me|write, think sotoy
Leave a Comment

hafal & paham..

Mendikbud sempat bilang; kalo dunia tidak butuh penghafal.. Lantas mereka yang berpaham bahwa menghafal itu penting ‘naik darah’, menghujati Nadiem.. Karena menurut mereka, bangsa atau dunia ini perlu penghafal Qur’an..

Padahal, Mendikbud berbicara dalam konteks kurikulum pendidikan nasional.. Ia sama sekali nggak bilang ataupun menyinggung apapun tentang penghafal ayat Qur’an ataupun hadist.. Dia sama sekali nggak melarang kalo ada yang mau menghafal itu semua..

Bisa saja beliau sebenarnya senang kalo ada banyak hafiz atau hafizah di negeri ini.. Namun, saat itu kan beliau lagi di atas ‘panggung’ pendidikan nasional, dan bukan di atas ‘mimbar’.. Prasangka duluan, tanpa ingin tau lebih dulu makna intinya, ya ambyarr..

Poin pentingnya: gagal melihat konteks dalam mencerna informasi.. Konteks merupakan acuan bagi seseorang untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah pesan/informasi..

Contoh lain, ‘menyetarakan’ ucapan selamat natal dengan kalimat syahadat.. Menyetarakannya hanya karena sama2 kalimat.. Tapi konteksnya nggak dilihat.. Jadinya aneh.. Ucapan selamat hari natal ya setaranya sama ucapan selamat hari ibu, hari ultah, hari Idul Fitri, dan sejenisnya..

Kalimat Syahadat adalah kalimat ‘kesaksian’.. Begimana logikanya bisa disamakan dengan ucapan selamat ?!?.. “Lah, berarti lu mengakui dong kalo blablabla…”.. Ya memang, gw mengakui kalo agama “langit” itu ada 3, lengkap dengan segala macam ‘misterinya’.. Silahkan dipilih..

“Bagiku agamaku bagimu agamamu”, bisa bermakna: apapun yang kalian pilih, kalian punya hak yang sama dengan saya untuk menjalankan agamanya masing2 secara damai..

“Kalo ngucapin selamat ‘itu’ nanti lu akan jadi seperti mereka..”, ini malah lebih aneh lagi.. Ngucapin selamat natal jadi nasrani, selamat hari ibu jadi ibu, dsb.. Kalo ini benar, maka yang paling berbahagia adalah kaum jomblo.. Tinggal cari temennya yang merayakan hari jadian, ucapkan selamat hari jadi, maka ‘automatically’ jadian jugalah dia sama pacar temennya.. ‘No More’ jomblo jatuh tempo di permukaan bumi.. (^o^!)

Bisa jadi kasus2 gini, karena hasil dari pendidikan yang menekankan pada hafalan.. Tidak dibanyakin latihan berpikir kritis, murid jadi tidak terbangun potensi berpikir kreatif dan analitisnya..

Misal saat ujian, gw ngasi soal ke mahasiswa: “Sebutkan dan jelaskan pengertian serta fungsi dari brosur..”.. Mereka bisa saja menuliskan berlembar2 tentang brosur.. Tapi apakah pas bikin desain brosur beneran hasilnya bisa bagus banget ??.. Bisa aja sebaliknya..

Kita perlu lebih banyak ‘Self-Actualizers’, manusia2 yang total mencoba memaksimalkan seluruh potensi dalam dirinya (termasuk potensi berfikir), dan bukan “memorizers”.. Faktanya, kita akan lebih gampang menyebutkan nama2 pencipta/penemu, pendiri/pembuat, ketimbang nama2 penghafal..

“Seseorang bisa saja tau, atau bahkan hafal nama2 burung dalam banyak bahasa, tapi sebenarnya dia nggak tahu apapun tentang burung..” – Gw lupa ini quotenya siapa.. (^.^!)..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s