All posts filed under: think sotoy

cambuk ketidak nyamanan..

Lanjutan dari postingan sebelumnya yang ini: “di tengah karena menengah”… Dimana hasil studi dari Mihaly yang menyatakan bahwa, orang2 dari “kelas menengah” secara statistik lebih sedikit yang mencapai kesuksesan besar / prestasi kelas dunia.. Disebabkan karena motivasi yang “menengah” juga.. Jadi perlu trik2 tertentu untuk membuat motivasi kelas menengah menjadi tetap tinggi.. Ini cuman sotoy2nya gw aja sih yang gw himpun dari beberapa buku bacaan gw.. Pertama, Gunakan teori OMA (One Minute Awareness).. OMA ini semacam menit dimana kita demikian tersentuh, dan menjadi berani membuat komitmen2 diri yang nggak tanggung2 tingginya.. Siapapun bisa menemukan, atau “menjadikan” peristiwa biasa disekitarnya menjadi OMA.. Contoh: Melihat orang meminta2, keluarga / orang kurang mampu, buat sebagian orang mungkin biasa.. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi sebuah motivasi yang memicu diri untuk berperan dalam mengubah kehidupan mereka.. Dan kalo mau mengubah mereka, diri ini mesti sukses dulu toh ??.. Dengan membawa “hati” yang bersih dalam melihat keseharian sekitar, OMA bisa diciptakan, dan motivasi seseorang bisa terjaga untuk tetap tinggi.. Masih banyak sebetulnya contoh dari OMA, poin dari caranya sih: …

di tengah karena menengah..

Nggak sedikit anak2 dari keluarga kekurangan justru kehidupan ekonominya melejit secara menakjubkan di saat dewasa.. Anak2 orang berada, rasa2nya lebih mudah kalo pengen jadi berhasil di masa dewasanya, karena beragam “fitur” yang tersedia sebagai anak orang kaya.. Terus, anak2 orang yang ekonominya biasa2 saja / menengah, sepertinya malah punya kecenderungan untuk jadi biasa juga di masa dewasa.. Bener nggak sih pernyataan kayak gini ?? Mihaly, seorang pakar kreativitas pernah melakukan sebuah riset tentang “situasional” sosial ekonomi ini.. Ia mengaitkan fenomena pada paragraf di atas dengan faktor keterdesakan.. Keterdesakan di sini lebih kepada situasi / “keadaan” seseorang dalam kehidupannya, atau bisa dibilang sebagai rasa nggak aman yang dialami oleh seseorang.. Sayang di buku yg gw baca ini, nggak disebutkan secara detail riset dari si Mihaly.. Namun secara garis besar, ia meneliti sejumlah orang dari sejumlah keluarga tertentu, dan diamati siapa2 saja yang mampu mencapai tingkat kesuksesan tertentu /  prestasi kelas dunia.. Mihaly menemukan dari keseluruhan subjek penelitiannya, mereka yang mencapai sukses / berprestasi kelas dunia, 34% merupakan anak orang kaya.. Bapaknya banyak yang bekerja sebagai guru …

argumen benci cemen..

Semenjak populernya medsos, memang rasa2nya jadi banyak “hakim” jadi2an.. Men-judge sana sini, menilai atas dasar pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri.. Ujung2nya jadi debat kusir nggak berujung.. Kalopun berujung, nggak jarang jadi berujung retaknya hubungan.. Dulu, dosen pembimbing tesis gw pernah berujar: kalo ada orang bicara tanpa data dan referensi, pada akhirnya selalu akan jadi debat kusir.. Menurut Littlejohn (2008) dalam “Theories of Human Communication”, individu memang menjadi “pemain kunci” dalam kehidupan sosial.. Sejatinya, individu adalah seorang komunikator yang membawa karakteristik atau ciri kepribadiannya ke dalam cara2nya berkomunikasi.. Dan namanya hidup bermasyarakat, ya pasti ada lah ketemu yang namanya perbedaan antar individu.. Ada teori komunikasi yang cukup dekat untuk bisa menjelaskan “perbedaan berujung hujat2an” di medsos itu.. Namanya teori Argumentativeness yang dilayangkan oleh Dominic Infante dan kawan2nya.. Menurut Infante, memang individu itu punya kecenderungan untuk ingin terlibat dalam obrolan dengan topik yang kontroversial.. Tujuannya: untuk mensupport sudut pandangnya sendiri, dan menyangkal keyakinan / paham yang berbeda.. Infante dalam konsepnya juga menyatakan: kalo sebenernya, sifat argumentatif individu itu bisa meningkatkan pembelajaran, membantu seseorang melihat dari sudut pandang …

bisa ini bisa itu bisa repot..

Hwwahh.. Minggu kemaren udah nggak ngeblog, mosok minggu ini miss juga sih.. Ancur dah komitmen diri gw HARUS posting minimal seminggu sekali kalo minggu ini miss juga.. Konsisten emang nggak mudah, perlu terus dilatih dan dibiasakan.. Semoga saja bisa jadi habit beneran.. Ya apa mo dikata.. Dua minggu ini ada kerjaan yg gw mesti turun tangan sendiri… Walhasil, banyak porsi waktu yang mesti gw kerahkan ke ini projekan.. Kalo mengacu ke postingan gw yang udah lama ini (“lari, pelan, jalan”), bisa dibilang juga gw lagi ngejalanin kondisi sprint, dimana dalam kondisi tersebut, seseorang lagi full throtle untuk mengejar target jangka pendek.. Bener2 sampe ngos-ngosan… Alhamdulillahnya gw bisa suka sama yang gw kerjain.. Jadi berasa bukan 9 to 5 works, tapi jadi every moment awake job yang bisa dinikmati selama mata gw melek.. Hehe.. Tapi ya sesuka-sukanya orang sama kerjaannya, kalo udah kebanyakan dan tanpa isitirahat, cukup sulit lah untuk membuat sebentuk keluhan nggak keluar.. Pasti ada yang begitunya, namun sedikit.. Suatu saat nanti, gw pengen banget porsi nulis gw lebih banyak dari sekarang.. Entah sejak …

memahat diri..

Pernah suatu ketika, seseorang bertanya pada Michaelangelo, kok bisa sih bikin patung kayu mahakarya yang bagus sekali, gimana caranya ??.. Sang maestro pun menjawab: “Patung itu sudah ada di dalamnya koq, saya hanya membantu membuang bagian2 yang tidak perlu dari bongkahan kayu yang digunakan..” *Doeng..!!*.. Mantep banget nih jawaban dari si maestro.. Maknanya bisa dalem pulak.. Bisa dikaitkan dengan ilmu untuk mencapai keberhasilan.. Manusia pada awalnya ibarat sebuah bongkahan kayu yang belum jadi.. Yang entah kapan nantinya, bisa akan tetap menjadi sebuah bongkahan kayu, atau akan menjadi sebuah karya ukiran / patung / bentuk lain yang lebih bernilai harganya.. Loh, koq enak aja main ngomong manusia itu semua sama kayak bongkahan kayu ??.. Ada beberapa pernyataan orang2 besar yang gw tau memang menganggap pada hakikatnya, semua manusia itu sama.. Seperti Confucius misalnya, ia pernah menyatakan, semua manusia itu sama, yang membedakan antar mereka adalah kebiasaannya.. Paul G. Stolt sebagai salah satu penggagas ide Adversity Quotient (AQ) juga beranggapan pada dasarnya semua manusia sama, karena kita semua kurang lebihnya menghadapi masalah2 yang sama, dan yang membedakan …