Year: 2015

minimalisir bias pikir..

Lanjut dari postingan sebelumnya, bias pikir / kogintif seringkali terjadi, bahkan terkadang tanpa kita sadari (bias blind spot).. Kalo di Barat sana, ada event April Mop, di saat itu orang boleh berbohong atau bahasa halusnya “menguji keluguan orang lain”.. Hehe.. April Mop di tahun 1957, British Broadcasting Corporation (BBC) menayangkan laporan tentang spageti yang dipanen dari sebuah pohon.. Banyak orang yang terjebak kemudian menelpon BCC dan ingin tahu gimana caranya melakukan itu… Moral dari kisah ini sudah jelas: jangan mempercayai begitu saja atas apa yang dibaca atau didengar.. Isi dari media itu orang2 juga, entah itu “orang kita” atau orang luar.. Dan seperti postingan gw sebelumnya, ada kecenderungan biologis dari otak untuk bias / disimpangkan supaya percaya pada majalah yang kita beli, saluran televisi yang kita tonton, dan orang yang kita sukai.. Menurut Newberg & Waldman (2013) dalam “Born to Believe”, langkah pertama untuk jadi pemikir atau orang beriman yang lebih baik adalah menyadari, bahwa setiap persepsi dan pemikiran mengandung sejumlah bias.. Soalnya, setiap keyakinan yg kita pegang adalah hasil kompromi antara yang sesungguhnya terjadi …

hati hati bisa bisa bias..

Abis baca suatu bab dalam sebuah buku, gw jadi teringat lagi komen seorang blogger di sebuah postingan gw di multiply dulu: “hidup dalam perbedaan itu sulit bro..” Sekarang gw makin paham kalo hidup dalam perbedaan itu sebuah hal yang sangat lumrah dan sangat wajar, kalo nggak mau dibilang sebuah kepastian.. Sepertinya malah nggak mungkin seseorang bisa hidup dalam sebuah “society” tanpa menghadapi perbedaan.. Perbedaan di sini maksudnya perbedaan mental, emosional dan kogintif / pemikiran.. Kalo fisik sih, udah jelas memang pada berbeda.. Hasil2 studi atau riset kajian ilmiah pun ternyata sangat bergantung pada cara seseorang menafsirkan bukti2 yang ada.. Nah, bicara soal penafsiran, maka tidak bisa lepas dari persepsi, dan bicara soal persepsi berarti bicara gimana seseorang membangun “realitas”nya sendiri, atau keyakinan seseorang atas apa yang ada disekitarnya.. Sejak 50 tahun lalu para peneliti, ilmuwan, psikolog dan sosiolog penasaran dengan proses berpikir manusia dalam membentuk keyakinan seseorang.. Ternyata faktor lingkungan jadi faktor yang cukup menentukan.. Namun faktor tersebut juga bisa jadi bumerang.. Karena banyak bias2 yang bisa ditimbulkan dari lingkungan sekitar.. Jadi, menurut Newberg & …

lentera si buta..

Suatu ketika, Di sebuah daerah hutan pegunungan, seseorang yang buta main ke rumah sahabatnya dari pagi hingga malam.. Saat malam harinya pas dia mau pulang, sahabatnya memberi lentera sederhana untuk dibawanya pada perjalanan pulang.. Si buta pun tertawa: “Hyahaha.. buat apa bawa ini ??, wong saya ini orang buta kok.. Jalan pulang juga saya udah hafal..”.. Si sahabatnya pun menjawab: “Di luar kan udah gelap, ini biar orang lain nggak nabrak kamu..” Lantas si buta pun berjalan pulang.. Nggak lama jalan, bener aja, ada orang yang nabrak dia.. Si buta pun marah, namun si penabrak tetep cuek aja, langsung jalan ninggalin si buta.. Si buta kemudian melanjutkan perjalanannya.. Di tengah perjalanan, lagi2 ada orang yang nabrak dia.. Lalu dia pun marah lagi ke orang yang nabrak: ”Heh..!! Sampeyan buta ya ?!? Saya udah pegang lentera gini masih ditabrak juga !!..” Si penabrak menjawab: “Mas.. Lentera sampeyan itu mati.. Mana bisa saya liat sampeyan ?!?..”.. Namun, setelah memperhatikan lebih lanjut, si penabrak pun sadar kalo yang ditabraknya orang buta.. Lantas dia pun meminta maaf, kemudian membantu …