Latest Posts

kritis berubah…

Untitled-2Dulu pernah pas gw sholat taraweh di mesjid komplek gw, ustad yang diundang utk ngisi ceramah berhalangan hadir.. Kemudian bapak2 di komplek gw yg ada di barisan paling depan saling mempersilahkan untuk jadi pengganti mengisi ceramah.. Kemudian salah satu bapak nyeletuk: “Hayo siapa aja lah, wong ceramahnya normatif koq..” Di beberapa kamus normatif itu bisa diartikan baku, standar.. Malah kalo di google terkait dengan kata “basic” atau dasar.. Kalo boleh jujur dan terus terang, gw lebih sering merasa “bosan” dengerin ceramah sholat taraweh atau sholat jum’at yang kesannya koq topiknya hampir2 sama / standar terus dan terkesan kurang berkembang secara signifikan.. Mungkin ini di mesjid komplek gw doang kali yaa.. Atau mungkin gwnya juga yang salah, karena punya rasa kepo yang kelewatan, hehehe.. Atau gwnya juga udah kadung menginginkan yang “lebih”.. Lagian kan nggak salah juga normatif untuk mengingatkan ??.. Mana tau ada juga yang belum tau…

Tapi gw pikir, ini bisa ada benang merahnya dengan lambatnya perkembangan atau perubahan umat sekarang.. Dari postingan blog gw yang kemaren, ada yang ngeshare di FB, kemudian ada yang berkomentar begini di wall FB yang ngeshare: “Sayangnya juga, ustadz-ustadz jaman sekarang tidak punya kemampuan soal bagaimana cara berdiplomasi dengan yang belum memahami tentang prinsip tersebut (membuat korelasi ilmiah antara peristiwa2 agama dan science).. Ujung ujungnya pake senjata pamungkas “Logika itu mengikuti iman, bukan iman mengikuti logika”.. Orang yang kritis akan menjadi apatis dan itulah cikal bakal kegagalan da’wah..”

Waw, buat gw ini komentar yang oke banget.. Terutama dalam hal mencoba mengkritisi bentuk dakwah sekarang.. Yang seakan cenderung seperti proses “fotocopy” antara pengajar dengan yang diajarnya.. Sekarang ini seakan kita “ditahan” untuk berpikir kritis, takut mengkritisi guru / ustad sendiri, takut mengkritisi ajaran2 turun menurun, seakan itulah yang sudah paling benar.. Padahal, apapun yang “keluar” dari pikiran seorang manusia, pasti bisa ada kemungkinan salah.. “Pikiran bukanlah pikiran, kalo dia tidak mencoba melampaui batas larangan itu.. Berpikir kritislah, tetapi jangan tinggalkan pangkalan..”, begitu kata Buya Hamka.. Kemudian, lanjutnya: “Dunia Islam, di bawah pimpinan ulama2 agama, pernah menutup rapat pintu filasafat (berfikir kritis) karena takut tersesat dari agama.. Tetapi bahaya yang ditimbulkan dari menutup pintu ini ialah kelesuan berfikir, dan hilang kemampuan menghadapi peredaran zaman..”

Pernyataan buya Hamka itu bisa gw maknakan, kalo orang muda nurut “plek” begitu aja sama orang yang lebih tuanya atau pengajarnya, maka sulit akan ada perkembangan berfikir.. Ibarat kalo si guru punya ability 10, dan kalo si murid nurut “plek” maksimal potocopy gitu aja, maka muridnya juga akan mentok punya ability 10.. Tapi kalo si murid “bandel” dikit atau kritis, maka akan terbuka kemungkinan naik ke angka 11 dan selanjutnya, atau bisa juga “melebar” ke 8a.b.c., 9a.b.c.. Hal ini sebenarnya sering gw liat lancar teraplikasikan dalam science, tapi koq sepertinya kurang lancar dalam perkara agama Islam.. Padahal dengan begini, perubahan ataupun perkembangan bisa “mengalir” dengan lebih lancar..

