me|write, read|me
Comments 3

nggak asli = nggak sejati..

Untitled-3Kasus ijazah palsu yang rame belakangan ini bener2 gokil ye.. Yang butuh2 banget gelar akademik  sih sepemahaman gw itu ya yang bergerak di bidang akademik.. Kayak dosen gitu, jelas2 gelar2 itu malah jadi prasyarat untuk punya.. Yang berprofesi di bidang lain mungkin butuh juga kali yee, untuk naek jabatan misalnya.. Atau buat nyaleg gitu.. Kan lumayan tuh kalo di baleho besarnya (polusi visual) ada tertulis gelarnya yang berderet..

Yang lebih jadi concern gw sih sebetulnya yang di bidang akademik.. Karena sebagai pendidik, yang mesti dilakukan itu bukan hanya transfer ilmu,tapi juga transfer karakter atau kepribadian.. Nah kalo ijazahnya aja beli, apa yang mau ditransfer ?!?.. Ilmunya dari mana ?? Wong belajar aja kagak, tapi dapet ijazah.. Terus transfer karakter apalagi ??.. Karakter nggak jujur gitu yang ditransfer ??.. Atau karakter SBS = Suap Biar Siap ?!?..

Apa sih sebenernya yang dicari orang2 model gini ??.. Padahal kalau persoalan dilarikan ke Tuhan, akan selalu ada jalan keluar yang tidak lari dari kebaikan.. Apa dia pikir kalo berhadapan dengan orang2 atau kemelut kehidupan, dia bisa gitu berlindung dibalik gerlar2nya ??.. Menjadikan gelar2nya sebagi “tameng” dan status ??..

Banyaknya jumlah pembeli ijazah palsu di sini juga membuat gw kembali membuka buku yang dulu pernah gw kutip untuk ditaro di blog ini.. Kembali melihat pernyataan dari almarhum Mochtar Lubis tentang “Manusia Indonesia”.. Hebatnya, beliau menyatakan ini di tahun 1977.. Ini gw kutip lagi beberapa kalimat beliau sebagai penutup postingan ini:

“Ciri manusia Indonesia yang paling menonjol adalah kemunafikannya, yang selalu dipenuhi kepura-puraan sehingga segala tindak tanduknya lain dengan yang dikatakan, dan lain pula dengan yang dipikirkan.. Mereka berjiwa feodal sehingga suka sekali dijilat bawahan dan juga tidak sungkan menjilat atasannya dengan asas asal bapak senang.. Sejalan dengan itu, dengan sendirinya mereka tidak mau menerima kritikan karena selalu merasa dirinya yang paling benar..”

“Untuk itu mereka sering berlindung di balik topeng feodalisme lama (seperti sebutan demang, tuanku laras, bendoro raden mas), atau mengejar lambang feodalisme baru (seperti pangkat & jabatan serta gelar akademis, yang sering diperoleh dengan cara membelinya)..”     

Advertisements

3 Comments

  1. amiiiennnn:))
    yg sempat mencuat ada profesor yg gelarnya berderet itu ya…dan gossiip..ciaa gosip queen banten yg katanya jg temasuk pembeli jazah palsu demi kursi kekuasaan–yg dulu dia perang kata2 sm marisa haq) emang kayaknya jg cm di indonesia, org kawin kudu di pajang gelarnya: haji, hajah.dokter dsb..biar kepandang atau emang sesuaı dgn apa yg ditulis mochtar lubis.*ampe saya jg heran napa ktp jg di kasih gelar belakangnya..*ini asli ni ktp skrg..padahal saya ya gak minta. orang sini gelar ya dipake pas ditempat kerjanya:nama plakatnya gitu kl dokter atau advokat. kl gelar sarjana atau haji ga pernah ditulis,yg mati jg ga ditulis, cm nama dia sm nama bapaknya, sbg penghormatan ke guru atau org yg emang nguasain bidang tertentu cukup di panggil:hoca… mau dia ustaz atau guru biasa,atau dokter..semua manggil hoca :jadi inget kisah nasrudin hoca deh..hoca itu nama penghormatan.))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s