All posts tagged: psikologi

tele(skop)ologi..

UTS selesai, maka koreksian pun menumpuk.. Apalagi di semester sekarang, gw “dipaksa” untuk ngajar 8 kelas.. Mabok nggak tuh..?!? (@_@!).. Rekor baru dalam sejarah gw mengajar.. Sebelum2nya, biasanya paling mentok satu semester ngajar 4 kelas saja.. Wakakak.. Tapi, menilai tugas karya2 mahasiswa itu buat gw bisa terasa menyenangkan.. Seringkali gw terhibur dengan tugas2 yang secara visual mantap jiwah.. Berasa gitu ada yang bener2 niat & penuh semangat untuk punya skill desain tinggi.. Terlihat kalo briefnya dibaca & dipahami bener2, dan apapun yg gw bekali di tiap pertemuan kelas benar2 “digunakan”.. Ada juga yang males2.. Bikin tugas ala kadarnya, sekedar selesai aja.. Mens sana in corpore sano.. Brief-nya ke sana, ngerjainnya ke sono.. Diminta semangka, ngasinya melon.. Sama2 buah sih, tapi kan bukan itu yang diminta.. Ada kecenderungan, mereka yang tujuannya emang beneran pengen bisa desain tuh, beda dengan yang kuliah dengan tujuan sekedar “menggugurkan kewajiban”.. Memang beda hasilnya antara yang “bertujuan” dan yang nggak.. Teori Adler bener juga: perilaku seseorang di masa sekarangnya ditentukan oleh tujuan2nya, dan bukan masa lalunya.. Mereka yang nggak punya tujuan …

tarian kontribusi..

Pertama kali gw “berkenalan” dengan psikologi-nya Adler itu saat nggak sengaja sekilas liat dorama jepang di tipi.. Pas makan siang, bini’ gw kebetulan lagi nonton itu.. Dan pas betul, saat itu adegannya tokoh utama lagi ngikutin perkuliahan di kelas.. Si dosen dari depan kelas menyatakan salah satu dari konsep teori Adler: “Sikap / attitude seseorang di masa sekarang, ditentukan oleh masa depannya..” Teori2 Adler banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Bertolak belakang dengan Adler, Freud-ian menganggap: sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya.. Akhirnya Adler “keluar” dari paham Freud dan mengembangkan teori2nya sendiri yang kemudian dikenal sebagai psikologi individual.. Karena penasaran, gw mencoba menggali lebih dalam tentang psikologinya Adler melalui sebuah buku.. Ternyata pemikiran yang ditawarkan Adler benar2 gokil.. Banyak konsep2 yang layak direnungkan, bahkan “menyentil-nyentil” apa2 yang udah gw pegang selama ini.. Saat baca buku itu, beberapa kali bertanya sendiri: “Ini serius nih beneran begini ?? Tapi kok cocok ya ??..” Hehe.. Salah satu konsep …

self-transcendence..

Dulu pas kuliah pernah dapet teori kebutuhan Abraham Maslow, tapi seinget gw, dulu itu puncak tertingginya Self-Actualization.. Kalo googling, banyak juga sih yang puncak tertinggi dari piramida kebutuhuan Maslow itu Self-Actualization.. Pas baca buku terbitan 2012, “The Psychology Book – Big ideas simply explained“, kayak kumpulan teori psikologi gitu, editor dan kontributornya banyak, ternyata masih ada satu tingkat lagi di atas Self Actualization.. Yakni Self-transcendence.. Self-transcendence merupakan kebutuhan manusia untuk “bergerak” keluar diri, dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, seperti Tuhan misalnya.. Atau melakukan sesuatu diluar ego diri, seperti membantu orang lain tanpa berpikir imbalan.. Self-transcendence ada di puncak tertinggi piramida kebutuhan.. Berarti bisa dibilang teori Maslow juga bersinggungan dengan teorinya Pierre Teilhard de Chardin (seorang filsuf sekaligus palaentologist).. Pierre menyatakan: “We are not human beings having a spiritual experience; we are spiritual beings having a human experience.” Sebagai makhluk spiritual, bisa jadi kebutuhan tertingginya adalah menjadi “terhubung” kepada penciptanya.. Di situ sepertinya kedamaian terhebat bisa didapat.. Bukan dari sesuatu yang sifatnya material, seperti harta, kuasa, narkoba, dsb.. Pernyatan Maslow …

masa depan (bentuk) diri..

Pernah dengar psikolog bernama Alfred Adler ??.. Mungkin belum pernah ya.. hehe.. Karena namanya sepertinya memang kalah populer dengan Sigmund Freud..  Adler adalah psikolog dan fisikawan yang teorinya bertentangan dengan Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Sempat pula menjadi rekan kerja Freud yang mengusung beragam teori Psychoanalytic yang membahas banyak hal, termasuk hipnotis, alam bawah sadar, dan analisa mimpi.. Menurut Freud, sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya.. Nah, dalam hal inilah Adler nggak setuju dengan Freud.. Adler punya teori yang lain.. Menurutnya ada suatu “daya” motivasi yang mempengaruhi bentuk perilaku manusia yang disebut “dorongan ke arah kesempurnaan”.. Daya ini yang kemudian mendorong manusia untuk memenuhi semua potensi dan keinginan yang ada di dalam dirinya.. “Daya” tersebutlah yang kemudian menimbulkan harapan, impian / cita2 pada diri seseorang.. Dan hal inilah yang kemudian bisa membentuk sikap / attitude manusia pada masa kininya atau saat sekarangnya.. Sederhananya, menurut Adler, sikap seseorang di masa kininya ditentukan oleh masa depannya.. Bertolak belakang dengan Freud, yang …