Perhatikanlah, segala sesuatu di alam semesta ini selalu berubah, entah ukurannya, posisinya, atau waktu (umurnya)..  Tidak ada yang tetap, yang tetap justru perubahan itu sendiri.. Dan yang bisa dipastikan dari hal ini: YANG TIDAK BERUBAH PASTI KETINGGALAN..!!.. Tidak mungkin cara2 lama yang terus2an dipakai bisa menghasilkan hasil yang baru.. Bentuk dakwah sewajarnya bisa berubah mengikuti perkembangan zaman.. Dan gw pikir, untuk saat ini, karena zaman telah berubah, syiar yang juga bisa efektif adalah melalui keteladanan bukan pemaksaan, melalui karya berorientasi masa depan bukan karya di angan2, melalui kemandirian buah pikir logis bukan hanya kutipan hadis, dan melalui penguasaan ketinggian ilmu bukan kebanggaan masa lalu.. Ini tidak mudah, dan ini yang mesti gw buktikan sendiri dulu sebelum gw bisa menyarankan ke orang lain… (T_T!)

Buya Hamka pun menuliskan: “Memegang teguh suatu teori yang telah basi, adalah satu kesalahan besar.. Sama besarnya dengan kesalahan ahli2 agama yang memahamkan ilmunya dengan membatu..”

agama, akal, ilmu & fitnah..

Untitled-1Dulu ustad di mesjid komplek guwe pernah ngasi pernyataan begini: “Logika itu mengikuti iman, bukan iman mengikuti logika..”.. Mungkin karena gw nanya mulu’ kaya’ tamu…  Hehehe.. Waktu itu mah gw cuman manggut2 aje.. Tapi dalem hati, jelas banget gw kurang puas.. Padahal kalo bisa membuat “masuk akal” sesuatu yang misteri, gw bisa lebih yakin sama hal tersebut.. Contoh, banyak sekarang kan kita seakan disuruh milih: pilih dunia atau akhirat ??.. Dan kesannya kalo salah satunya dipilih, maka kita akan meninggalkan yang lain.. Tapi setelah cari2 tau sekian lama, gw meyakini dunia dan akhirat bukanlah pilihan, tapi satu kesatuan..

Coba cermati riwayat analogi berikut: Rasul mencelupkan ujung jarinya ke lautan, terus diangkatnya jari itu, lantas menunjukkan kalo sisa tetesan air kecil yang menempel di ujung jari adalah dunia seisinya, dan laut itu adalah akhirat.. Pake saja akal atau pertanyaan kritis sederhana: air yang menempel di ujung jari Rasul itu air laut toh ?? Terus air yang  ada di laut jelas2 juga air laut toh ??.. Bukankah mereka sama2 air laut ?? Bukankah mereka itu sebenarnya satu ??.. Dunia dan akhirat sebenarnya adalah satu, namun dengan tingkatan & luas dimensi yang berbeda jauh sekali.. Buktinya, apa yang sekarang kita lakukan di dunia ini, langsung berpengaruh pada akhirat kita kan.. Hal ini lebih bisa dipahami dengan menggunakan teori fisika quantum, teori string, atau mungkin spatial dimensions.. (Euh, jelas gak mungkin gw jelasin di sini) hehe… Tapi berkat fisika kuantum, gw jadi tambah yakin akan kebenaran periistiwa Isra’ Mi’raj, dan konsep langit pertama sampai langit ketujuh.. Berkat akal yang menghasilkan ilmu, semuanya menjadi logis.. It’s all make sense..!!

Itulah beragama dengan akal sehat.. Makin bisa dilogikakan, maka akan semakin yakin, dan bukan sebaliknya: makin gak masuk akal, malah makin dibiarkan begitu saja menjadi misteri dan malah mutlak akal harus tunduk begitu saja… Jadi gw nggak setuju konsep logika harus tunduk begitu saja pada iman.. Kalo kata Buya Hamka: “Akal untuk memperkuat iman beragama, dan agama untuk memberi arah mulia dari akal..”

