All posts tagged: diri

Donut Knowledge..

Pada suatu hari, di sebuah bandara, Bruce melihat seorang gadis kecil membawa botol susu, tapi dengan bentuk donat.. Jadi tengahnya botol itu “bolong”.. Si gadis kecil terlihat senang bisa memegang botol susunya sendiri.. Bruce tertegun, dan berpikir, yang menciptakan produk botol susu dengan bentuk donat ini pasti hebat sekali.. Kalo botol susu standar, anak batita akan sulit untuk memegangnya, karena pada umumnya bentuknya memang “gendut”.. Menghilangkan bagian “tengahnya”, menjadi persis seperti donat,  adalah solusi yang hebat.. Bruce Nussbaum adalah seorang “Professor of innovation and design” di Parsons School of design.. Ia menulis sebuah buku “Creative Intelligence” (2013).. Menurutnya, desainer botol susu tersebut paham betul hal yang mendasar dari ilmu pengetahuan: “Terkadang apa yang nggak ada, bisa lebih penting ketimbang hal tersebut ada..” Hal tersebut merupakan sebuah kebijakan, dan dalam bukunya ia mengistilahkannya sebagai “Donut Knowledge”.. Sebuah kemampuan untuk memaknai apa yang nggak ada atau nggak kelihatan.. Untuk sebagian orang, ketiadaan bagian tengah donat pun jadi bisa punya makna.. Euh.. Kayaknya tiap diri manusia juga punya bagian yang nggak terlihat, namun sangat esensial.. Yaitu “hati” yang …

knowing and creating self..

Pas ke Gramed, ada buku yang menarik perhatian gw.. Di cover belakangnya, pentolan tim penulis menyatakan: “Life is not about finding yourself, life is about creating yourself..”.. Nice quote.. Meski ‘nice’, sifat sotoy gw ngerasa masih ada yang janggal.. Karena kalo dipikir lebih dalam lagi, “finding yourself” itu bisa jadi dasar dari segalanya.. Gimana caranya seseorang bisa meng”create” dirinya tanpa dia tahu diri sendirinya “terbuat” dari apa ??.. Logika sederhananya, setiap “bahan dasar” selalu membutuhkan cara pengolahan yang berbeda.. Logam, tanah, air, bahkan tiap sayur atau daging sekalipun memerlukan pengolahan yang berbeda untuk kemudian jadi sesuatu yang istimewa.. Bisakah kita meng’create’ sesuatu dari apa2 yang nggak diketahui ??.. Bisa aja sih, tapi nggak tau juga jadinya bakal gimana.. Hasilnya bisa jadi mengejutkan, atau menyedihkan.. Untuk “experimen” kehidupan, kayaknya mendingan membuat sesuatu dari apa2 yang udah diketahui.. Kalo udah tau diri ini adalah pisang, kan enak, tinggal nentuin nanti di masa depan diri ini mau di”create” jadi apa.. Mau jadi pisang goreng kah, kripik pisang kah, atau tendangan pisang ?? (Halah..!!).. Kalo tau diri ini logam, …

give birth to himself..

Erich Fromm (1900-1980), seorang ilmuwan yang sangat tertarik pada sosiologi (bergelar Ph.D), dan juga suka konsep psikoanalisisnya Freud.. Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai kontributor penting bagi humanistic psychology.. Pernyataan terkenalnya cukup lucu: “Man’s main task is to give birth to himself..”.. Entah ini lucu apa garing, hehe.. Yang jelas ini bukan dalam hal gender, namun dalam konteks pencarian jati diri.. Erich menyatakan; sebenernya manusia hidup dalam perasaan takut, cemas, dan tidak berdaya, karena hidup “sendiri” dan “terpisah” dari alam.. Menurut studinya; perasaan2 kayak gitu bisa dilawan dengan menemukan / mencari ide2 dan kemampuan diri sendiri yang otentik, “merangkul” keunikan personal diri, serta mengembangkan kemampuan untuk mencintai.. Menurutnya juga, ikut2an saja tanpa kemampuan “membangun” pikiran sendiri, justru semakin membuat kita menjadi asing bagi diri kita sendiri.. Kalo dipikir2, sepertinya keimanan seseorang juga bisa merupakan sesuatu yang bisa disebut otentik.. Karena perjalanan atau “pembangunan” keimanan setiap orang berbeda2.. Ada yang melalui jalan kehidupan biasa2 saja, ada yang melalui jalan penyakit, jalan ilmu, jalan kehilangan, pengucilan, dan masih banyak “jalan2” yang lain, sebagaimana Naruto dengan jalan ninjanya.. hehe.. Seseorang …

