Latest Posts

Dyna photo session & digital imaging..

Yayaya.. Gw lupa kalo dulu gw juga sempet foto truk.. Nyobain nyetir juga malah… Ternyata susah loh bawa mobil truk !!!  hehe..

Pendidikan yang Membebaskan

Sudah berapa puluh kali Kompas dan media massa lain mengabarkan kehebatan sosok-sosok pembaru yang cerdas dan berdedikasi tinggi di bidang pendidikan.

Kompas (4/6/2012), misalnya, menggambarkan sosok Suyudi, sukarelawan yang mendirikan sekolah alam di Klaten. Anak didik tidak diperlakukan sebagai obyek, namun subyek yang turut menentukan nasibnya sendiri. Melalui sekolah alam, ia ingin menunjukkan bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah memperlakukan anak agar menjadi manusia yang utuh. Tidak sekadar menjejalkan aneka informasi dan ilmu, tetapi juga bagaimana mengajak anak didik menemukan dirinya.

Dalam bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Sekolah alam ala Suyudi, dan yang bertebaran di tempat lain, ingin mengoreksi sistem pembelajaran terutama di tingkat dasar dan menengah yang cenderung satu arah. Pendidikan pada dasarnya adalah upaya penanaman sikap hidup, pandangan hidup, nilai-nilai tentang kehidupan, dan keterampilan hidup.

Pertanyaannya, kalau seorang Suyudi saja bisa mengembangkan pendidikan yang kreatif dan menyenangkan seperti ini, mengapa pemerintah tidak mengembangkannya juga? Yang terjadi di dunia persekolahan formal kita adalah suasana stres karena anak-anak dikejar ketuntasan pelajaran yang membosankan, yang tidak terkait dengan kebutuhan dan realitas keseharian, serta ujian nasional yang menekan saraf psikologisnya.

Dunia pendidikan harus menciptakan peluang bagi pembudayaan individu agar kapasitasnya berkembang, demikian pakar-pakar seperti Bertrand Russell, Paulo Freire, Ivan Illich, Montessori, Neil Postman, Ki Hadjar Dewantara, Moch Sjafei, dan Dewi Sartika. Mereka berbicara tentang pendidikan dari kacamata yang berbeda dan luas, terutama berkaitan dengan ”pemerdekaan” dari ”kebudayaan bisu”.

Dalam teori konflik, tampak bahwa peran sekolah disadari atau tidak juga melegitimasi dominasi elite sosial, bahkan sekolah merupakan bagian dari kepentingan masyarakat untuk mempertahankan struktur sosial, stratifikasi sosial, dan melayani kelas sosial tertentu. Dapat dipahami jika kelompok masyarakat miskin adalah pihak yang paling susah mengikuti irama pendidikan.

Perkembangan berbeda.

Meski penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa rata-rata IQ bayi berumur kurang dari dua tahun tak berbeda signifikan, faktor-faktor ketika anak berangkat besar, seperti kekurangan gizi dan sarana pendidikan, membuat anak dari golongan miskin jauh tertinggal. Orang kaya sanggup ”menghadirkan” sekolah di rumah: ada guru les piano, komputer, dan seterusnya.

Umumnya, anak-anak orang miskin bersekolah di lingkungan kumuh, terbelakang, dan akrab dengan kekerasan. Lingkungan yang tidak ramah ataupun rasa percaya diri yang rendah menjadikan anak miskin cenderung agresif, mudah terprovokasi, dan mudah tersinggung.

Relevansi sekolah alam ala Suyudi juga terkait dengan meredupnya pamor IQ sebagai salah satu ukuran kecerdasan.

Mengutip David Brooks dalam The Waning of IQ, Ninok Leksono (Kompas, 19/9/2007) menulis: ”Sementara psikometrika menawarkan daya tarik semu fakta obyektif, sains baru membawa kita kembali ke dalam kontak dengan sastra, sejarah, dan kemanusiaan, dan—pada akhirnya—ke keunikan individu”.

