Latest Posts

para pemanggil..

Untitled-1Kurang lebih sebulan lalu gitu, ada yang ngomong ke gw via blog, supaya jangan nulis soal agama kalo nggak sering ngaji, kalo nggak ada basic agama.. Yah poinnya, si dia ini menganggap gw adalah orang yang nggak pantes buat ngomongin / nulis tentang agama, atau mikirin agama..

Dia beranggapan hanya orang2 tertentu aja yang boleh mikirin agama.. Hanya mereka yang sering ke pengajian lah yang kemudian pantas ngomongin agama.. Yah, gw ketawa aja, males nanggepin..

Padahal kalo menurut ulama sekaliber Buya Hamka dan Cak Nun, setiap orang boleh saja berijtihad soal agama, ataupun “belajar” dari Qur’an.. Karena sejatinya Qur’an jelas2 dinyatakan diturunkan bagi seluruh umat manusia (QS 45:20).. Bukan untuk Islam saja, bukan untuk ustad saja, bukan untuk mereka yang rutin ikut pengajian di mesjid saja.. Diturunkan untuk apa ??.. Untuk direnungkan dengan tujuan mengambil manfaat yang baik darinya (di-tadaburi) (QS 47:24), dan supaya kita bisa mengambil pelajaran (QS 44:58)..

Kalo gw pikir, Qur’an itu demikian luas maknanya, dan bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang mau memikirkannya.. Menganggap pe-makna-an dan pengambilan manfaat yang baik dari ribuan ayat Qur’an hanya untuk monopoli segelintir orang saja, justru mengkerdilkan kebesaran Qur’an itu sendiri..

Sebagian orang memang ada yang mengklaim bahwa kebenaran hanya milik mereka sendiri.. Mereka berkesan berdakwah, dan seringkali berkesan menggantikan peran Tuhan dalam banyak hal, termasuk menilai keimanan orang lain.. Lantas bersikap sebagaimana Da’i..

Padahal, yang gw pahami sejauh ini, Da’i itu artinya yang memanggil.. Kata kerjanya yad’u, kalau kata bendanya dakwah.. Ada ulama yang beranggapan: setiap orang dan bahkan setiap segala sesuatu di alam ini adalah Da’i atau pemanggil.. Angin yang bertiup dengan suara lembutnya itu Da’i.. Gunung yang mengepul asapnya itu juga Da’i.. Burung yang berkicau pun Da’i.. Mereka semua memanggil untuk ingat kepada Tuhan..

Gw suka dengan perspektif ini.. Sampe2 hewan pun bisa jadi Da’i, atau pemanggil kita untuk ingat kepada Tuhan.. Mungkin itu sebabnya hati ini bisa “nyesss” gitu saat kita melihat kucing, awan, atau ikan mas koki.. Kucing mengeong, kambing mengembek, ayam berkokok, bentuk “pemanggilan” mereka pun sangatlah jujur & sederhana sesuai sunatullah..

Berbeda dengan “pemanggil” manusia, kita nggak bisa benar2 tahu apa isi hatinya, niatnya, dan sedalam apa ruang akalnya.. Mereka pun bisa juga berkoar2 dengan hoax, provokasi, dan bahkan ancaman.. Atau ngomong “A” lantas berbuat “B” atau “Z”.. Padahal Rosul sudah mencontohkan, cara memanggil yang sangat top adalah melalui akhlak yang lembut dan baik..

Karena dakwah adalah suatu hal yang persuasif, bukan represif..

sholat anak SD..

Untitled-1Pas gw SMA, bokap gw pernah ngomong gini: “Kalo udah dewasa, sholatnya jangan kayak anak SD..”.. Intinya sih yg gw tangkep, “level” sholat seseorang itu mesti nambah seiring perjalanan umur..

Dulunya gw pikir, level lingkup sholat itu cuman sekitar tau arti bacaannya, gerakannya benar, durasinya makin lama (hehe..), dan makin awal waktu.. Yah, sekitar itu deh kalo dipandang dari hal2 yang secara fisik terlihat..

Sampe akhirnya, pas kuliah, gw mulai doyan buku2 tasawuf.. Gw terkesan sama pola pikir ala sufi yang menafsirkan segala sesuatu tidak hanya dari yang terlihat, namun juga yang nggak terlihat.. Dan seringkali pengamatan macam itu “luput” dari mata orang2 awam, terlebih bagi mereka yangg nggak mau maksimal menggunakan akalnya..

