Author: ogieurvil

innocent vs naive..

Innocent YES, naive NO.. Begitu tulisan pembuka review sebuah komoditi minuman bermerk innocent asal Inggris yang cukup sukses, sampe2 Coca Cola Company pun turut berinvestasi di merk itu.. Tapi kali ini, yang lebih menarik buat gw itu ya kalimat pembuka dari reviewnya: Innocent yes, naive no.. Innocent dan naive bisa berkesan punya makna yang agak dekat.. Namun kalo dicermati lebih dalam, ternyata innocent cenderung lebih ke hal2 yang bersifat positif.. Innocent sering kita ketahui artinya adalah nggak bersalah atau tanpa dosa.. Dalam kamus, ada yang mengartikan innocent dengan uninformed, not causing physical or moral injury, free from moral wrong, without sin, dan sejenisnya.. Pendek kata polos gitu deh.. Nah kalo naive ternyata cenderung lebih ke hal yang sifatnya negatif.. Ada kamus yang mengartikan naif itu nggak cukup berpikir, lack of experience, percaya begitu saja tanpa mempertanyakan benar atau salah.. Bahkan di KBBI, naif bisa berarti bodoh dan nggak masuk akal.. Singkat kata lugu kali yee.. Innocent YES.. Setuju banget.. Orang2 innocent, akan bertindak tanpa rasa bersalah (takut salah), meski kurang informasi tetap saja bertindak, namun …

cambuk ketidak nyamanan..

Lanjutan dari postingan sebelumnya yang ini: “di tengah karena menengah”… Dimana hasil studi dari Mihaly yang menyatakan bahwa, orang2 dari “kelas menengah” secara statistik lebih sedikit yang mencapai kesuksesan besar / prestasi kelas dunia.. Disebabkan karena motivasi yang “menengah” juga.. Jadi perlu trik2 tertentu untuk membuat motivasi kelas menengah menjadi tetap tinggi.. Ini cuman sotoy2nya gw aja sih yang gw himpun dari beberapa buku bacaan gw.. Pertama, Gunakan teori OMA (One Minute Awareness).. OMA ini semacam menit dimana kita demikian tersentuh, dan menjadi berani membuat komitmen2 diri yang nggak tanggung2 tingginya.. Siapapun bisa menemukan, atau “menjadikan” peristiwa biasa disekitarnya menjadi OMA.. Contoh: Melihat orang meminta2, keluarga / orang kurang mampu, buat sebagian orang mungkin biasa.. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi sebuah motivasi yang memicu diri untuk berperan dalam mengubah kehidupan mereka.. Dan kalo mau mengubah mereka, diri ini mesti sukses dulu toh ??.. Dengan membawa “hati” yang bersih dalam melihat keseharian sekitar, OMA bisa diciptakan, dan motivasi seseorang bisa terjaga untuk tetap tinggi.. Masih banyak sebetulnya contoh dari OMA, poin dari caranya sih: …

di tengah karena menengah..

Nggak sedikit anak2 dari keluarga kekurangan justru kehidupan ekonominya melejit secara menakjubkan di saat dewasa.. Anak2 orang berada, rasa2nya lebih mudah kalo pengen jadi berhasil di masa dewasanya, karena beragam “fitur” yang tersedia sebagai anak orang kaya.. Terus, anak2 orang yang ekonominya biasa2 saja / menengah, sepertinya malah punya kecenderungan untuk jadi biasa juga di masa dewasa.. Bener nggak sih pernyataan kayak gini ?? Mihaly, seorang pakar kreativitas pernah melakukan sebuah riset tentang “situasional” sosial ekonomi ini.. Ia mengaitkan fenomena pada paragraf di atas dengan faktor keterdesakan.. Keterdesakan di sini lebih kepada situasi / “keadaan” seseorang dalam kehidupannya, atau bisa dibilang sebagai rasa nggak aman yang dialami oleh seseorang.. Sayang di buku yg gw baca ini, nggak disebutkan secara detail riset dari si Mihaly.. Namun secara garis besar, ia meneliti sejumlah orang dari sejumlah keluarga tertentu, dan diamati siapa2 saja yang mampu mencapai tingkat kesuksesan tertentu /  prestasi kelas dunia.. Mihaly menemukan dari keseluruhan subjek penelitiannya, mereka yang mencapai sukses / berprestasi kelas dunia, 34% merupakan anak orang kaya.. Bapaknya banyak yang bekerja sebagai guru …

argumen benci cemen..

Semenjak populernya medsos, memang rasa2nya jadi banyak “hakim” jadi2an.. Men-judge sana sini, menilai atas dasar pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri.. Ujung2nya jadi debat kusir nggak berujung.. Kalopun berujung, nggak jarang jadi berujung retaknya hubungan.. Dulu, dosen pembimbing tesis gw pernah berujar: kalo ada orang bicara tanpa data dan referensi, pada akhirnya selalu akan jadi debat kusir.. Menurut Littlejohn (2008) dalam “Theories of Human Communication”, individu memang menjadi “pemain kunci” dalam kehidupan sosial.. Sejatinya, individu adalah seorang komunikator yang membawa karakteristik atau ciri kepribadiannya ke dalam cara2nya berkomunikasi.. Dan namanya hidup bermasyarakat, ya pasti ada lah ketemu yang namanya perbedaan antar individu.. Ada teori komunikasi yang cukup dekat untuk bisa menjelaskan “perbedaan berujung hujat2an” di medsos itu.. Namanya teori Argumentativeness yang dilayangkan oleh Dominic Infante dan kawan2nya.. Menurut Infante, memang individu itu punya kecenderungan untuk ingin terlibat dalam obrolan dengan topik yang kontroversial.. Tujuannya: untuk mensupport sudut pandangnya sendiri, dan menyangkal keyakinan / paham yang berbeda.. Infante dalam konsepnya juga menyatakan: kalo sebenernya, sifat argumentatif individu itu bisa meningkatkan pembelajaran, membantu seseorang melihat dari sudut pandang …

wis udah..

Ngeliat status foto2 wisuda mahasiswa2 yg pernah gw ajar, rasanya gimanaa gitu.. Hehe.. Seneng ngeliat mereka pada diwisuda.. Mengingat gw ini salah satu orang yang bisa dibilang rajin ngasi mereka “masalah”.. Hyahaa.. Kembali teringat wajah2 mereka saat asistensi dan ngumpulin tugas.. Sungguh wajah2 yang penuh dengan “penderitaan”.. Hihihi.. Nggak berasa, udah 5 angkatan mahasiswa yg gw ajar udah pada lulus .. Terkadang masih muncul pertanyaan di kepala gw: “Emangnya gw pantes ya jadi dosen ?”.. Mengingat kalo di kelas saat nyampein materi, gw sering banget becanda sama mahasiswa.. Kelas jadi seakan nggak serius.. Nggak jarang gw pun bingung kenapa mahasiswa pada ketawa, padahal gw hanya menyampaikan kegelisahan gw atau ngomentarin teori yang gw sampein.. Entahlah, ada dua kemungkinan.. Kemungkinan pertama: mereka tertawa karena komentar gw yang emang suka ngaco dan lebay.. Dan kemungkinan kedua: mereka mentertawakan kegaringan guwa.. (T_T).. Gw pikir, masih banyak orang2 hebat yang lebih layak jadi dosen mereka ketimbang gw yang “setengahan” pengusaha, dan nggak terpikir akan jadi dosen pada awalnya.. Yah, paling nggak gw udah berusaha, semoga aja yang gw sampein …