenal Indonesia, maka saya mengganti judulnya, karena saya merasa bahwa bangsa Indonesia memiliki ciri-ciri yang paling mirip seperti yang tertulis dalam buku itu.
1. Bagi kebanyakan orang Indonesia, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, pengacara, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki banyak kekayaan.
2. Bagi orang Indonesia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku korupsi pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.
3. Bagi orang Indonesia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban”, bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT, dll, semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Indonesia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit-sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Indonesia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Indonesia yang memenangkan Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas, kalaupun ada biasanya bukan hasil didikan dari mainstream pendidikan yg formal, melainkan dari lembaga swasta, perseorangan, atau lembaga pendidikan yg banyak mengembangkan minat bakat peserta didiknya, seperti SMK yg tlah berhasil mengembangkan/menghasilkan karya yg luar biasa.
6. Orang Indonesia takut salah dan takut kalah. Akibatnya, sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
7. Bagi kebanyakan bangsa Indonesia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir, peserta akan mengerumuni guru/narasumber untuk meminta penjelasan tambahan.
Dalam bukunya, Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:
1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya, bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren, tapi duitnya dari hasil korupsi
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.
3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan passion (rasa cinta)-nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.
5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. Ayo bertanya!
6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau kita tidak tahu!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan. Sebagai orang tua, kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya
Original posted by: Mahasiswa Freak: PENDIDIKAN Indonesia “Generasi Hafalan” http://www.mahasiswafreak.com/2012/01/pendidikan-indonesia-generasi-hafalan.html#ixzz1rjoVrZFA
http://mahasiswafreak.com
Bulan ini ada project desain sampe cetak lumayan gede… Kemaren itu gw pake vendor cetak yang duluuu di taon 2008 pernah gw pake, tapi hasilnya mengecewakan.. Dan belakangan dia telponin bagian produksi kantor gw, ngajak bermitra kembali… Dikasi harga miring tapi kualitas tetap terjamin… Nggak tau kenape kite2 akhirnya memutuskan: ya udin, coba pake dia lagi deh… Kami yang ownernya ini mikir, yah siapapun bisa berubah jadi lebih baik, apalagi dulunya pernah bikin salah, kalo dikasi kesempatan kedua biasanya bisa jadi lebih bagus…
Dua minggu berlalu, cetakan udah jadi dan dianter ke kantor… Ternyata eh ternyata hasilnya lebih mengecewakan… Untung ketauan pas ngasi 5 sampel duluan ke klien.. Si klien langsung telpon: “mas ogie, ini dari 5 buku yang dikirim, 3 nya cacat..”… Jadi, gw dan tim langsung bongkar dah tuh tumpukan cetakan, di cek satu-satu.. Bener aja, Ada kurang lebih 7% barang cetakan yang cacat dari jumlah total keseluruhan.. dan cetakan cacat itu diselip2in diantara cetakan yang bener…
Wow, mantep bener neh kalo begini nyampe ke klien, terlebih bisnis gw adalah bisnis jasa… Bisa berabe jadinya… Hehehe.. Kacau dah tuh percetakan… Udah dikasi kesempatan kedua, malah gak dimanfaatkan sebaik-baiknya…
Dalam berbisnis, untung bukan hanya berupa rupiah.. Kan bisa dollar, ringgit atau poundsterling… Gwakakak… Maksud gw, untung itu bisa berupa waktu, rekomendasi, kepercayaan, dan lain sebagainya… Inti dari bisnis bisa dibilang mencari keuntungan… Tapi mesti dipikirin juga, jangan sampe kitanya untung, pihak lain rugi, kayak kasus gw begini nih…
Bicara soal untung rugi, banyak memang orang yang mau untungnya doang… Kerja keras gak mau, tapi kalo gajian mau banget… Liat aja ekspresi pegawai pemda waktu disidak sama jokowi… Hahaha, shock teraphy tuh buat para pemakan gaji buta…
Setinggi-tinggi posisi profesi atau karir siapapun, orang itu gak akan jadi mulia kalo tidak menguntungkan orang lain… Pejabat atau wakil rakyat, setinggi apapun, kalo nggak menguntungkan atau bermanfaat buat rakyat, akan jauh dari kemuliaan… Juragan cendol atau siomay yang tanpa karir punya 100 gerobak akan lebih mulia ketimbang pejabat tinggi yang korup.. Karena si agan cendol bisa menguntungkan 100 orang yang berjualan dengan make gerobaknya… Sebaliknya si pejabat meski karirnya tinggi justru menyengsarakan rakyatnya dengan uang rakyat yang ditilepnya… Jadi, karir itu sebenernya apa donk ??
Ada satu pendapat yang gw suka tentang karir.. Karir di dalam kehidupan sejatinya bukanlah posisi pekerjaan, bukan tinggi rendahnya jabatan di kantor.. Karir yang sebenarnya adalah tinggi rendahnya kebermanfaatan diri anda untuk menguntungkan sebanyak mungkin orang lain, terlepas dari apapun profesi anda… Semakin banyak manfaatnya diri kita untuk orang lain, maka semakin tinggi karir kehidupan kita di “alam semesta”…
Gw pikir perspektif ini cukup bagus, karena benang merahnya bakal tertuju ke hadis ini: “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain..”
**… hadeehh.. kayaknya gw lagi kurang banyak maen game neh… sotoynya kumat mulu..**