Latest Posts
“minta es krimnya dong oomm..!!”
Banyak gw liat, mungkin juga termasuk diri gw sendiri, (hehehe)… ngeyel atau mengeluh supaya mensegerakan pengkabulan atau hasil do’a atau permintaan pada Tuhan… Padahal Allah udah janji, kalo gak salah begini: “..dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang2 yang sabar…”…
Asumsikan kondisinya seperti ini… Dua orang keponakan guwe yang umurnya dibawah 10 tahun lagi dititipin ama ortunya di rumah guwe… Guwe punya stok es krim, dan nantinya mau gw kasi ke mereka.. “Nanti om kasi es krim yaa… tapi ntar tunggu dulu, om lagi nyelesain kerjaan neh….”. Selama waktu penantian, ponakan yang satu bersikap tenang2 aja nunggu, dan yang satu lagi ngeyel, ngeluh, dan minta cepet-cepet tuh eskrim segera dikasi sama omnya…
Kira-kira kalo guwe punya tiga buah eskrim dan mau gue kasi semua, ponakan yang mana yang bakal gue kasi dua buah ??….. op kors, Tentunya yang tenang menunggu donk.. hehe… Meskipun kalo misalnya ini bukan asumsi, tuh eskrim ketiga pasti gw bagi dua sama rata…
Tapi mungkin ini bisa jadi analogi buat pernyataan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar… Pengertian sabar sendiri banyak banget, ada yang mengartikan gigih, ulet, tekun… ada juga yang mengartikannya jadi nerimo, bertahan, dan sikap pasif lainnya… Soal ini terserah masing2 dah mau nganut yang mana…
Kalo gw pribadi, lebih menganut ke definisi sikap aktif seperti tekun berusaha, ulet, nggak tinggal diem, dan sejenisnya… Kalo balik ke analogi ponakan gw tadi, misalnya yang ponakan pertama tidak hanya diam bersabar nungguin gw kelar kerja, tapi malah aktif melakukan hal2 yang bikin hati gw seneng, kayak: mijetin gw, ngambilin guwe minum, bikinin gw kopi, beresin tempat tidur gw, nyuci baju, ngepel, sampe ngorderin gw delivery Kentucky… WAAAWW… udah pasti gw gak cuman ngasi eskrim ketiga, tapi guwe akan beliin dan ngasi dia eskrim keempat, kelima, keenam, kalo bisa malah ama toko-tokonya sekalian… wakakakak…
Naahh.. itu gw yang cuman manusia… gimana kalo kita nyenengin yang nyiptain manusia dalam proses bersabar ???
Yaaaahhh… kurang lebih gitu deh analogi sotoy dari gw… (>_<!)..
Sekolah untuk Apa?
Description:
yah, gw emang udah jadi korban dari sistem pendidikan sini yang gak jelas…
Ingredients:
tulisan bagus dari Rhenald Kasali
Directions:
Sekolah untuk Apa?
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.
Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja.
Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S-2. Jadi birokrat atau jenderal pun sekarang banyak yang ingin punya gelar S- 3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA, 30 tahun lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini.
Sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya. Mengapa hanya soal memindahkan anak ke sekolah negeri lain saja lantaran pindah rumah biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun.
Lengkap sudah masalah kita. Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad sadar betul pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S-2 dan S-3 ke berbagai negara maju.
Hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai 10 tahun,lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya Anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya. Perubahan bukan hanya sampai di situ.
Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis,serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan.
Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya.Tak mengherankan kalau sekolahsekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah. Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa.
”Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima,” ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang
asal masuk ini? ”Mudah saja,” ujar dekan itu. ”Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,”ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di Selandia Baru. Meski
murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi.Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah. Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di Selandia Baru.
Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam 10 besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewawancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan.
Di luar dugaan saya,pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah. Sudah
lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guruguru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai ratarata di atas 80 (betapapun stresnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif, namun tak menguasai semua subjek.
Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengopi isi buku dan catatan. Entah di mana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah
diterima di sekolah yang baik di luar negeri.
Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? ”Undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar,” ujar seorang guru di Selandia Baru. Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan input-nya? ”Itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya,” ujar putra sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga.
Maksudnya,tes masuk tetap ada,tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi. Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan.
Sekolah dilarang hanya menerima anakanak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super di kedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur.
Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif. Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masingmasing. Bagi mereka yang bercita- cita menjadi dokter, biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai.
Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik,dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum di Indonesia itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA tahun pertama harus menguasai empat bidang sains (biologi, ilmu kimia, fisika, dan matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris, dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga, dan komputer.
Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Seperti kurikulum program S-1 20 tahun lalu yang sejajar dengan program S-1 yang digabung hingga S-3 di Amerika.
Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, sehingga hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun. Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian, tapi tak ada masalah kok!
Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah mengubah banyak hal, anakanak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, tapi datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, melainkan dari segala resources.
Ilmu belajar menjadi lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri,sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, ”Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak 10 tahun lalu. Maka itu, sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah,metode diperbarui, fasilitas baru
dibangun,” ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan,tapi sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah dan untuk apa kita bersekolah? semoga anak-anak kita mendapatkan masa depan yang lebih baik.
RHENALD KASALI Ketua Program MM UI
pelecehan profesi..
