All posts tagged: tadabbur

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …

dikiranya gitu, padahal..

Negeri ini banyak bencana karena pemimpinnya dzalim, dan blablablabla, maka dari itu Alloh marah.. Cukup familiar dengan kalimat begini ??.. Atau mengklaim orang lain masuk surga atau neraka atas dasar hal2 yang sifatnya atributif.. Seakan ada orang2 yang “kenal” banget sama Tuhan, sampai2 mereka tahu gimana Tuhan mesti bersikap.. Menurut Prof. Quraish Shihab, QS.112:4, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”, maknanya adalah: apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut zat Alloh, baik yang bersumber dari kenyataan yang telah dilihat atau diketahui, maupun hasil imajinasi, maka Alloh tidaklah demikian..” Beliau juga menyatakan di dalam buku “Islam yang saya Pahami”, bahwa memang ada larangan berpikir tentang zat Alloh, karena berada di luar kemampuan daya pikir manusia.. Untuk mengenal Tuhan, manusia dapat merasa puas dengan informasi jiwa & intuisinya.. Banyak “pemikir” jatuh tersungkur, ketika menuntut kehadiran-Nya melebihi kehadiran bukti2 wujud-Nya.. Bukti2 seperti kehadiran alam raya dan keteraturannya.. So, nggak salah kalo kita merasa aneh ngeliat orang2 yang merasa “kenal dekat” sama Tuhan.. Sampe2 bisa menilai keimanan orang lain, atau mengajak-Nya “bermain” politik.. Kalo jagoannya kalah, nanti nggak ada lagi …

renungi – resapi – jalani..

“Memadukan antara ilmu akademis & agama..”.. Kalimat dari blogger pemberi award kemaren itu menimbulkan pertanyaan baru buat gw.. Sebetulnya yang gw lakukan itu namanya apa sih ??.. Menafsir Qur’an ?? Kok rasa2nya bukan ya ?? Karena kalo jatohnya ke istilah tafsir, kesannya jadi berat banget.. Menafsirkan itu kalo liat “requirement” yang dipahami secara umum emang berat: mesti paham bahasa arab, sejarah sastra arab, asbabun nuzul, dan unsur2 lain dimana setiap kalimat harus diteliti.. Ibnu Katsir, Qurais Shihab, dan Buya Hamka, merupakan manusia2 luar biasa yang mencapai level tersebut.. Lah guwa ?? Yang gw lakukan jauh lebih sederhana, hanya menarik benang merah antara sains dan Qur’an.. Lah itu istilahnya apa ??.. Jawaban memuaskan gw temukan dalam bukunya Cak Nun (2016) “Hidup itu harus pintar ngegas & ngerem”.. Ada istilah Tadabbur.. Menurut beliau, arti sederhana dari Tadabbur adalah MENCARI MANFAAT dari Qur’an.. Tujuan tadabbur itu untuk mendapatkan manfaat dari Qur’an.. Ukuran tafsir adalah benar atau tidak secara rasional, secara ilmiah.. Bahkan secara akademis dan teknis.. Sedangkan kalo tadabbur, ukurannya sederhana, yaitu cari manfaatnya saja.. Anjurannya pun ada …