All posts tagged: kreativitas

kreativitas grafis sampingan ??

Ngeliat orang2 dengan kemampuan artistik dan kreativitas tingkat tinggi, gw seringkali terkagum-kagum.. Kok bisa2nya mereka sampai berpikiran & punya skill ngebikin karya2 yang demikian luar biasa.. Kreativitas memang unik sekaligus absurd.. Sampai sekarang sangat sulit menemukan tes yang bisa menyimpulkan secara presisi derajat kreativitas seseorang.. Saking “ajaib”nya kreativitas, di zaman dulu, kreativitas malah seringkali dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat kodrati, atau bahkan mistikal.. Plato percaya bahwa orang2 kreatif sebenarnya adalah orang2 terpilih.. Mereka yang kreatif adalah orang2 yang dipilih dewa dewi dari gunung Olimpus sebagai penyampai pesan mereka.. Guru plato sendiri: Socrates, juga meyakini kalo ilmu pengetahuan yang didapatnya, sebagian besar didapat dari arwah yang memasuki dirinya.. Padahal kan yah, kalo kita liat acara dunia lain, nggak ada tuh orang yang kesurupan terus jadi kreatif, yang ada malah jadi seperti hewan tertentu.. Hehe.. Ada yang beranggapan karena faktor “gaib” itulah, dalam bahasa Latin kata “inspirasi” itu artinya “meniup ke dalam”.. Jadi, ya cuman para dewa dewi yang bisa “meniupkan” kreativitas ke dalam diri manusia.. Para ilmuwan masih terus penasaran mengenai awal mula terciptanya kreativitas.. Masih …

cambuk ketidak nyamanan..

Lanjutan dari postingan sebelumnya yang ini: “di tengah karena menengah”… Dimana hasil studi dari Mihaly yang menyatakan bahwa, orang2 dari “kelas menengah” secara statistik lebih sedikit yang mencapai kesuksesan besar / prestasi kelas dunia.. Disebabkan karena motivasi yang “menengah” juga.. Jadi perlu trik2 tertentu untuk membuat motivasi kelas menengah menjadi tetap tinggi.. Ini cuman sotoy2nya gw aja sih yang gw himpun dari beberapa buku bacaan gw.. Pertama, Gunakan teori OMA (One Minute Awareness).. OMA ini semacam menit dimana kita demikian tersentuh, dan menjadi berani membuat komitmen2 diri yang nggak tanggung2 tingginya.. Siapapun bisa menemukan, atau “menjadikan” peristiwa biasa disekitarnya menjadi OMA.. Contoh: Melihat orang meminta2, keluarga / orang kurang mampu, buat sebagian orang mungkin biasa.. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi sebuah motivasi yang memicu diri untuk berperan dalam mengubah kehidupan mereka.. Dan kalo mau mengubah mereka, diri ini mesti sukses dulu toh ??.. Dengan membawa “hati” yang bersih dalam melihat keseharian sekitar, OMA bisa diciptakan, dan motivasi seseorang bisa terjaga untuk tetap tinggi.. Masih banyak sebetulnya contoh dari OMA, poin dari caranya sih: …

di tengah karena menengah..

Nggak sedikit anak2 dari keluarga kekurangan justru kehidupan ekonominya melejit secara menakjubkan di saat dewasa.. Anak2 orang berada, rasa2nya lebih mudah kalo pengen jadi berhasil di masa dewasanya, karena beragam “fitur” yang tersedia sebagai anak orang kaya.. Terus, anak2 orang yang ekonominya biasa2 saja / menengah, sepertinya malah punya kecenderungan untuk jadi biasa juga di masa dewasa.. Bener nggak sih pernyataan kayak gini ?? Mihaly, seorang pakar kreativitas pernah melakukan sebuah riset tentang “situasional” sosial ekonomi ini.. Ia mengaitkan fenomena pada paragraf di atas dengan faktor keterdesakan.. Keterdesakan di sini lebih kepada situasi / “keadaan” seseorang dalam kehidupannya, atau bisa dibilang sebagai rasa nggak aman yang dialami oleh seseorang.. Sayang di buku yg gw baca ini, nggak disebutkan secara detail riset dari si Mihaly.. Namun secara garis besar, ia meneliti sejumlah orang dari sejumlah keluarga tertentu, dan diamati siapa2 saja yang mampu mencapai tingkat kesuksesan tertentu /  prestasi kelas dunia.. Mihaly menemukan dari keseluruhan subjek penelitiannya, mereka yang mencapai sukses / berprestasi kelas dunia, 34% merupakan anak orang kaya.. Bapaknya banyak yang bekerja sebagai guru …

Ajarin susah

ini tulisannya adhitya mulya (seorang penulis).. Tulisannya bikin gw mikir lagi tentang teori kreativitas yang bilang: “kemapanan adalah musuh dari kreativitas..”.. Plus, bikin gw mikir juga cara mendidik anak gw nantinya.. Gw dapetnya dari grup whatsapp sih.. Semoga bisa bermanfaat.. SYARAT HIDUP October 12th, 2015 Generasi Sebelumnya: Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang, “Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.” “Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask. “Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.” This may be simple. But this, blew my mind. ————————————————————————————————————— Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langkaH yang tidak disadari, berdampak. “Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.” “Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.” “Waktu kecil, saya …

(jangan ??) fokus pada kekuatan..

Sepertinya kita udah sering denger nasehat yang ini: “Fokus selalu pada kekuatan, abaikan saja kekurangan..”.. Bahkan gw sendiri saat ngajar pun, cukup inget pernah ngasi nasehat ini ke mahasiswa2 gw.. Karena, saat satu kekuatan diri itu berhasil diketemukan, dan bisa dikembangkan sampe maksimal, maka kekuatan itu akan menutupi semua kekurangan yang ada pada diri.. Yes betul.. Ini beneran nasehat yang top untuk menemukan & memaksimalkan sebuah kekuatan diri.. Nah, yang jadi masalah adalah saat berada di tahap berikutnya.. Nasehat di awal postingan malah sepertinya bisa jadi kurang pas..  Kalimat “abaikan kekurangan” justru bisa menjadi bumerang.. Saat diri ini sudah berhasil menemukan suatu set kekuatan / kemampuan, justru yang tidak boleh diabaikan adalah kekurangan pada kemampuan tersebut.. Jadi untuk betul2 bisa memaksimalkan kemampuan, perlu juga berfokus untuk “memberantas” kekurangan2 yang ada di dalam proses peningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki.. Dan ini ternyata bukanlah hal yang mudah.. Dalam mempelajari sesuatu, apapun itu, pada awalnya kecepatan kemajuan diri demikian terasa.. Contohnya pas kuliah, karena adanya feedback (komentar, nilai, dsb) dari dosen, kemajuan diri jadi mudah terlihat.. Sampai akhirnya …