All posts tagged: kebaikan

integritas

Seringkali, ada aja yang nge-share artikel di grup WA, tapi dari media online yang menurut gw nggak kredible.. Ada juga share entah artikel darimana, terus di bawahnya ada nama penulisnya (entah beneran atau nggak) dengan sebuah profesi yang dinilai “relate” sama tulisannya.. Pernah ada yang nge-share, penulisnya itu mantan wartawan media mainstreamlah, dokter lah, anggota satuan gugus tugas lah, dan lain sebagainya.. Tapi koq ujung2nya gw liat tulisannya jadi penggiringan opini, nggak berimbang, malah ada yang langsung nyalahin presiden.. Hehe.. Sudahlah masih banyak yang kurang bisa memilah antara media mainstream dan abal2, ditambah lagi mudah percaya gitu aja sebuah artikel (dari medsos mungkin) gara2 penulisnya memiliki profesi tertentu.. Nggak heran opini2 tanpa dasar jadi gampang “dimakan”.. Profesi memang bisa menunjukkan secara kasar kompetensi seseorang.. Namun hanya menjadikan profesi penulis artikel sebagai parameter sesuatu jadi bisa benar atau dipercaya sepertinya koq aneh ya.. Karena profesi dan kebaikan / kebenaran / kemuliaan seseorang adalah hal yang berbeda.. Tidak lantas profesi yang “tinggi” membuat orang tersebut selalu benar dan bisa dipercaya bulat2.. Seorang driver taxi online yang jujur …

versi mana..

Di Qur’an disebutkan, ada orang2 yang mereka pikir berbuat baik, padahal merugi.. Dikiranya berbuat baik sebaik2nya, padahal sebenarnya sia2 belaka (QS.18:103-104).. Dikiranya sudah berbuat amal saleh, padahal amal saleh yang Tuhan maksudkan itu berbeda dengan apa yang mereka pikirkan (QS:35:37).. Mereka berbuat baik tanpa berpedoman pada yang sudah “dipatenkan” oleh Tuhan.. Bisa jadi, mereka mendefinisikan perbuatan baik itu dengan versi pikiran mereka sendiri, ATAU, versi golongan mereka sendiri.. Padahal Qur’an itu mengandung hikmah, dan merupakan petunjuk bagi orang2 yang mau berbuat kebaikan (QS.31:2-3).. Dalam urusan agama, ternyata berbuat baik itu nggak bisa sembarangan, harus versi yang dari Tuhan.. Lah, versi Tuhan itu yang gimana ya ??.. Ini gw share apa yang bisa gw tangkep dari orang yang gw anggap sebagai guru.. Perbuatan baiknya bisa dilakukan di mana saja (QS.2:148).. Jadi, mau di Madura kek, di Arab kek, ataupun di negeri yang “katanya” dibilang toghut atau kafir oleh sebagian orang pun, perbuatan baik kita akan tetep “terdata”.. Perbuatan baik itu implementasinya bisa apa saja, yang penting merupakan bentuk kebajikan (QS.3:115).. Kalo liat KBBI, kebajikan artinya: sesuatu …

persepsi pahala..

Dari jaman SD sampe gw gede sekarang, gw (kita) sering banget denger konsep pahala.. Dan selalu terhubung dengan ganjaran atas perbuatan baik.. Kalo dari baca2, ada yang melihat pahala dari sudut pandang teologi, yang mengartikan reward dari Tuhan atas kebaikan yang dilakukan manusia.. Ada juga tokoh2 yang melihat dari sudut pandang akal atau filosofis.. Tokoh2 filsuf ini agak berbeda sedikit dalam memandang pahala.. Mereka beranggapan masih sempit kalau memahami pahala HANYA sebagai ganjaran perbuatan baik, karena disitu bisa terjadi “itung2an”, atau berfikir untung rugi atas perbuatannya.. Dan pada akhirnya, karena lebih berorientasi pada ‘harapan semu’ akan pahala, maka makna atau arti sebenarnya dari kebaikan itu sendiri ujung2nya bisa hilang.. Kalo gw disuruh milih, gw cenderung akan memilih konsep yang kedua, yang dibawa oleh tokoh2 filsafat.. Karena pertama: Kata2 ‘harapan semu’ itu bisa diartikan kita sebenernya nggak tau persis, seberapa besar pahala dari perbuatan kita, dan perbuatan2 apa aja yang dapet pahala berikut besarnya.. Satuan / parameter pahala hanya ada pada matematika Tuhan.. Kita hanya sering mendengar metaforanya, kayak kalo berhasil jodohin jomblo sampe nikah, dapet …