All posts tagged: mantiq

hafal & paham..

Mendikbud sempat bilang; kalo dunia tidak butuh penghafal.. Lantas mereka yang berpaham bahwa menghafal itu penting ‘naik darah’, menghujati Nadiem.. Karena menurut mereka, bangsa atau dunia ini perlu penghafal Qur’an.. Padahal, Mendikbud berbicara dalam konteks kurikulum pendidikan nasional.. Ia sama sekali nggak bilang ataupun menyinggung apapun tentang penghafal ayat Qur’an ataupun hadist.. Dia sama sekali nggak melarang kalo ada yang mau menghafal itu semua.. Bisa saja beliau sebenarnya senang kalo ada banyak hafiz atau hafizah di negeri ini.. Namun, saat itu kan beliau lagi di atas ‘panggung’ pendidikan nasional, dan bukan di atas ‘mimbar’.. Prasangka duluan, tanpa ingin tau lebih dulu makna intinya, ya ambyarr.. Poin pentingnya: gagal melihat konteks dalam mencerna informasi.. Konteks merupakan acuan bagi seseorang untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah pesan/informasi.. Contoh lain, ‘menyetarakan’ ucapan selamat natal dengan kalimat syahadat.. Menyetarakannya hanya karena sama2 kalimat.. Tapi konteksnya nggak dilihat.. Jadinya aneh.. Ucapan selamat hari natal ya setaranya sama ucapan selamat hari ibu, hari ultah, hari Idul Fitri, dan sejenisnya.. Kalimat Syahadat adalah kalimat ‘kesaksian’.. Begimana logikanya bisa disamakan dengan ucapan selamat …

mantiq asyik..

Pernah dengar istilah ilmu mantiq..?? Setelah baca2 lagi, ternyata ilmu ini prinsip dasarnya diletakkan Aristoteles.. Beberapa abad kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Ghazali, Ibnu Rushd, dan ulama2 lain.. Sederhananya, ilmu mantiq merupakan “alat pengatur” nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir.. Ilmu ini juga mendorong kita untuk berpikir secara sistematis dan mendalam.. Salah satu fungsi dari ilmu mantiq adalah “membawa” kita dari apa2 yang sudah kita ketahui menuju pengetahuan yang belum kita ketahui.. Konsep menjadikan apa2 yang sudah kita ketahui sebagai “modal” awal untuk meng-analisa informasi ini mantep juga loh.. Karena kebanyakan dari kita sepertinya memang malas berpikir.. Malas membandingkan berita2, dan bahkan juga malas meng-crosscek kembali informasi baru dengan apa2 yang sudah kita ketahui.. Contoh: dulu sempet rame status Dilan dibandingkan dengan Al-Fatih.. Coba cek yang kita ketahui tentang keduanya.. Jelas2 si Dilan adalah tokoh fiktif, sedangkan Al-Fatih “orang beneran” yang sudah tercatat sejarah sebagai penakluk Konstatinopel.. Ini Ibarat membandingkan imajinasi dengan kenyataan, seperti membandingkan tempe dengan makanan alien.. Hehe.. Perbandingan yang kocak lah, …