interaksi diri + Qur’an..

Gw ngerasa kita nih seakan lebih sering berinteraksi dengan ‘orang’ dalam belajar agama, dan kurang berani berinteraksi dengan Qur’an langsung secara individu.. Lebih percaya kata2 habib (??), ustad atau penceramah daripada mencoba membaca sendiri.. Padahal wahyu pertama itu kan “BACA” ya, bukan “DENGAR”.. Fritz Perls, seorang Doktoral medicine, kemudian menjadi psikiatris asal Jerman, menulis buku “Gestalt Therapy Verbatim” (1969).. Ia menyatakan “Truth can only be tolerated if you discover it yourself..”.. Semua yang kita ketahui sebenarnya bukan kebenaran objektif, karena lensa persepsi seseorang lah yang membentuk mana benar dan mana salah.. Masalahnya, lensa persepsi kita dibentuk oleh subjektivitas banyak orang.. Jadi menurut Fritz, kebenaran sejati hanya bisa dibangun oleh diri sendiri.. Interaksi dengan Qur’an nggak mesti melalui penafsiran yg terkesan berat, tapi juga bisa melalui cara sederhana seperti Tadabbur = mengambil manfaat (ada di postingan kemaren).. Kalo gw baca2 lagi, memang sepertinya di dalam Qur’an nggak ada pernyataan langsung  / menggunakan kata2 tafsir / menafsirkan untuk berinteraksi dengan Qur’an.. Yang ada justru kata Tadabbur (QS. 4:82 dan QS. 47:24).. Anggaplah gw seorang tukang sayur atau …

diri jadi patokan ??

Namanya darah muda, selalu enak untuk nyerempet “melanggar” peraturan dikit2.. Dulu pas gw kuliah juga gw inget banget, suka “nyaris2” telat masuk ke kelas.. Mentang2 batas waktu boleh masuk kelas 30 menit setelah mata kuliah dimulai, jadi masuk kelas pun terkadang suka ditelat2in, yang penting nggak sampe 30 menit.. Tapi itu kelakuan gw pas kuliah yang pertama, yang “salah” jalur, di jurusan akuntansi.. hehe.. Sekarang setelah nyambi jadi dosen, gw ngerasain sendiri di posisi dosen.. Gimana itu rasanya kelas dimasuki mahasiswa2 yang telat.. Yah memang berasa lumayan terganggu, terlebih kalo telatnya parah, bahkan udah “injury time”.. Hahaha.. Menegur seseorang itu nggak selalu “berhasil” kalo pake omongan.. Apalagi kalo omongan itu belum  dilakukan sendiri.. Untuk urusan telat2an, kalo gwnya sendiri on-time, bakal lebih mudah buat gw untuk “nyindir”, atau ngasi tau mereka.. So untuk urusan ini, diri sendiri bisa dijadikan tolak ukurnya.. Bila sudah bisa bikin diri ini “beres”, enak dah tuh nyentil yang lain.. Tapi ternyata berbeda dengan urusan keimanan atau keyakinan..  Buat gw pribadi, diri sendiri nggak bisa dijadikan tolak ukur atau patokan untuk …