Banyak orang yang tinggi IQ-nya tetapi tidak sukses meniti karier, bahkan untuk sekadar bergaul.

Buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, Howard Gardner (Basic Books, 1983) menyebut ada tujuh macam kecerdasan.

Kecerdasan-kecerdasan itu adalah 1. kecerdasan linguistik (kecakapan dan kepekaan terhadap arti dan tata kata); 2. Kecerdasan logika-matematika; 3. Kecerdasan musikal (untuk memahami dan mencipta musik); 4. Kecerdasan spasial (kecerdasan berpikir dalam gambar atau visual); 5. Kecerdasan tubuh-kinestetik (keterampilan olah tubuh untuk berekspresi seperti penari, olahragawan); 6. Kecerdasan antarpribadi atau interpersonal, yakni kecakapan untuk memahami individu lain; serta 7. Kecerdasan intrapersonal, yakni kecakapan untuk memahami diri dan menggunakan pengalamannya untuk membimbing orang lain. Masih ada kecerdasan lain, yaitu kepemimpinan edukasional.

Dalam proses tersebut semestinya semua aspek pendidikan dikaji secara kritis sehingga menghasilkan suatu bentuk sekolah yang merupakan ajang interaksi berbagai latar belakang masyarakat untuk saling memahami dalam suasana kesetaraan, keadilan, dan penghormatan. Sekolah menjadi bangunan budaya dalam arti luas.

Gagasan pendidikan multikultural ini sangat menarik jika dikaitkan dengan negeri multietnis seperti Indonesia. Sebagaimana disinggung Huntington sebelumnya, masalah integrasi nasional menjadi persoalan serius bagi negara yang baru merdeka dengan multietnis-nya.

Saat ini tugas mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Kalau anaknya tidak berhasil dalam menempuh kehidupan, sadar atau tidak, pihak sekolah yang disalahkan. Padahal orangtua yang sibuk mengejar karier. Kenyataan ini merupakan buah kehidupan keluarga pada zaman modern. Ini yang banyak mendatangkan stres, terutama bagi anak-anak, karena perubahan pola kerja orangtua.

Pranata sosial retak

.

Dalam artikelnya berjudul ”Go East Young Man” di Far Eastern Economic Review (1994), Mahbubani menunjukkan gejala retaknya pranata sosial di Barat seperti peningkatan angka bunuh diri, kehamilan remaja, dan kriminalitas.

Sekolah, yang mestinya merupakan tempat belajar, bermain, berteman, dan mengembangkan jati diri, pada akhirnya tidak menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Bahkan tidak jarang anak justru takut kepada gurunya. Beban pekerjaan rumah, guru yang otoriter, orangtua yang terlalu memaksa agar anaknya berprestasi menjadikan anak trauma untuk pergi bersekolah.

Kasus anak-anak yang bunuh diri gara-gara dimarahi guru atau diolok-olok temannya lalu menjadi berita keseharian.

Fakta seperti itu disebut oleh Prof Kurt Singer dari Universitas Munchen, Jerman, sebagai fenomena ”sekolah yang sakit” atau Wenn schule krank macht. Sekolah menjadi tempat penuh sensor, guru yang selalu mengawasi dengan tanpa batas etika-psikologis, perintah sekolah yang selalu menjadi diktator dan mematikan bakat, sekolah menjadi pengadilan yang selalu penuh hukuman sehingga mengakibatkan kegelisahan, ketakutan, penuh ancaman.

Semua fenomena ini disebut Kurt Singer sebagai schwarzer paedagogik atau ”pedagogi hitam” (Sindhunata, 2001).

Indonesia tampaknya perlu segera menata kembali sistem pendidikannya agar mencetak anak-anak yang bahagia menjalani proses belajarnya, baik di sekolah maupun di rumah.

