entrepreneurship, favourite, me|write, think sotoy
Comments 4

inner Lion..

Untitled-1Bener juga kata orang2 dulu.. Kita itu sebenernya dilahirkan sebagai pemenang.. Di Al-Qur’an juga disebutkan kalo manusia itu adalah khalifah, alias pemimpin, atau kalo boleh diperluas sedikit, sebenarnya ada ego “Raja” di dalam diri kita masing2..

Gw kadang suka mikir sendiri kalo ngeliat anak gw yang bulan Juni nanti mau umur dua tahun.. Seperti kebanyakan anak kecil pada umumnya, ego “keRajaan”nya tinggi banget.. Kalo maunya nggak dapet, marah.. Memaksa, nangis tambah kenceng, pokoknya mesti dapet apa yang dia mau.. Dikasi tau ya kurang ngefek, karena belum ngerti.. Dan dia sendiri juga nggak peduli dengan ketidak mengertiannya.. Intinya, HARUS dapet apa yang dia mau, terkadang meski lewat jalan menyakiti dirinya sendiri dikit2.. Plus, nggak pernah kapok untuk mencoba apapun.. Meskipun akibatnya “kepedesan” sampe narik2 lidahnya sendiri, jatoh, lecet, dan benjol / memar, anak kecil tetap nggak peduli, selama yang dia inginkan tercapai..

Kalo gw pikir, itu semua sifat2 yang dimiliki oleh para pemenang atau seorang raja.. Tapi entah sejak kapan, rasa / sifat tersebut memudar saat kita dewasa.. Entah sejak umur berapa, gw sendiri nggak ngerti, kenapa rasa tersebut seakan-akan hilang menguap begitu saja.. Dan akhirnya orang dewasa jadi lebih banyak yang “pasrah” dengan fakta / kenyataan di hadapannya.. Nggak mampu beli barang yang dimau, melihat kenyataan di depannya gak sesuai dengan impiannya, lantas pasrah, tunduk, dan bukannya malah “marah”, lantas berupaya keras membangun kemampuan & memaksa gimana caranya nanti dia bisa dapetin barang itu atau merubah kenyataan hidup..

Rasa2 atau ego2 “keRaja-Raja’an” itu gw pikir sebenernya bukan hilang nguap begitu saja.. Hanya saja kebanyakan dari kita tanpa sadar menekan habis rasa2 kayak gitu sampe2 seakan2 tidak bersisa, atau ibarat sebuah singa si raja hutan yang dikerangkeng di dalam teralis penjara.. Buktinya apa kok nggak hilang ?? Buktinya, sebagian orang dewasa ada koq yang tetap memiliki rasa2 / ego2 kayak gitu.. Orang2 yang nggak takluk begitu saja pada fakta di sekelilingnya, nggak peduli sama opini orang lain, marah kalo ‘terbatas’, “panas” kalo nggak mampu beli barang tertentu, dan lebih percaya serta tertarik dengan “apa jadinya” dirinya di masa depan.. Rasa2 sebagai raja / pemenang inilah yang seringkali membuat orang berhasil merubah kehidupannya secara drastis atau melahirkan karya / prestasi besar..

Mereka memilih untuk nggak memenjarakan singa dalam diri mereka, namun juga sekaligus nggak melepas begitu saja singa tersebut karena dampak liarnya bisa berakibat negatif.. Orang2 model begini memilih untuk memelihara singa tersebut dalam diri mereka.. Membiarkannya mengaum saat melihat keterbatasan diri, merantainya saat perlu ditahan, dan membiarkannya menjilati lukanya sebentar saat tercabik.. Luka tidak mengapa, justru sebagai tanda kegagahan seorang raja.. Yang terpenting itu jumlah bangkitnya, bukan jumlah jatuhnya.. Namun, tabiat dasar itu tetap adanya.. Kodok tetaplah kodok, dan singa tetaplah singa..

Jadi, biarkan singa di dalam diri itu tetep mengaum.. Buka pintu kerangkengnya sedikit2.. Rasakanlah, bahwa masing2 diri di dunia ini punya hak untuk menjadi pemenang, dan menjadi Raja di rimbanya masing2..

Nikos Kazantzakis, seorang novelis & filsuf asal Yunani pernah berkata: “Dengan sungguh-sungguh mempercayai sesuatu yang belum terwujud, berarti kita telah menciptakannya.. Sesuatu yang tak ada adalah segala hal yang tidak sungguh-sungguh kita inginkan..”

Advertisements

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s