Misalnya cara pandang kayak gini: ada sebuah tembok pagar yang bagus dengan cat indah.. Yang kita lihat dan puji biasanya hanya apa2 yang tampak, seperti cat dan bentuk.. Padahal biasanya malah bukan itu yang terpenting.. Yang terpenting justru dari apa2 yang nggak keliatan.. Dibalik cat, ada semen, pasir, atau bahkan besi atau beton yang menentukan kekuatan.. Cat hanya “nempel” di permukaan..

Kalau seseorang “terjebak” pada apa yang dilihat, maka dia hanya bisa mencerna yang terlihat.. Celakanya, justru seringkali faktor yang nggak terlihat yang lebih penting.. Dan Untuk bisa sampe ke sini tentu perlu banget penggunakan akal yang maksimal..

Berapa banyak dari kita yang pernah (atau masih) tertipu dengan sorban, jenggot, atau busana yang berkesan religi ?? Padahal dalemnya adalah maling atau provokator.. Cara pandang sufi ini bisa “menyelamatkan” seseorang dari tipuan2 kotor yang sifatnya fisik atau tampak..

Setelah kenal dengan cara pandang ini, gw jadi sering mikir lebih jauh dari kata2 bokap gw itu.. Sholat yang bukan level anak SD itu gw “tarik” ke hal2 yang non fisik.. Misalnya, makna dari sholat, siapa yang disholatin, atau bahkan “dibalik” gerakan2 sholat..

Gerakan salam di akhir sholat, kenapa tengok kanan kiri itu ada yang menafsirkan: usai sholat, perhatikan kiri kanan kita.. Entah tetangga sebelah, kelurahan sebelah, kota sebelah, propinsi sebelah, atau bisa juga negara sebelah.. Pikirin kenapa beda, campur dengan sifat pengasih dan penyayang, maka seseorang nggak mungkin tega berlaku dzalim pada alam sekitarnya..

Kalo cuman dari apa yang terlihat, para koruptor itu pun sholat, para penyebar hoax dan persekusi pun sholat.. Padahal kan sholat mencegah perbuatan keji dan munkar..??.. Kenapa bisa ??..Ya karena sholatnya masih level anak SD..

Akalnya nggak dimaksimalkan untuk merenungkan sholat lebih dalam.. Akhirnya terjebak pada sholat secara ritual, nggak berbekas ke dalam (akhlak), dan keluar (sosial)..

pengetahuan supir..

Untitled-2Dulu pas kuliah, gw ngerasa lebih suka diajar sama dosen yang juga sekaligus praktisi.. Entah kenapa, cara mereka membawakan materi berasa ringkas dan tepat sasaran.. Jelas2 terlihat bukan seperti hafalan belaka, tapi pemahaman dari pengalaman berkala..

Orang yang bicaranya sederhana, tepat sararan, langsung menjawab inti pertanyaaan, umumnya adalah orang yang benar2 paham.. Sepertinya mereka2 ini udah melihat dan mengalami sendiri adanya “gap” antara teori dan kondis lapangan, atau bahkan menjalani sendiri “pertarungan” sebenarnya, dan bukan pertandingan “seremonial”..

Seseorang bisa menjadi tahu, atau bahkan “hafal” teori apapun, namun yang jauh lebih hebat adalah mereka yang bisa menemukan teori untuk diketahui dan dihafal.. Karena yang menciptakan-lah yang sejatinya bisa paham secara mendalam..

Pernah dengar istilah Chauffer Knowledge ??.. Atau terjemahan bebasnya: “pengetahuan supir” ??.. Dan versus-nya; Planck Knowledge ??.. Dua istilah ini muncul dari kisah Max Planck (ahli fisika Jerman penggagas teori fisika quantum), yang setelah berhasil mendapatkan Nobel Fisika, ia sering “keliling” untuk menjadi narasumber soal teorinya itu..

Ia “touring” ke banyak tempat di Jerman bersama supir pribadinya.. Si supir sering nonton “ceramah”nya si Planck, sampe2 dia sendiri jadi hafal sama isi materi yang disampaikan Planck.. Dan akhirnya di kota Munich, si supir menawarkan Planck untuk “tukeran peran”.. Ia menjadi Planck dan memberikan “ceramah”, dan Planck yang asli menjadi supir..

