entrepreneurship, me|write, think sotoy
Comments 4

“sprint” condition..

Untitled-1Alhamdulillah, satu project “alot” akhirnya kelar jugak.. Hyaha.. Hampir tiap hari selama dua minggu tidur jam setengah 2 pagi.. Alhamdulillahnya lagi, gw suka sama ni project, jadinya ngerjainnya pun, bawaannya tetep seneng2 aja.. Gara2 ni project, banyak kepentingan pribadi gw yang tersingkirkan; kayak ngeblog, bikin aransemen musik, baca komik, maen game, bikin Su’od, jalan2, dll.. Hehe.. Kok jadi terdengar seperti “kesenangan pribadi” ya ketimbang kepentingan pribadi ??.. Hyaha..

Pernah gw tulis di postingan gw yang ini: “lari pelan jalan..”, orang2 yang  kepengen sukses mesti pintar2 mengkombinasikan 3 level kecepatan, yakni sprint, pacing, dan marathon.. Karena terus2an jalan dalam satu level kecepatan malah jadi kurang menguntungkan.. Kondisi sprint, yah sebagaimana orang lagi lari sprint / cepat, sampe ngos2an abis, untuk mengejar target2 jangka pendek..  Kalo gw pikir2, udah lumayan lama juga gw nggak masuk ke dalam kondisi “sprint” begini, ya kayak sekarang yang lagi ngerjain project ini.. Gw jadi inget saat2 awal ngerintis bisnis dulu.. Hehe.. Lebih sering sprint-nya..

Dulu pernah gw denger om Mario Teguh dalam acara ngobrol2 pagi di radio, terdengar jelas sekali dari suaranya beliau sedang letih banget.. Sampe2 si penyiar menyarankan supaya ngopi dulu biar lebih fresh.. Tapi pak Mario malah menjawab dengan ramah kalo kopi nggak akan bisa membantu mengeluarkannya dari kondisi keletihan seperti itu.. Hehe.. Lantas acara ngobrol2nya pun berlanjut.. Mungkin saja pak Mario baru keluar dari kondisi “sprint” yang gw maksut di atas..

Sukses selevel Mario Teguh pun masih bekerja keras dan mengalami keletihan yang amat sangat.. Dan banyak juga gw perhatikan (terlebih di negeri lain), orang2 suksesnya malah seneng bekerja keras.. Bayaran jelas2 udah bukan jadi tujuan.. Jadi kayaknya teori psikologi Maslow berlaku, mereka “masih” bekerja keras untuk kebutuhan aktualisasi dirinya..

Atau teori Self-determination theory (SDT) juga bisa berlaku disini.. Teori tentang motivasi dan personalitas ini awalnya muncul di tahun 70an, dan terus mengalami perkembangan sampe sekarang di tahun 2000an.. Pendeknya, teori ini menyatakan kalo manusia juga punya 3 kebutuhan dasar: 1. Autonomy (merasa diri sebagai “penulis buku hidupnya” sendiri), 2. Competence (butuh tantangan untuk kapabilitas), dan 3. Relatedness (butuh merasa terhubung dan dekat dengan orang lain..)..

Sejumlah studi menunjukkan, orang2 yang ketiga kebutuhan SDTnya terpenuhi, merasa lebih berbahagia.. Bukan hanya dalam jangka panjang, tapi dalam wujud jangka pendek harian pun dampak dari teori ini bisa “berjalan”.. So, ketemu atasan atau karyawan sehari2, ketemu rekan sekerja, bahkan ketemu “kerjaan” itu sendiri yang merupakan peningkatan kompetensi, pun bisa menjadi wujud dari sebuah kebahagiaan..

Seorang tokoh dari Singapura pernah ngomong begini: “Hardwork is what we have to pay for a meaningful & happy life..”

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s