Nah, kalo boleh gw mengkritisi fitnah2 yang bertaburan di era pemilu ini, gw setuju dengan pernyataan Anies Baswedan: “Butuh motif yang luar biasa besar untuk bisa memfitnah seseorang..”.. Karena apa ?? Karena fitnah jelas perbuatan yang sangat rendah dan jelas2 dilarang oleh Alloh.. Sering kita dengar fitnah lebih kejam dari pembunuhan.. Gw heran, apa mereka gak takut dosa ya ?? Apa mereka gak takut Tuhannya sendiri ??.. Jawabannya kalo dari gw, ya bisa gara2 KURANG ILMU.. Loh, kok kurang ilmu sih ??.. Ya karena Tuhan sudah ngasi tau: QS. Faathir (35): 28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu”.. Para penyebar fitnah itu seakan nggak takut sama Alloh.. Sejumlah orang yang gw anggap hebat, juga banyak yang berpandangan bahwa ke-ILMUWAN-an di dalam Islam memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan KEIMANAN..

Sekarang ini aja gw banyak banget liat, orang masih sulit membedakan mana fakta dan mana opini.. Jadinya mudah mempercayai sebuah info tanpa dipikir secara kritis atau diklarifikasi terlebih dulu.. Akibatnya mudah termakan fitnah mentah2.. Situs “bodong”, penulisnya gak jelas, redaksinya gak jelas, bahkan SMS yang penulisnya ngaku2 mantan wartawan surat kabar terkemuka, dipercaya begitu saja, tanpa dipikir jernih dan tanpa cross check lagi… Padahal perintahNya jelas: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].“

Kalo dari “kacamata” gw pribadi, orang yang beragama Islam namun menciptakan dan turut menyebarkan fitnah itu terlihat sangat janggal..  Kenapa koq bisa janggal gini ya ?? Nah, luar biasanya, Buya Hamka sudah bisa “ngeliat” dan menjawab pertanyaan gw ini di tahun 1961.. Dalam sebuah bukunya beliau menulis: “Maka jika kelihatan sesuatu yang janggal, bukanlah karena salah agama.. Melainkan karena kehalusan perasaan agama tidak dipupuk oleh kecerdasan pikiran.. Hanya membaca kitab2 yang beku, tidak dituntun oleh ilmu pengetahuan yang sejati..”

Gw suka banget slogannya Cak Lontong: “MIKIR !!”.. hehe..

awam haram..

Untitled-1Gw bukan orang yang mumpuni pemahamannya tentang Islam, malah bisa dibilang gw orang awam.. Lantas karena gw orangnya kepo-an akan agama gw sendiri, maka banyak pertanyaan2 yang muncul di kepala gw, dan bahkan sampe sekarang masih banyak yang belum terjawab.. Termasuk diantaranya tentang  hadis.. Gw bertanya2 kenapa hadis2 itu ada yang nggak saling “klop” dengan Al Qur’an, bahkan ada yang aneh juga dan terkesan udah gak relevan lagi dengan kemajuan zaman..

Setelah baca sana sini, gw paham ternyata hadis itu adalah karya ilmiah, dan penyusunannya sekitar lebih dari 100 tahun setelah zaman Rasulullah di era khalifah Umar Abdul Aziz dan TANPA pengawasan langsung dari Rasul, melainkan disandarkan pada kepakaran para ilmuwan hadis.. Berbeda dengan Sunnah (meski ada juga yang nyamain), Sunnah adalah segala keteladanan Rasul yang diminta diingat oleh para sahabatnya.. Karena itu hadis tidak bersifat mutlak seperti Al Qur’an – tanpa mengurangi rasa hormat kita pada para ilmuwan hadist.. (Agus Mustofa (2011), Beliau ngambil sumbernya dari Al Qur’an terbitan Arab Saudi yang selalu dibagikan pada jama’ah haji, bab sejarah penyusunan Al Qur’an & Hadis..).. Hooo.. pantesan, ini sebabnya ada istilah hadis palsu segala.. Kan bisa saja ada “oknum” dalam “penelusuran” hadis2 tersebut..  Namun jelas, acuan atau pegangan tertinggi itu Al Qur’an.. Jadi, sejak tau hal ini, gw agak berhati2 dengan hadist.. Gw mengikuti sudut pandang Agus Mustofa, cross check dengan Qur’an.. Kalo “klop”, Insya Allah itu hadis bener..