Saratri Wilonoyudho Dosen Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset dan Ketua Koalisi Kependudukan Jateng.

my last post in multiply…

truly, deeply, seriously, bye bye multiply…

This will be my last post in multiply… Paling selanjutnya gw cuman blogwalking aja sampe “pemusnahan massal” akun blogger MP itu terlaksana… Ya.. Mau gimana lagi, export tools yang dijanjikan multiply udah rilis… Bisa diindikasikan perjuangan teman2 warga MP baik hati yang berusaha untuk membatalkan rencana penutupan fitur sosmed tidak berhasil…  Berarti nggak ada harapan lagi lewat per 1 Desember 2012 akan ada fasilitas sosmed di multiply…

Dalam pikiran gw pribadi, buat apa lagi mengisi rumah yang sudah jelas2 akan diratakan dengan tanah tanpa sisa..?? Lebih baik membangun rumah di tempat yang baru, beradaptasi dengan “gaya” yang baru, menyesuaikan planning yang sudah tidak sesuai karena terjadinya perubahan… Toh, sejatinya memang gak ada yang tetap, semuanya berubah, malah sebenernya yang tetap adalah perubahan itu sendiri… Jadi ikhlaskan saja penggusuran massal secara sepihak itu oleh pihak multiply…

Bagaimanapun multiply adalah jejaring sosial yang sangat berjasa buat gw dalam menjadikan gw seorang blogger aktif… Meski nggak terlalu sering, cuman seminggu sekali, namun mencoba untuk terus istiqomah.. Alhamdulillah uneg2 yang ada di kepala gw bisa keluar dengan lancar, eehh dibaca orang pulak, dikomenin lagi… hehehe… padahal sama sekali gak ngarep…

Gw ngerasain banget manfaat menulis.. Rasanya untuk mengeluarkan ide2 yang ada di kepala menjadi semakin mudah.. Sekarang setelah udah nyobain Blogspot dan WordPress, akhirnya pilihan gw jatuh kepada WP sebagai rumah baru.. Soalnya WP secara inisial mirip MP, cuman “M”-nya aja diputer balik jadi “W”… gwakakakak.. Ngeblog bisa dimana pun, yang penting esensi kesenangan menulis bisa tersalurkan…

Kalo googling, banyak banget artikel mengenai manfaat menulis.. Ada beberapa manfaat yang gw rasain sendiri setelah 7 tahun ngeblog di MP, dan sekarang mau berlanjut di WP.. Kalo menurut Dr. Pennebaker, menulis ngebantu kita mendapatkan dan mengingat informasi baru… Rasa2nya yang gw tulis2 di blog itu koq ya gampang lengketnya, lama ngelupasnya… hehe..(sticker kaleee…)… Ada juga yang bilang kalo nulis itu melatih berfikir tertib dan teratur… Kalo manfaat yang ini, gw rasain banget pas nulis tesis.. serasa Lancar Jaya gitu pokoknya… hehehe lagi… Yah, mungkin manfaat2 lain dari menulis yang gw udah dapet tanpa gw sadari jugak ada.. (ngarep.com)..

Kalo kata Stephen King:
“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya…”

Intinya, postingan ini cuma mo bilang “BYE BYE MULTIPLY.. WORDPRESS, PRESS ME UP…!!!”..
Maju terus blogger Indonesia…!!!

pal kapal..

foto2 pas nyeberang mudik taon 2006an gitu kali ya, gw lupa… yang jelas, waktu itu suramadu belum jadi.. jadinya kalo mau ke madura kudu nyeberang pake kapal ferry… Gw tipikal Gak bisa diem, jadi gw jepret sana sini dah…

lead by passion..