Planck menyetujuinya.. Akhirnya, si supir lah yang menjelaskan teorinya Planck.. Mungkin karena saat itu, foto belum populer, jadi banyak yang belum tau wajah dari si Planck yang asli.. Si supir ini cukup mahir ngomong loh.. Para audiens nggak sadar kalo yang berdiri di “panggung” adalah supir dari si Plank.. Di akhir “ceramah”, ada audiens yang mengajukan pertanyaan sulit..

Si supir pun pinter “ngeles”.. Dia bilang, dia nggak percaya di kota seperti Munich ini bisa muncul pertanyaan “dasar” seperti itu.. Bahkan supirnya pun bisa menjawab pertanyaan kayak gitu, dan kemudian dia mempersilahkan si supir (Planck yang asli) untuk menjawab.. Haha.. *Sumber cerita asli: Charlie Munger – USC School of Law Commencement (2007)..

Munger menyatakan ada 2 jenis pengetahuan; (1). Planck Knowledge – orang yang benar2 tahu dan paham.. Mereka membayarnya dengan kerja keras serta ketekunan.. Dan yang ke (2). Chauffeur Knowledge.. Mereka pinter dalam hal berbicara, yang dengan itu seakan mampu menunjukkan “besar”nya isi kepala mereka, dan punya kemampuan menyampaikan opini.. Namun tetep aja, yang sebenarnya dimilikinya hanyalah “pengetahuan supir”..

Banyak teori yang udah gw tulis di blog ini.. Tapi, sangat bisa jadi loh, kalo gw juga baru di “level supir”.. Hahaha.. Maapin ya guys, namanya juga usaha.. (^_^!)..

 

Islam dan Kemajuan – Buya Hamka..

Untitled-1Ngeliat salah satu postingan di grup WA: Paytrend haram, eMoney haram, GoPay haram.. (*_*!).. Padahal buat gw itu adalah suatu bentuk kemajuan yang membuat sistem pembayaran jadi makin praktis.. Nambah deh, tulisan Buya Hamka yg buat gw wajib diabadikan di blog gw.. Berikut beberapa paragraf kutipan langsung dari bukunya Buya Hamka “Tasawuf Modern”.. Dan hebatnya, beliau menulis ini di tahun 1939:

“Meskipun bagaimana, kemajuan tidak bisa ditahan. Tetapi pemuka2 agama mencoba menahan kemajuan itu, mencoba menghambat air yang yang hendak mengalir ke lautan.. Mereka takut kalau manusia memperoleh kebebasan akan terlepas dari cengkeramannya.. Sebab itulah mereka membuat bermacam2 aturan dan undang2, mengatakan bahwa orang yang mencari kebahagiaan dalam dunia adalah sesat, orang yang tertipu oleh hawa nafsu..”

“Sehingga kelihatan tiap2 orang yang telah berpegang dengan agama menjadi orang bodoh, dungu, tidak teratur pakaian dan kediamannya, tersisih dalam pergaulan.. Padahal bukan begitu hakikat pelajaran agama yang hanya bikinan sempit paham kepala2 agama saja..”

“Agama Islam tidak mengakui taklid buta, tetapi mengajak akal supaya bekerja menyelidiki hingga akhirnya.. Agama Islam bersorak memanggil akal supaya bekerja, jangan lalai dan jangan lengah.. Sebab tiap2 terbuka seuatu pintu dari keraguan itu, terpancarlah cahaya dan hilanglah waham*.. (*Red: Waham menurut KBBI = suatu keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika; sangka; curiga..)”

“Manusia diciptakan Tuhan bukan buat menjadi Pak Turut, sebab Pak Turut itu ialah binatang ternak.. Manusia didiknya hidup supaya mendapat pengajaran dan ilmu dari perbandingan, dari alam, dari segala kejadian yang mengalir di dalam kehidupan yang laksana air hilir layaknya..”

“Umat Islam disuruh menjadi penyaring, jangan menjadi “nrimo wae”, terima saja, laksana muara air yang yang dilalui ikan, buaya, kapal, dan dilalui bangkai.. Tetapi memilih mana yang baik, memperbaiki mana yang patut dan melemparkan barang yang tidak baik..”

