me|write, spiritual
Leave a Comment

man iman..

Kemaren rame soal “Jangan temenan sama non-muslim, karena bisa menggerus iman..”.. Hehehe, lucu.. Bertahun2 jadi dosen, semua mahasiswa di kelas itu gw anggap sebagai temen.. Jadi kacau kan kalo pengajar ‘ber-paham’ model begitu..

Mosok gw jadi cuman boleh ‘nongkrong’ dan ngobrol sama yang muslim aja ?!?.. Fakta di kelas juga kejadian, yang non-muslim ada yang karya2 tugasnya lebih bagus, lebih rajin, dan lebih sering on-time masuk kelas.. Ketimbang mereka yang namanya pakai nama ala2 syari’ah.. Yaah, apalah arti sebuah nama.. Tapi mosok gara2 begitu iman gw jadi turun dan tergerus ??..

Pernah juga dulu gw ngebimbing karya tugas akhir mahasiswa Nasrani.. And you know what, dia karya tugas akhirnya membuat komik dari sejumlah ayat di kitab sucinya.. Sebagai pembimbing, ya karyanya harus gw baca lah.. Jadi tahu deh tuh: Matius, Yesaya, Kolose, Galatia, dll..

Membaca ayat2 / anjuran kebaikan dari agama lain, lantas apakah iman jadi turun ??.. Biasa aja tuh.. Justru gw jadi tambah yakin kalo pada dasarnya semua agama itu menyebarkan nilai2 kebaikan.. Di Qur’an kan memang sudah ada dasarnya juga, bahwa manusia diciptakan dalam bermacam suku dan agama..

Supaya apa ??.. Supaya saling kenal-mengenal.. Abis kenal terus ngapain ??.. Ya tukar informasi, tukar pikiran, kerja-sama, melengkapi kekurangan dan kelebihan, dan beragam kegiatan positif lainnya..

Lah ini koq abis kenal malah ”Jangan ditemenin.”.. Bakalan jadi lebih sulit dong untuk mewujudkan Rahmat bagi alam semesta..

Iman turun, terus kok malah nyalahin yang ada di luar diri itu juga aneh.. Karena yang selama ini gw rasain, mengimani atau meyakini sesuatu itu bisa naik ataupun turun tergantung pikiran dan tindakan orangnya..

Kalo seseorang meyakini ayat Iqra’ atau anjuran membaca, ia harusnya mencoba sendiri melakukan hal tersebut.. Rasakan dan renungkan sendiri dampaknya.. Biasanya setelah ada ‘output’ pembuktian dari diri sendiri, perubahan ‘kualitas’ keyakinan akan sangat mungkin terjadi..

Atau meyakini anjuran menjaga kebersihan, atau bahagianya berbagi, ataupun anjuran2 lainnya.. Coba lakukan saja sendiri dulu untuk beberapa waktu, rasakan dan renungkan, dan kemudian nilai sendiri keyakinannya akan naik atau turun..

Itu untuk hal2 yang ‘praktis’.. Kalo iman kepada Tuhan rasa2nya jauh lebih kompleks dan sangat privat.. Sulit dinilai baik dari diri sendiri ataupun dari luar.. Namun jelas bisa naik turun seiring peristiwa2 yang dialami di dalam perjalanan hidup seseorang..

So, saran Buya Hamka masih relevan: “Jangan Taqlid buta..”

Buya Hamka dalam ‘Tasawuf Modern‘ menyatakan: “Tiang Islam dan tempat tegaknya yang teguh ialah dua tonggak, yaitu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan kemauan (Hurriyatul fikri wa hurriyatul iradah..).. Kedua syarat inilah yang utama, terutama di dalam abad kemajuan ini..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s