All posts tagged: kontekstual

Go minton Go..

Kemaren2 sempet mood jadi turun, karena tim Indonesia gagal “me-nginep-kan” lagi piala Thomas di negeri ini.. Ya gitu lah turnamen.. Untuk bisa terus menerus konsisten mempertahankan performa terbaik bukanlah hal yang mudah.. Sebagai orang yang hobby dan masih rutin maen badminton, udah ngerasain sendiri capeknya, serta ‘indah’ atau rumitnya permainan yang satu ini.. Nggak perlu berotot2 banget, namun power juga penting, apalagi ‘timing’.. Ini opini pribadi yaa, kalo ada yang berbeda ya monggo aja.. Gw orang yang memandang anjuran Nabi untuk belajar memanah, berkuda, dan berenang itu sebagai anjuran untuk berolah raga.. Karena dulu belum ada equipment olahraga, dan eranya masih ada perang2 gitu, jadinya ya anjuran untuk ‘sport’ jadi sangat terbatas.. Konteksnya jadi sempit.. Sekarang kalo melakukan tadabbur kontekstual, hal2 baru akan bisa didapat.. Melihat kembali dan menyesuaikan konteks dari ‘teks’2 terdahulu supaya bisa diimplementasikan di zaman sekarang merupakan cara supaya pesan2 dari masa lalu bisa tetap abadi.. Metodenya: temukan substansinya.. Coba kita liat masing2 substansi dari ketiga aktivitas yang dianjurkan Nabi di atas.. Sebagai orang awam, gw hanya melihat dan melakukan anailisa dari …

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …

-[[ konteks ]]-

Coba tes baca satu paragraf ini: Sebelum memasangnya, Anda harus melepaskan kelima baut dari bagian belakang unit.. Caranya: (1.) Kendorkan semua baut dengan kunci pas yang disertakan.. (2.) Tahan baut dengan kunci pas lalu tarik keluar melalui bagian lubang yang lebih besar. (3) Isi lubang dengan penutup plastik yang tersedia.. (4.) Simpan baut di tempat aman seandainya Anda perlu memindahkan unit. Bisa paham maknanya ??.. Hehehe.. Bingung ya..?? Kalo sebelum baca dikasi tau itu barangnya apa, terlebih kalo liat gambarnya langkah 1 sampe 4-nya, pasti tingkat kepahamannya akan tambah akurat.. Paragraf pertama itu adalah kutipan dari buku manual sebuah mesin cuci.. Coba deh baca ulang.. Nah, makin kebayang dan paham kan ??.. Sebenernya ini agak2 mirip eksperimen yang pernah dilakukan oleh Bransford (1972) dan dimuat dalam jurnal “Contextual prerequisites for Understanding”, atau kalo diterjemahin = “Prasyarat Kontekstual untuk Memahami..” Namun Bransford melakukannya dengan topik pekerjaan laundry, dan membagi partisipannya menjadi tiga kelompok.. Kelompok 1, diberi tahu bahwa topiknya adalah laundry sebelum membaca paragraf.. Kelompok 2, nggak diberi tahu sama sekali bahwa paragraf merujuk ke laundry.. …