All posts tagged: paham

-[[ konteks ]]-

Coba tes baca satu paragraf ini: Sebelum memasangnya, Anda harus melepaskan kelima baut dari bagian belakang unit.. Caranya: (1.) Kendorkan semua baut dengan kunci pas yang disertakan.. (2.) Tahan baut dengan kunci pas lalu tarik keluar melalui bagian lubang yang lebih besar. (3) Isi lubang dengan penutup plastik yang tersedia.. (4.) Simpan baut di tempat aman seandainya Anda perlu memindahkan unit. Bisa paham maknanya ??.. Hehehe.. Bingung ya..?? Kalo sebelum baca dikasi tau itu barangnya apa, terlebih kalo liat gambarnya langkah 1 sampe 4-nya, pasti tingkat kepahamannya akan tambah akurat.. Paragraf pertama itu adalah kutipan dari buku manual sebuah mesin cuci.. Coba deh baca ulang.. Nah, makin kebayang dan paham kan ??.. Sebenernya ini agak2 mirip eksperimen yang pernah dilakukan oleh Bransford (1972) dan dimuat dalam jurnal “Contextual prerequisites for Understanding”, atau kalo diterjemahin = “Prasyarat Kontekstual untuk Memahami..” Namun Bransford melakukannya dengan topik pekerjaan laundry, dan membagi partisipannya menjadi tiga kelompok.. Kelompok 1, diberi tahu bahwa topiknya adalah laundry sebelum membaca paragraf.. Kelompok 2, nggak diberi tahu sama sekali bahwa paragraf merujuk ke laundry.. …

pengetahuan supir..

Dulu pas kuliah, gw ngerasa lebih suka diajar sama dosen yang juga sekaligus praktisi.. Entah kenapa, cara mereka membawakan materi berasa ringkas dan tepat sasaran.. Jelas2 terlihat bukan seperti hafalan belaka, tapi pemahaman dari pengalaman berkala.. Orang yang bicaranya sederhana, tepat sararan, langsung menjawab inti pertanyaaan, umumnya adalah orang yang benar2 paham.. Sepertinya mereka2 ini udah melihat dan mengalami sendiri adanya “gap” antara teori dan kondis lapangan, atau bahkan menjalani sendiri “pertarungan” sebenarnya, dan bukan pertandingan “seremonial”.. Seseorang bisa menjadi tahu, atau bahkan “hafal” teori apapun, namun yang jauh lebih hebat adalah mereka yang bisa menemukan teori untuk diketahui dan dihafal.. Karena yang menciptakan-lah yang sejatinya bisa paham secara mendalam.. Pernah dengar istilah Chauffer Knowledge ??.. Atau terjemahan bebasnya: “pengetahuan supir” ??.. Dan versus-nya; Planck Knowledge ??.. Dua istilah ini muncul dari kisah Max Planck (ahli fisika Jerman penggagas teori fisika quantum), yang setelah berhasil mendapatkan Nobel Fisika, ia sering “keliling” untuk menjadi narasumber soal teorinya itu.. Ia “touring” ke banyak tempat di Jerman bersama supir pribadinya.. Si supir sering nonton “ceramah”nya si Planck, sampe2 …

kontekstual donk..

Kemaren ngobrol sama calon klien, ngomongin soal konteks (bisa berupa lingkungan, keadaan, budaya, waktu, zaman, dan sejenisnya..).. Lantas di kepala gw jadi muncul pertanyaan: sebenernya gimana sih hubungan konten dan konteks.?? Banyak definisi konteks, diantaranya, menurut Deddy Mulyana (2005) dalam “Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar”, konteks merupakan sebab / alasan terjadinya suatu pembicaraan, dan menjadi sangat berperan dalam pemahaman makna serta informasi.. Terkait dengan konteks, Barnett dkk (2005) juga mengembangkan sebuah teori yang namanya Coordinated Management of Meaning (CMM).. Salah satu konsep dari teori tersebut menyatakan bahwa konteks menjadi titik acuan dari pemaknaan dan tindakan seseorang.. Menurut Mellisa (2009) dalam ‘The Fundamental of Branding’, “bekerjanya” sebuah konten, sangat bergantung pada konteks.. Contohnya, strategi komunikasi brand gadget yang canggih banget (konten), sangat tidak bisa “bekerja” di sebuah tempat yang masih ‘primitif’ yang bahkan handphone saja orang jarang liat (konteks).. Bisa dibilang, sampainya makna konten dengan tepat pada user, bergantung pada konteksnya.. So, untuk memahami konten teks sebenar2nya, harus turut memperhatikan konteks.. Karena kalau nggak, akan bisa jadi aneh, nggak cocok atau janggal.. Contoh sederhananya bisa dari kasus …