“Menyamakan derajat manusia dengan Tuhan, tidak boleh dalam Islam, sehingga seorang manusia lantaran ada kebaikannya pada suatu masa, diagungkan, dijunjung lebih daripada mesti, dianggap tidak pernah salah, selalu benar, suci lebih dari manusia yang lain..”

“Jangan mengikuti saja akan pendapat orang yang telah menyelidiki.. Karena buah penyelidikan mereka berlain-lainan menurut kadar paham masing2 dan menurut tempat dan zamannya.. Tetapi berusahalah supaya diri sendiri menjadi penyelidik pula..”

“Tiang Islam dan tempat tegaknya yang teguh ialah dua tonggak, yaitu kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan kemauan (Hurriyatul fikri wa hurriyatul iradah..).. Kedua syarat inilah yang utama dalam alam ini, terutama di dalam abad kemajuan ini..”

nyaman tipu..

Untitled-1Dulu banget, pernah ada klien gw yang ngomong gini: “Desain aja dulu mas, beli kebutuhan kertasnya juga buat nanti di print.. Pokoknya, kalo sampe ini project nggak jadi, potong kuping saya !!..”..

Desain udah gw jalanin, ratusan lembar kertas tebal udah gw beli’in, dan akhirnya yaah tau sendiri deh.. Tuh project kagak jadi.. Dan kuping tuh orang masih ada pada tempatnya.. Hyaha..

Yah namanya juga masih awam, masih awal banget bikin perusahaan.. Tuhan sepertinya memang sengaja mempertemukan gw dengan sejumlah “pembohong” supaya gw-nya belajar..

Tapi kok ada yah orang yang bisa dengan nyamannya melakukan kebohongan atau ingkar / pengkhianatan ??.. Kayak kasus boss travel tipu2 yang udah ketangkep itu.. Kok bisa ya jalan2 manis, santai2 cakep, dan plesiran cihuy tanpa merasa bersalah ??.. Padahal kan yang dipake itu duit calon peng-umroh yang udah nyetor di depan..

Garrett, seorang neuroscientist di University College London meneliti tentang hal ini bersama rekan2nya.. Hasil studi Garret (2016) dipublikasikan dalam Nature Neuroscience dengan judul “The Brain Adapts to Dishonesty”..

Dengan alat Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), dalam eksperimennya mereka mengamati apa yang terjadi pada otak saat seseorang berbohong.. Ternyata bagian otak yang dinilai sensitif pada kebohongan adalah amygdala (bagian otak yang juga berkaitan erat dengan emosi..).

Saat seseorang berbohong, amygdala-nya akan merespon memberikan sinyal negatif, seakan me-warning dan ngasi tau si orang: “Hoi !! Ngebo’ong lu ye.. Awas dosa bro ?!?!”.. Lebaynya sih begitu.. Hehe.. Karena terkait dengan emosi, mungkin ini juga yang bikin kita ngerasa nggak nyaman secara emosi kalo berbohong..

Celakanya, semakin sering seseorang berbohong, sensitivitas dari amygdala-nya akan semakin berkurang.. Analoginya, amygdala itu si pemberi “warning”.. Lantas, karena dicuekin mulu, maka makin lama dia akan makin males ngasi “warning” lagi..

Tali Sharot, neuroscientist di UCL juga menyatakan ada yang namanya emotional adaption.. Saat seseorang pertama kali berbohong soal pajak mereka, mungkin mereka bisa merasa menyesal.. Tapi setelah berkali2 melakukan itu, emosinya sudah beradaptasi.. Dan seseorang akan menjadi nyaman melakukan hal itu..

Pantesan.. Banyak koruptor masih bisa tersenyum & melambai2 menyapa kamera.. Ada juga yang saking nyamannya, sampe2 tidur pas di pengadilan.. Hyaha..

Mungkin studi di atas bisa jadi alasan kenapa jarang kita dengar berita koruptor “tobat”, alias mengakui khianat atau tipu2nya sebelum ketangkep.. Karena udah berasa nyaman dengan itu semua..

Nyaman = enak = terusin.. Mana kepikir untuk ngaku atau tobat ??.. Gw pikir hal ini juga masih nyambung dengan apa yang tertulis di Qur’an.. Disebutkan, kalo orang yang khianat (QS.12:52) dan pembohong (QS.39:3), TIDAK AKAN diberi petunjuk..