me|write, think sotoy
Comments 2

eeee.. emosional..

untitled-1Dulu pernah ada temen yang ngefans berat sama satu grup band luar negeri, terus itu grup band (berhubung gw nggak suka), gw ledekin jadi becandaan, eh si temen jadi marah.. (^_^!).. Heran.. Sodara’an kagak, kenal kagak, dibayar juga kagak sama tuh personil band, sampe segitunya ngebelainnya.. Hehehe.. Untungnya gw nggak pernah jadi fanatik kalo suka sama sesuatu atau seseorang..

Jadi inget sama teorinya Jasper Kunde (2002) dalam bukunya “Corporate Religion”.. Ia menuliskan konsep mengenai “Brand Religion”.. Sebuah brand positioning yang kuat, dapat mencapai puncaknya berkat konsumen yang sangat loyal, dan brand tersebut menjadi sangat dihormati layaknya sebuah agama oleh konsumen fanatiknya..

Brand juga bisa berwujud figur atau seseorang, atau bahkan organisasi atau partai.. Maka mudah kita liat ada yang suka marah berlebihan kalo figur atau partai favorinya dikritik atau dikomentari negatif.. Dan ujung2nya jadi “bertarung” tanpa ujung.. Cocoklah dengan konsep brand religion dari si Kunde.. Konsumen yang sangat loyal, umumnya sangat terpengaruh hingga ke level emosionalnya..

Sepertinya para pendukung tim sepakbola lokal yang super fanatik juga bisa masuk ke dalam kelompok ini.. Rela menempuh perjalanan bernekat ria di atas atap kereta api, demi mendukung tim kesayangannya yang akan bertanding.. Wow, ini luar biasa sekali.. Mungkin bagi mereka, jatoh dari atas atap kereta api dan kemudian mati demi kemuliaan timnya itu merupakan mati syahid.. Lantas 70 bidadari akan menari2 menyambut mereka.. (Halah, kok ke sini sih.. haha..)

Pernyataan Malcolm Gladwell (2000) dalam “The Tipping Point” juga bisa nyambung dengan hal ini.. Sebuah religion (brand) bisa menyebar bukan karena  kekuatan kharisma “foundernya”, namun dari semangat emosional pengikutnya yang selalu menghabiskan waktunya untuk berendam dalam “dogma”.. Semakin banyak pengikut yang bertukar ide dalam dogma tersebut, semakin emosional lah mereka di situ.. Mereka menjadi “influencers” kuat yang termotivasi untuk membujuk pengikut baru..

Bisa dilihat sendiri, di medsos keliatan sekali bentuk2 ke”emosional”an itu.. Mungkin si orang yang kena fitnah ataupun yang nyebar fitnah, bisa jadi bersikap biasa2 aja secara emosional.. Tapi malah followersnya yang heboh sendiri.. Sampe2 yang awalnya nggak tau apa2, tapi menganggap “sepaham”, bisa kemudian memilih untuk ikut2an.. Hehe..

Ali bin Abi Thalib pernah berwasiat: “Jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui.. Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang kau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi pendapat tentangnya.. Jangan biarkan rasa ingin menang atau rasa suka dan tidak suka mempengaruhi pandangan dan pendapatmu..”

Ya gitu deh.. Kalo emosional maksimal, seseorang bisa cenderung menjadi irrasional..   

*Akh, sotoy banget dah guwa nih..*

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s