me|write, think sotoy
Comments 2

tarian kontribusi..

Pertama kali gw “berkenalan” dengan psikologi-nya Adler itu saat nggak sengaja sekilas liat dorama jepang di tipi.. Pas makan siang, bini’ gw kebetulan lagi nonton itu.. Dan pas betul, saat itu adegannya tokoh utama lagi ngikutin perkuliahan di kelas.. Si dosen dari depan kelas menyatakan salah satu dari konsep teori Adler: “Sikap / attitude seseorang di masa sekarang, ditentukan oleh masa depannya..”

Teori2 Adler banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Bertolak belakang dengan Adler, Freud-ian menganggap: sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya..

Akhirnya Adler “keluar” dari paham Freud dan mengembangkan teori2nya sendiri yang kemudian dikenal sebagai psikologi individual..

Karena penasaran, gw mencoba menggali lebih dalam tentang psikologinya Adler melalui sebuah buku.. Ternyata pemikiran yang ditawarkan Adler benar2 gokil.. Banyak konsep2 yang layak direnungkan, bahkan “menyentil-nyentil” apa2 yang udah gw pegang selama ini.. Saat baca buku itu, beberapa kali bertanya sendiri: “Ini serius nih beneran begini ?? Tapi kok cocok ya ??..” Hehe..

Salah satu konsep yang gw suka itu, soal “hiduplah sehidup2nya” pada saat sekarang melalui kontribusi manfaat.. Membawa masa lalu (yang tidak bisa diubah) ke masa kini, atau mencoba memikirkan / melihat masa depan (yang jelas2 masih “kabur”), membuat seseorang menjadi tidak sepenuhnya “hidup” di dalam masa sekarangnya..

Saat konsep hidup yang kita pegang pada umumnya adalah perjalanan, seperti garis dari titik A ke titik B, Adler justru menolak konsep tersebut.. Kalau kita membuat garis dari kapur di papan tulis, kemudian kita zoom-in garisnya, jelas terlihat garis tersebut tersusun atas titik2 yang banyak jumlahnya..

Nah, menurut Adler, hidup adalah titik2, momen demi momen yang terbentuk atas tindakan seseorang di masa sekarangnya.. Entah nanti dari titik2 itu jadi garis atau gambar apapun, yang jelas, masa lalu seseorang menjadi tidak penting..

Adler menentang konsep hidup seperti sebuah garis yang menyambung, yang menghubungkan sebab akibat ke sebab akibat berikutnya.. Karena, dengan menganut konsep itu, seseorang akan mudah menyalahkan terlahir dari keluarga mana, sekolah2nya dulu, kuliahnya, dan hal2 lain yang terjadi di masa lalu..

Padahal yang lebih penting adalah “sekarangnya”.. Daripada melihat perjalanan hidup seperti orang berjalan atau berlari ke suatu tempat, Adler mengajukan konsep hidup adalah sebuah tarian..

Menarilah tanpa menghiraukan apapun.. Hidupkan setiap titik momen hari2 sekarang yang diberikan Tuhan sebaik2nya, melalui kontribusi (kebermanfaatan diri) bagi orang lain.. Karena nggak ada tarian yang diam di tempat.. Nanti saking asyiknya menari, seseorang akan kaget sendiri melihat dimana dia akan sampai..

2 Comments

  1. keren teorinya adler..terjebak dimasa lalusering nyalahin diri sendiri sampe keluar kata: kalau gue dulu ga gitu ga bakan jd gini…kalau..kalau..

    Like

    • Betul.. Hal itu yang dicoba dihalau oleh Adler.. Mengikis mindset buruk atau standar masa lalu, padahal yang paling penting adalah “saat sekarang”.. Melalui fokus ke masa sekarang, seorang OB bisa saja menjadi direktur, atau anak dari keluarga yang kurang beruntung sangat punya kemungkinan untuk berhasil bila tidak terjebak mindset “kalau.. kalau..”..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s