All posts tagged: politik

fusi[on]..!!

“Jangan pisahkan agama dan politik”..??  Hmm.. Gimana ya ?? Seakan ada paradoks di pernyataan itu.. Dibilang dipisah, tapi agama (Islam) meliputi segala aspek kehidupan.. Dibilang “dicampur”, tapi kok jadinya malah aneh, jadi doyan mengkafirkan, nggak mau mensholati jenazah, “halal” memfitnah, dan berkesan “menyerang” yang berseberangan pilihan politik.. Tiap2 pemeluk agama pasti meyakini kalo agamanya-lah yang paling benar.. Pas kuliah S2 dulu, gw jadi paham, kalo agama itu dogma, posisinya lebih tinggi dari perspektif atau tradisi dari teori2 yang ada.. Lah wong firman Tuhan.. Saat seseorang meragukan sebuah teori, dia bisa langsung bertanya kepada si “empu”nya teori, atau melihat teori2 bantahannya, atau teori2 lain yang mengkritisinya.. Namun kalo kita ingin tau sebenar2nya tentang firman Tuhan, kepada siapa kita harus bertanya ??.. Sangat kecil kemungkinan bisa bertanya langsung ke Tuhan.. Dan kalo kata Cak Nun, sepinter2nya ustad atau ulama bicara tentang Alloh, mereka pun “menafsirkan” juga, belum tentu benar, karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Alloh.. Karena agama adalah dogma, hal tersebut menjadi nggak penting untuk diperdebatkan, apalagi di”versus”kan, karena semua itu adalah pilihan, yang akan …

Buya Hamka keren.. (^_^)/

Entah kenapa, gw ngerasa mesti nge-share lagi beberapa paragraf dari tulisan Buya Hamka.. Asli, gw sangat merindukan kembali kehadiran ulama2 seperti beliau.. Buat gw, ulama2 model beginilah yang bisa bikin damai, sesuai dengan kekinian, namun tetap mengambil esensi kebaikan dari masa lalu.. Ini dari buku “Falsafah Hidup”, cetakan XII (1994), saat beliau membahas mengenai Islam dan Negara: “Orang yang mempelajari Islam secara ilmiah TIDAK AKAN DIPENGARUHI OLEH RASA SAYANG ATAU BENCI, akan dapat mengetahui bahwasanya ISLAM ADALAH MELIPUTI SELURUH KEGIATAN HIDUP MANUSIA.. Islam bukan semata-mata ibadah daripada makhluk kepada Tuhan, dan bukan pula semata-mata politik, hubungan antara seseorang dengan masyarakat, dan bukan pula semata-mata urusan daripada ulama atau kepala2 agama, tetapi MELIPUTI SELURUH ASPEK KEHIDUPAN..” “Menurut ajaran Islam yang lebih dahulu harus dijelaskan ialah tauhid mengakui ke-esaan Tuhan, satu kekuasaan tertinggi, satu pengatur alam raya.. SEMUA MANUSIA SAMA DI HADAPAN TUHAN.. TIDAK ADA PERBEDAAN WARNA KULIT, ATAU RAS DISKRIMINASI.. Tidak ada perbedaan karena perlainan keturunan.. Yang semulia-mulia makhluk di hadapan Alloh ialah yang setakwa-takwanya kepada-Nya.. Hak manusia sama, dan kewajibannya pun sama..” “Seorang diri pribadi …

puncak benci..

Aneh.. Dulu gw bener2 sangat apatis dan anti sama politik.. Sekarang malah gw agak2 kepo sama perkembangan politik di sini.. Dulu pun gw berpikiran sama dengan mereka2 yang berpikir: “Siapapun presidennya, siapapun DPR MPR-nya, toh kita tetep mesti cari makan sendiri2..”.. Ustad di mesjid komplek gw saat gw ngobrol sama dia dulu pun ngomongnya seperti itu.. Jadi sebodo amat dengan politik.. Saat sekarang, rasanya gw mulai “bergeser” untuk melihat politik dari sudut pandang yang lain.. Gw jadi mulai berpikir, statement “Siapapun presidennya, toh kita tetep mesti cari makan sendiri2..” itu bisa jadi keberhasilan dari rezim Orde Baru yang “membiasakan” rakyatnya jadi tau beres aja.. Semuanya cukup diwakilkan oleh mereka yang ngurus pemerintahan, dan rakyat cukup menikmati saja hasilnya.. (Sampe2 kesejahteraan rakyatnya pun diwakilkan.. hehe..) Mungkin gw salah satu korban dari doktrin OrBa yang bikin rakyat tenang, sejahtera, tapi di balik “kenyamanan” itu ada (atau banyak..??) sesuatu yang ditutupi / disembunyikan oleh para politikusnya.. Berkat pemilu kemarin, kontroversi pilkada langsung & tak langsung, gw jadi lebih sadar satu hal: ternyata suara gw / kita (rakyat) bisa …