Contoh dari paparan paragraf di atas, hadis tentang gak boleh menggambar, karena itu sama aja menandingi Tuhan dalam mencipta makhluk bernyawa.. Banyak yang bilang DULU iya gak boleh, karena takut jadi barang sembahan / berhala.. Sekarang kan gak lagi toh ??.. Jadi ini hadis terkesan ketinggalan zaman.. Tapi sekarang pun masih banyak yang pake hadis ini.. Dan nggak “klop”nya, kok ya ada ayat Qur’an yang menantang kita untuk bikin seekor lalat ??.. Pernah ngeliat seorang desainer robot membuat karyanya tanpa bikin “gambar” jadi atau rancangannya dulu ??.. Sepertinya mustahil membuat robot lalat tanpa membuat “fisiknya” dulu di atas kertas yang notabene berupa gambar.. Kalo hadis itu emang bener dan terus dijadikan pegangan, sampe kiamat pun nggak akan ada orang Islam yang bikin cyborg.. Karena cyborg / robot secara fisik dan artificial intelligentnya sudah menyerupai makhluk.. Lantas apakah itu menandingi Tuhan kah ?? Haram kah ?? I don’t think so..

Gw nulis gini karena banyak hadis2 yang dijadikan “dasar” orang beropini, dan seakan itu sudah final paling benar, nggak terbantahkan.. Padahal itu adalah karya ilmiah.. Mangkanya selalu ada perawi atau periwayatnya.. Kalo bahasa ringannya itu “katanya” si A atau “katanya” si B.. Bisa dibayangkan “katanya2” yang terus2an di”oper” diantara banyak orang selama ratusan tahun ?? plus lagi tanpa pengawasan langsung dari Rasul pulak .. Jadi sederhananya, Al Qur’an adalah guidance paling tinggi tingkatannya dalam Islam.. Karena itu firman Tuhan, tidak berubah satu huruf pun dari dulu hingga sekarang, dan mutlak kebenarannya.. Kalo outputnya jadi ngaco, itu karena salah penafsiran / pemaknaan dari manusianya..

Gw nggak tau hadis apa yang dipake buat ulama2 itu yang maen haram2in milih salah seorang capres.. Padahal di Al Qur’annya udah jelas: QS [16]:116  “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”.. Di QS [10]:59  setelah berbicara mengenai halal & haramnya rejeki, ditutup dengan pertanyaan:“Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?.. Buat gw pribadi sih, jelas cuman Allah yang bisa mengharamkan sesuatu.. Entahlah kalo buat mereka itu Al Qur’an bukan pedoman yang tertinggi..

Hadist “otentik” memang banyak yang gw liat sendiri bukti kebenarannya, dan umumnya memang “sejalan” dengan Al Qur’an.. Mau bukti yang masi anget ?? Ini ayat Qur’annya: QS At-Taubah [9]:31, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah…”  Dan ini ada hadis yang “klop” dalam salah satu bukunya Ustd. Felix Siauw: “Mereka memang tidak beribadah kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib itu.. Akan tetapi apabila pendeta dan rahib itu menghalalkan sesuatu, maka mereka pun menghalalkannya.. Demikian juga apabila mereka mengharamkan sesuatu, maka mereka pun ikut mengharamkannya..”

happy B’Day RadinKA..

