read|me
Comments 14

pendidikan di Indonesia gagal ?!?

Dari milis tetangga satu apartemen, laen ibu, laen bapak, laen adik, laen kakak, laen.. EEUKH APA SEEEHH ?!?! kayaknya artikel ini ada benernya jugak.. atauuu bener seluruhnya ?? (@_@!)

Saya lebih cenderung pada pendidikan ketrampilan dan keahlian khusus yg spesifik dibanding ketrampilan menulis, mencatat dan menghafal yg nota bene hampir semua yg diingat dalam memori setelah dia lulus,
malahan hilang sama sekali dan diganti dgn selembar ijazah berisi daftar nilai-nilai test tertulisnya. .

padahal realitas adalah hampir 90% yg diajarkan di bangku sekolah tidak ada gunanya bagi si pelajar setamat dia sekolah..

Kegagalan dunia pendidikan menangkap realitas permasalahan adalah tercermin dari tingkat daya saing dan tingkat produktifitas yg rendah, bahkan untuk kawasan asia tenggara lebih rendah lagi dari Vietnam..

Salah satu sebab utama adalah sistem pendidikan duduk 4-5 jam sehari yg bikin pelajar kita hanya mengimpikan mendapat kursi kerja selepas dia sekolah maupun kuliah..

Padahal problema utama adalah bahwa rakyat dididik dibangku sekolah hanya datang, duduk dan mencatat sambil pasang dua telinga menangkap apa yg diterangkan guru maupun dosen.. Ini yg bikin produktivitas dan
daya saing bangsa ini teramat memprihatinkan. . kita hanya ditempa untuk betah duduk menghadap guru dan papan tulis…

Hasilnya adalah ketidakmampuan menjalankan rencana, schedule, rancangan kerja dan program-program lapangan dgn berbagai kegiatan yg butuh keringat dan tenaga.. juga kelemahan mentality dimana kemalasan
begitu mewabah tersebab sistem duduk yg dikembangkan Departemen Pendidikan yg dungu!!!…

kemalasan adalah akibat dari tidakadanya aktivitas fisik berkarya dgn kedua tangannya, tidak adanya karya kreatif, tidak adanya kurikulum pendidikan aktivitas ketrampilan khusus terkecuali aktivitas duduk, mencatat, membaca, menulis dan berhitung…

Akibat paling parah adalah bangsa yg gemar korupsi dibelakang meja sambil sibuk rebutan kursi basah dan berharap mendapat kenaikan jabatan tanpa perlu peras keringat..

pola mental ini teramat fatalistik, merata dan membudaya dikalangan pejabat-pejabat kita.. hal ini jelas-jelas adalah tersebab sistem duduk nongkrong dibelakang meja sambil duduk manis pasang telinga
mendengar kicauan guru dan dosennya…

Birokrat kita tidak mampu menjalankan berbagai program karya nyata, mereka hanya bisa berwacana, berdiskusi, berdebat dan berorasi tapi ketika diminta untuk turun tangan langsung mereka akan delegasikan
tugas itu pada bawahan yg juga sama seperti mereka yaitu bawahan-bawahan nongkrong.. hasilnya manajemen yg impoten dan sibuk berwacana juga rapat tanpa hasil yg nyata..

maka perlu perobahan revolusioner besar-besaran. .. Sistem duduk dan rapalan-rapalan plus test tertulis demi selembar ijazah diganti dgn sistem keahlian dan ketrampilan khusus berdasar kebutuhan sebuah
wilayah, apa itu perikanan, elektronik, permesinan, informatika, biotekhnik, pertanian, perkebunan,pertamba ngan, lingkungan, perkotaan, sampah, robotika,arkeologi dan sebagainya dimana kita amat sangat
butuh berbagai tenaga ahli dibidang-bidang spesialisasi berbagai bidang..

Dan sekarang yg dibudidayakan dan dikembangbiakkan oleh Departemen pendidikan yg dungu adalah jutaan ahli-ahli nongkrong, ahli debat, ahli wacana, ahli janji-janji politik, ahli konsep, ahli teriak-teriak
sep mahasiswa-mahasiswa calon-calon pegawai nongkrong, ahli rengek seperti MPR/DPR merengek-rengek minta kenaikan gaji,tunjangan, bonus dan termasuk disini ahli hafalan-hafalan bak ensiklopedia berjalan plus
ahli tafsir khayal dan mimpi alias dukun ramal yg laris manis… IRONI!!!!!

-unknown-

Advertisements
This entry was posted in: read|me
Tagged with: ,

by

"Tuhan.. tolong berikan rejeki berlimpah pada semua orang yang udah mampir ke blog ini.. Amiiinn.." ......(^_^!)