Kalo gw itung2, kurang lebih sudah hampir 13 tahun gw bergelut di industri desain grafis… Mulai dari jadi freelance desainer grafis sebelum lulus kuliah, sampe sekarang ngebangun dan ngejalanin perusahaan desain sendiri… Tapi menurut gw pribadi, industri desain grafis nggak banyak mengalami perubahan yang berarti…
Apa yang gw alami di masa 10 tahun yang lalu, masih gw alami di masa sekarang… Mulai dari ketemu klien yang nggak bisa menghargai waktu (janjian jam 10, nongolnya jam sebelas kurang… hehe.. melayu sekali…), desain yang dihargai murah dan harganya terus dibanting-banting, brief siang hari besok pagi minta jadi, campur tangan dalam aspek estetis oleh si klien yang sotoy sampe akhirnya desain kita jadi ancur lebur, sampe di “compare head to head” dengan perusahaan percetakan yang notabene gak bisa menghargai desain…
Kalo gw pikir profesi desainer grafis ini masih sering diremehkan oleh usernya, karena industrinya sendiri abu-abu, dan pelaku industrinya sendiri kurang bisa menghargai profesi mereka sendiri dengan menjual desain mereka dengan harga yang relatif murah (meski ini nggak semuanya seh..)… Hal ini diperparah dengan kondisi dimana siapapun bisa mencantumkan profesi “graphic designer” di kartu nama mereka, meski cuman bisa photoshop doank… kekeke… Wal hasil, industrinya jadi agak2 berantakan deh… hehe…
Waktu gw ikut seminar entrepreneur for graphic designer dulu, si Sakti Makki selaku pengisi materi mengatakan sesuatu yang gw terus inget sampe sekarang… dia bilang begini: “This business will HURT you so BAD…”
Hehehe… Betul sekali mas Sakti Makki… sampe sekarang, segala faktor yang bikin “HURT” itu timbul masih belum hilang…
Untuk mereka2 siapa saja yang berniat memulai atau menjalankan bisnis ini, gw ucapkan “welcome to the club…”… hehe… Beberapa mahasiswa gw pun sempat ada yang berikrar akan mendirikan perusahaan desain sendiri… GW DUKUNG MEEN… !!! hehehe…
Seberapa “HURT”nya bisnis ini, nanti kalian akan merasakan sendiri…
Anggaplah semua itu sebagai tantangan… setiap penyelesaian tantangan adalah sebuah tangga kenaikan… seiring berjalannya waktu kita nggak akan menyadari sudah di anak tangga keberapa kita berdiri, tapi yang paling penting adalah NAIK… Kalau kalian orang yang sangat mencintai industri kreatif, percayalah, luka2 itu akan tertutup dengan besarnya cinta kalian… Untuk tetep istiqomah emang banyak godaannya.. hehehe….
sukses punya siapa ??
Dalam sebuah acara seminar, si pemberi materi bertanya pada audiensnya: “Nih, jawab dengan tulus yaa… Menurut anda2 sekalian, adakah orang yang direncanakan sukses oleh Tuhan..?”
Audiens menjawab: “Aaaaddaaa…..”
Lalu si pemberi materi bertanya lagi: “Nah, kalo anda menjawab ada, orang itu orang lain atau diri Anda ??”
Audiens tidak menjawab, hanya planga plongo dan ketawa2 aja….. Lalu si pemberi materi menambahkan: “Kalo anda tertawa, berarti orang itu adalah orang lain…”
Bener juga seh… Gw pikir, seringkali kita nggak menganggap diri kita pantas untuk bersanding dengan sesuatu yang besar, padahal kita semua berhak untuk mendapatkan sesuatu yang besar itu, apapun halnya “sesuatu” itu…
Seringkali kita membuat “batasan” atau bahkan mengkerdilkan diri kita sendiri dibandingan orang laen yang notabene sama2 makan nasi… heheheh… Jadi kalo ditanya “siapa yang pinter ??… jawabnya dia, bukan saya… siapa yang berhak sukses kaya raya ??.. jawabnya dia, bukan saya… Padahal semua itu adalah hak kita semua… Hanya saja kita sering tidak mengambil atau menunda melakukan formulanya, yakni ACTION, atau bertindak mendekatkan diri pada hal2 yang bisa membuat kita lebih “besar” dan lebih baik…
Nyalahin takdir ??… hooo… ndak bisa… Soal takdir, gw pribadi lebih menganut analogi kalkulator…. yaitu perpaduan antara yang sudah ditetapkan sebelumnya dengan usaha yang dilakukan selama proses berjalan…. Kalo mau keluar takdir dari kalkulator, kita mesti usaha mencet dulu sejumlah angka, terus mau diapain terserah, mau dikali bisa, ditambah dikurang dibagi, semuanya bisa… Tiap usaha pemencetan tombol apapun akan mengeluarkan jumlah hasil angka yang berbeda…
Tapi kalo dipikir2, semua angka hasil (takdir) yang keluar itu kan udah ada di dalem kalkulator… Semua udah dimasukin sama si yang bikin kalkulator jauh sebelum kita make itu kalkulator… Jadi apapun yang keluar, semua udah tersimpan di dalam kalkulator… So, meski takdir bisa diubah2, hasilnya selalu udah diketahui dan sudah tercatat, dimana dicatatnya ?? yah di Lauh Mahfuzh….
Kalo kata Andri Wongso, “Success is my right…”… semua berhak untuk ditakdirkan sukses… Nggak seharusnya kita menganggap “kebesaran” cuman layak bersanding dengan orang lain, bukan dengan kita… So guys… Sukses terus yaaa…
Halah… sotoy guwe kumat lageee…