B'Day RAdinYeeeyy..  Alhamdulilah, anak gw genap berusia 2 tahun tgl 24 Juni ini.. Kalo gw perhatiin anak gw sekarang, rasa2nya udah tambah bawel.. Meski seringan gw kagak ngarti dia ngomong apaan, hehe, ngomongnya masi banget2 nggak jelas.. Tapi udah mulai keliatan kayaknya sih bakal doyan cerita, kepo, dan bisa jadi sotoy juga kayak bapaknya.. Gyehehe.. Gw dikit2 udah mulai coba ngebayangin, bakalan kayak apa dia nanti, kira2 passionnya kemana ya, dan cara mikir dia nantinya gimana ??..

Gw sadar banget, anak gw ini jelas2 bukan gw.. Tiap zaman melahirkan anak2nya sendiri, yang membawa pemikirannya sendiri.. Tiap zaman juga menyediakan “wilayah2” sendiri untuk bisa dieksplorasi oleh anak2 yang lahir di zaman tersebut, dengan peluang kesuksesan yang sama.. Gw pikir, itulah kenapa kita ini nggak pernah kehabisan cerita orang sukses dari zaman ke zaman, dari duluuu sampe sekarang.. Selalu ada orang2 sukses di sebuah zaman, dengan bentuk pencapaian2 yang berbeda di tiap zamannya.. Namun tetap bisa dilihat “pola”nya, orang2 yang sukses di bidang apapun itu selalu orang2 yang berilmu tinggi dan ber-skill tinggi..

Di Indonesia ini gw agak “ngenes” ngeliat nasib orang2 berilmu, kok ya ditelantarkan dan kurang dihargai… Bahkan kehidupannya banyak yang kalah jauh sejahtera dengan artis2 yang sering nongol di tivi, yang bermodal goyang2 mulu’, yang pake baju kurang bahan, atau orang2 bodoh yang entah kenapa dengan pedenya merasa dirinya jadi seorang public figure.. Kalo gw pikir sih, mereka2 itu sebenarnya lebih cocok jadi action figure ketimbang public figure.. hehehe..

Dimanapun dan apapun yang terjadi pada orang berilmu di setiap zaman, gw tetep ngefans berat sama mereka.. Sama buah2 pikir mereka, sama konsistensi dan kekuatan mereka untuk terus belajar tanpa kenal henti, dan melahirkan hal2 baru yang sebelumnya tak terpikirkan.. Gw baru bener2 “sadar” betapa hebatnya orang2 berilmu itu pas jaman gw kuliah, dan sampe sekarang, gw masih tetep ngefans, atau bahkan makin ngefans banget sama orang2 yang berilmu.. Terlebih yang berbau science, yang menguak beragam sesuatu yang ada di balik alam semesta ini..

Itulah kenapa anak gw guwe kasi nama Radinka Urvil Ulima, yang artinya menyenangi ilmu yang baik / kebaikan.. Ulima-nya dari kata ulama, dari bahasa arab yang artinya orang yang berilmu atau ilmuwan.. Gw berharap, anak gw jadi orang yang sangat menyenangi ilmu yang baik dan menyenangkan.. Jadi, wahai Radinka, met ulang tahun… Kepolah selalu, cintailah buku, cintailah ilmu, belajarlah dimanapun kapanpun dan darimanapun.. Jadikanlah suatu saat nanti, bapakmu ini ngefans berat juga padamu..!!.. Amiin..

siapa di belakang “kucing” ??..

Untitled-1

Ada sejumlah orang yang gw tau nggak mau pilih Jokowi karena ada Megawati di belakangnya.. Hmm.. Jujur aja, gw juga gak suka koq sama Megawati, dan gw tetep pilih no. 2.. Karena apa ?? Karena kalo faktor orang2 “di belakang” yang dijadikan pertimbangan, justru menurut gw orang2 di belakang kubu no. 1 itu malah lebih parah, dan lebih banyak yang gak gw suka.. Di belakang kubu no. 1 itu lebih banyak lagi orang2 yang terlibat “kasus2” korupsi dan kasus lain yang merugikan negara.. Ada yang kasus daging sapi, ada yang lumpur, ada yang dana haji, dan lain sebagainya..