14 Comments

  1. Ironi memang,sayangnya sumpah serapah, hujatan, makian, dll.. tanpa disertai dengan penawaran konsep sebagai solusi atas masalah pendidikan di Indonesia adalah bentuk ironi juga: ironi pangkat dua.

    Like

  2. hafling said: tanpa disertai dengan penawaran konsep sebagai solusi

    ngg.. gw kenal seh beberapa orang yang udah terbukti kapabilitasnya bagus untuk dunia pendidikan.. dan dia punya konsep yang bisa dibilang cukup revolusioner.. tapii ya itu, begitu coba maju ke pejabat2 itu, kebentur birokrasi, buntutnya minta bagian.. emang mentalnya udah agak2 mental nongkrong kali yee.. hehehe..

    Like

  3. ogieurvil said: kemalasan adalah akibat dari tidakadanya aktivitas fisik berkarya dgn kedua tangannya, tidak adanya karya kreatif, tidak adanya kurikulum pendidikan aktivitas ketrampilan khusus terkecuali aktivitas duduk, mencatat, membaca, menulis dan berhitung…

    siapa bilang sekolah jamansekarang enggak ada pelajaran ketrampilan yang ‘kreatif’ yang malahan gue anggap sama sekali enggak penting! pelajaran tatabusana, tataboga, dan tata tata lainnya, yang bisa dipelajarin sendiri atau lebih baik masuk ke sekolah jurusan. nih orang yang nulis emang pas masa sekolahnya mungkin enggak bahagia aja kali. kelihatan banget dari cara nulisnya yang diulang ulang terus: dateng sekolah, duduk, dengerin guru ngomong, terus pulang.

    Like

  4. sebenarnya sehh yg gagal menurut gw adalah orang-orang kita yg berdiri dibalik pendidikan di Indonesia. Yah memang nggak bisa dipungkiri pendidikan kita terbilang cukup ketinggalan dengan negara-negara lain, namun ada juga beberapa sekolah atau perguruan tinggi yang sudah baik dalam hal pengajaran dan pendidikannya. Di Indonesia baik itu negeri maupun swasta tergantung dari pengelolanya itu sendiri. Klo mengenai fenomena skrng seperti banyaknya ahli nongkrong, ahli debat dan ahli teriak-teriak spt mahasiswa, dikarenakan mereka sendiri tidak memiliki pendidikan yg cukup mengenai “ATTITUDE”. Banyak skrng orang pinter, brilian yg tdk memiliki sikap yg baik. Seperti kata Zig Ziglar ” Your Attitude, Not Your Aptitude That Determine Your Altitude”…..So kyaknya basic dari semua ilmu yang pertama harus punya attitude yg baik. Nah itu yg nggak dimiliki oleh orang-orang kita yg ada di atas-atas itu lho 🙂 setuju???

    Like

  5. gw rasa penulis tsb bener deh..emang masi’ banyak sekolah bahkan perguruan tinggi yg hanya memberikan materi tanpa memberikan keaktifan langsung spt praktek…nah akibatnya tanpa disadari banyak orang-orang kita yg hanya jago omong tapi prakteknya nol. Justru pendidikan spt tata boga, tata busana atau hal lainnya bahkan terlihat lebih berguna dibanding jago2x sarjana, S2 bahkan S3 yg hanya sekedar gelar namun memiliki mental yg rusak. Lihat para pejabat-pejabat kita…..kedudukan, posisi dan jabatan mereka tak sesuai dgn akhlak yg telah mereka lakukan….Klo tdk salah Mahatma Gandhi pernah berkata “1 ton teori setara dengan 1 ons praktek”

    Like

  6. hendryanto said: Klo mengenai fenomena skrng seperti banyaknya ahli nongkrong, ahli debat dan ahli teriak-teriak spt mahasiswa, dikarenakan mereka sendiri tidak memiliki pendidikan yg cukup mengenai “ATTITUDE”

    he eh

    Like

  7. hendryanto said: Justru pendidikan spt tata boga, tata busana atau hal lainnya bahkan terlihat lebih berguna dibanding jago2x sarjana, S2 bahkan S3 yg hanya sekedar gelar namun memiliki mental yg rusak. Lihat para pejabat-pejabat kita…..kedudukan, posisi dan jabatan mereka tak sesuai dgn akhlak yg telah mereka lakukan….Klo tdk salah Mahatma Gandhi pernah berkata “1 ton teori setara dengan 1 ons praktek”

    euh.. maaf.. tapi yang ini okeh nih din.. hihi..

    Like

  8. ogieurvil said: ………………………… (speechless.. topik terlalu serius, padahal gw orangnya gak serius2 amat.. Gwahaha..)

    hehehe yang punya blognya malah bingung nih!

    Like

  9. ogie emang nggak serius2 amat…tapi itulah hebatnya dia.. bisa menjadikan sesuatu yang serius jadi nyantai…ck ck ck … ogie memang…. !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s