“Mas ogie, kalo si anu tuh yah, bikin materi konten training tentang otomotif jago banget ya.. Yang aku gak kepikir tuh ama dia bisa kepikir ajah… Bingung aku, koq dia bisa jago begitu yah bikin konten materi…”

Gitu kata seorang klien gw yang udah belakangan ini “kejar tayang” dan berakibat mesti ngantor di studio desain gw.. Sabtu minggu dia dateng ke kantor gw, bahkan dua minggu yang lalu, Sabtu malem pun nginep di studio gw, terus minggunya lanjut lagi sampe maghrib gituh… Hari senen di minggu ini pun die ngantor di tempat gw lagi sampe malem…

Balik ke pernyataan di awal, berhubung gw udah kenal duluan dan udah sempat bertahun2 jugak kerja bareng sama tuh “orang jago” yang dia maksud, gw nyengir ajah trus ngomong: “Dia itu tuuh, passion-nya emang disituuuu…”..

Dan si klien yang lg diuber deadline tersebut mengakui.. “Bener juga yah mas, hasilnya beda… Saya memang berprinsip, kerjakan segala sesuatunya dengan effort terbaik… Tapi memang saya cuman sampe situ ajah… Passion saya yang sebenarnya memang nggak di otomotif..”

Gw pikir.. Ya iyaaa laahh, hehehe… dalem pikiran gw: “Lu kan lulusan S2 Fisika, beasiswa lagi di Italy, sempet pula ngikut dan jawara olimpiade Fisika…”… Kalo gw tangkep nih orang sebenernya passionnya di Fisika… sama ngajar (karena waktu dia cerita soal dia pernah jadi guru bimbel, terus ada rencana untuk bikin bimbel sendiri bareng kenalannya, keliatan banget itu aura senengnya)… Cuman lantaran kondisi dan segala macam pertimbangannya, akhirnya dia memilih jadi karyawan di sebuah perusahaan otomotif..

Banyak banget gw liat orang menyepelekan passion.. Atau malah nggak tau sama sekali passion dia sendiri itu di bidang apa… Gw mengartikan passion sebagai gairah cinta terhadap sesuatu yang kita lakukan… Biasanya kalo udah “larut” sama passion kita, urusan mandi jadi ntar dulu, disuruh tidur sama yayang entar dulu, makan jadi entar dulu, bahkan kalo gatel sekalipun ngegaruknya entar dulu jugak… Gwakakak…

Sejujurnya, wirausaha desain grafis yang gw jalankan selama 8 tahun lebih ini (sebelum jadi PT) adalah bisnis by passion.. Mulanya dari kesangat cintaan gw terhadap komik, lalu kemudian melebar ke komunikasi visual.. Terus gak nyangka jadi PT dan masuk finalis kontes wirausaha muda bank mandiri…

Yang gw inget, dulu gw sangat sangat menikmati banget ngedesain kerjaan dari siapapun, meski saat itu gw masih kuliah S1 akuntansi… Karena gw memang suka banget alias ada passionnya.. Begadang2 ngegambar bikin mading dan komik di kampus fakultas ekonomi nggak berasa beban, dan finalnya, jadi ambil kuliah lagi di jurusan desain… Makin tau teori2 desain, kecintaan gw akan desain makin bertambah gokil… Sama sekali nggak ngira jugak sekarang ini Allah malah mengamanatkan gw untuk mentransfer teori2 desain itu ke orang lain dengan jadi dosen…

Buat gw pribadi, passion itu penting.. Itu bisa menentukan seberapa besar niat seseorang untuk mengincar level sempurna dalam setiap pekerjaannya… Semakin besar passion, semakin besar motivasi seseorang untuk mencoba, mengamalkan, serta membiasakan ilmunya tersebut..  Ujungnya, besar kemungkinan seseorang itu untuk menjadi expert dalam pekerjaannya..

Buya Hamka menuliskan ini dalam salah satu bukunya:
“Dengan percobaan dan membiasakan, ilmu itu akan bertambah teguh dan tetap.. Membawa terbuka pula beberapa ilmu yang lain yang lebih dalam, lebih lezat, dan lebih menarik hati…”