Logika sederhananya, kalo gw memilih capres no. 1, itu sama aja gw memberikan peluang bagi mereka untuk menjabat dan duduk kembali di dalam pemerintahan.. Dan kalo mereka berhasil menjabat kembali, itu adalah kesempatan bagus bagi mereka untuk dapat “menghapus” jejak, “bermain cantik”, “cuci tangan”, “mengeles” atau tindakan apapun dengan beragam istilah, dan bakal makin susah kasus2 merugikan negara era periode lalu terungkap tuntas, karena yang menjabat masih mereka2 juga.. Nggak mungkin kan ngebersihin lantai pakai sapu kotor..??.. Gw gak mau bangsa ini jatuh pada lubang yang sama.. Gw cuman berusaha mikir sederhana sebagai orang yang awam banget soal politik.. Tindakan kecil yang bisa gw lakukan sebagai rakyat biasa saat ini adalah: MENUTUP RAPAT-RAPAT PELUANG orang2 itu bisa menjabat kembali, dengan mencoblos no. 2.. Kita sama2 nggak tau masa depan, jadi kalo analoginya pemilu ini ibarat milih kucing dalam karung, maka gw akan berusaha teliti dengan siapa si kucing ini berkumpul & apa yang dilakukan kucing ini sebelum dia dimasukin ke karung..

Dalam keseharian kita sering liat maling akrab dengan maling, penjudi nyaman berkumpul dengan penjudi, penggosip dengan penggosip, dan orang2 dengan hobby yang sama cenderung nyaman dan berkumpul bersama.. By science ini udah terbukti koq dengan teori Law of Attraction: orang2 dengan “getaran” hati dan pikiran yang sama, akan cenderung berkumpul bersama.. Jadi jangan heran kalo ngeliat “mereka” yang terlibat kasus korupsi di paragraf awal itu jadi bisa nyaman berkumpul bersama.. Karena “getaran” hati dan pikiran mereka sama busuknya..

Sebaliknya Jokowi banyak difitnah sebagai pendukung kristenisasi lah, syi’ah, kafir, zionis, antek cina, dan lain sebagainya.. Dan pas gw liat, situs2 yang mengatakan itu semua adalah situs2 aneh yang mengatas namakan Islam.. VOA-Islam, Arrahmah, dan lain sebagainya buat gw itu adalah situs2 provokatif dan penebar fitnah serta kebencian.. Pernah gw liat sendiri koq, ada gambar2 dan berita2 yang diedit untuk kepentingan fitnah / membengkokkan fakta yang sebenarnya.. Dan ujung2nya banyak pihak yang mengklarifikasi dan mematahkan fitnah2 tersebut..

Cara orang beragama di sini menurut gw udah banyak yang jadi “aneh”… Bisa mengharamkan seenaknya, berbeda bisa dibilang sesat atau kafir, dsb.. Hehe.. Pengajian berselubung partai, ujung2nya penggiringan opini supaya milih partai tertentu, khutbah Jum’at pun ada yang opini jama’ahnya terkesan diarahkan untuk memilih partai tertentu, atau ada juga yang beramal bawa2 bendera partai (HAH !!).. Gw jadi bingung sama mereka, mereka ini beramal untuk partainya atau untuk Tuhannya ?? Dan yang paling parah yah bentuk fitnah itu, yang justru meresahkan, menebar kebencian, dan sama sekali tidak mendamaikan.. Padahal kan kita beragama supaya jadi tentram..

Gw suka banget sama analogi KH. Ahmad Dahlan tentang agama, karena bukti nyatanya udah banyak banget bisa dilihat.. Analoginya kurang lebih begini: “Hakikat agama itu seperti musik, di tangan orang yang pandai memainkannya, dia akan indah, cerah dan mendamaikan.. Namun di tangan orang yang nggak pandai memainkannya, dia akan jadi sumbang, kacau, meresahkan dan tidak menentramkan, bahkan bisa jadi bahan tertawaan..”

Barangkali ini bisa jadi renungan siapa yang pandai beragama, siapa yang tidak ??.. (^_^)/