All posts tagged: kreativitas

komputer kreatif ??

Ramainya generative AI yang membuat gambar, musik, atau lainnya dari teks promt, jadi timbul pertanyaan: bisakah komputer menjadi kreatif ?? Dari sekian banyak bacaan referensi buat ngajar matkul kreativitas, nggak ada sih yang menyatakan “bisa”.. Mulai dari definisi kreativitas, sampai prosesnya, ‘kualitas2’ yang menjadikan sesuatu itu bisa disebut kreatif, banyak yang nggak ‘masuk’ saat disemat-kan ke komputer.. Seperti pakar kreativitas Teresa Amabile yang menyatakan; kreativitas bukanlah proses algoritmik, dimana urutan dan strukturnya sudah jelas untuk kemudian menghasilkan output yang jelas pula.. Kreativitas justru muncul dari ketidak-jelasan masalah dan beragam jalur yang bisa ditempuh untuk menghasilkan solusi.. Sistem komputer bekerja dengan mengikuti perintah/instruksi yang spesifik tanpa kesalahan.. Sedangkan kreativitas bukanlah prosedur yang sekedar mengikuti perintah, dan terkadang kesalahan2 malah bisa jadi pemicu seseorang untuk memunculkan ide2 kreatif yang baru.. Gw udah nyoba Dall-E dan Leonardo Ai untuk bikin visual.. Tapi ya gitu, rasanya memang seperti nggak melakukan proses kreatif.. Salah satu ciri sesuatu bisa disebut kreativitas adalah adanya niat atau kesengajaan.. Karena disengaja, maka gambaran kasar hasilnya umumnya sudah ada duluan di kepala.. Berkarya seni grafis, …

dua bingung..

Banyak orang yang kepengen dapet petunjuk.. Di Qur’an kata ‘petunjuk’ disebutnya ‘Hudan’.. Sejatinya ide2 baru, solusi, atau informasi dan ilmu2 yang baru diketahui juga bisa dikategorikan sebagai petunjuk.. Banyak yang berharap dapet petunjuk, tapi yang banyak dilupakan adalah: kondisi ataupun ‘trigger’ supaya petunjuk bisa cepat datang.. Disadari atau nggak, petunjuk itu seringkali dateng di saat seseorang sedang BINGUNG (QS:93.7) .. Di KBBI, bingung itu bisa berarti: (1) nggak tau mau ngapain, (2) nggak tau arah, (3) bodoh/tolol, (4) kurang mengerti, atau kurang jelas tentang sesuatu.. Nah, bingung tuh ada dua macem: Yang pertama: bingung natural.. Ini kondisi bingung yang diakibatkan siklus alamiah kehidupan, dimana seseorang sedang berada dalam kondisi blangsak atau terpuruk.. Hidup kan nggak selamanya mules, eh mulus.. Ada masa2 dimana seseorang dalam kondisi mentok, nggak tau harus ngapain lagi.. Biasanya di situ malah dapet petunjuk atau ilmu2 baru untuk lebih bisa ngadepin hidup.. Sesuai sama sebuah teori kreativitas: “Creativity comes from constraints..” Yang kedua adalah bingung artifisial (buatan).. Ini bingungnya orang tengil atau songong (dalam arti positif).. Sengaja cari masalah.. Wkwkwk.. Memasukkan dirinya …

gen mutan..

Banyak pakar menyetujui, bahwa lukisan yang berada pada tembok gua2 di zaman pra-sejarah adalah bentuk kreativitas manusia.. Pendek kata, banyak yang setuju kalo seni adalah bentuk kreativitas manusia yang tertua.. Pertanyaan para ilmuwan kemudian berlanjut.. Darimana si “cave-man” belajar gambar ??.. Koq tauk2 bisa gambar ?? Mosok panggil guru privat ?? Lah gurunya dulu skill gambarnya darimana ??.. Nonton tutorial di youtube ?!?.. Kan jelas nggak mungkin.. (^_^!) Pertanyaan kemudian mengkerucut menjadi: bagaimana awal munculnya kreativitas manusia ?? Gw suka sama teorinya Klein dan Edgar (2002), dalam bukunya “The Dawn of Human Culture” yang menyatakan bahwa kreativitas di masa awalnya dapat terjadi karena mutasi genetik.. Mutasi genetik yang terjadi sekitar 20 ribu sampai 50 ribu tahun yang lalu itulah yang ‘men-trigger’ terciptanya lukisan di gua2 itu.. Kenapa suka ? Karena cukup ‘make sense’ aja.. Dan dari baca2, mutasi genetik bisa disebabkan oleh lingkungan, ataupun non-lingkungan seperti ‘ujug2’ atau spontan aja gitu, atau bisa juga karena terjadi kesalahan dalam replikasi DNA.. Jadi, mungkin aja ‘sense of art’ atau ‘sense of creating’ si manusia pra-sejarah tersebut muncul …

bocah ajaib..

Belum lama ini sempat liat sebuah postingan bergambar dengan caption: “Sarjana di usia 13 tahun, anak jenius ini jadi pengangguran..”. Ini terjadi di Tiongkok.. Sempat mendapat perhatian publik karena meskipun di usia ‘dini’, dia menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam beberapa mata pelajaran.. Salah satunya matematika, diberitakan dia berhasil meraih medali emas pada event kompetisi matematika internasional.. Lanjut kuliah terus sampai doktor, menjadi doktoral termuda di Tiongkok, lantas sempat menjadi guru paruh waktu.. Sempat terlibat beberapa projek, dan mencoba membuat projekan sendiri, namun banyak mengalami kegagalan, kemudian menyerah.. Di belahan dunia yang lain, ada anak2 ajaib yang bisa membaca di usia 2 tahun, bisa memainkan lagunya Bach di usia 4 tahun, belajar kalkulus di usia 6 tahun, ataupun mampu berbicara dalam tujuh bahasa dengan lancar di usia 8 tahun.. Waw.. Hebat banget kan ya ??.. Seharusnya kita bisa mengharapkan mereka2 ini untuk mengubah dunia.. Atau menjadi the next Batch, next Einstein, ataupun Leonardo Da Vinci.. Ternyata eh ternyata, kenyataannya berkata lain.. Anak2 jenius ini tidak luput dari penelitian.. Adam Grant (2016), dalam “Originals” menyatakan: Anak2 …

pseudo-creativity..

Baru nemu nih istilah pseudo-creativity.. Konsep ini pertama kali diajukan oleh Cattel & Butcher (1968), dalam “The Prediction of Achievement and Creativity”.. Istilah ini ditujukan untuk ide2 yang terkesan original dan oke, tapi sebetulnya nggak.. Cuman karena ‘kebetulan’ aja momennya pas, atau karena terdapat unsur ‘kebebasan’ di dalam kreativitas itu sendiri, jadi seseorang bisa sesukanya melontarkan ide2 yang aneh sekalipun.. Terlepas bisa dijalankan idenya atau nggak, yang penting kesannya kreatif dan original.. Runco (1999), dalam “Encyclopedia of Creativity” juga menyatakan kurang lebih begini: Mentang2 ide kreatif itu subjektif dan berkesan ‘nggak bisa salah’, bukan berarti bisa seenaknya melontarkan ide yang kontra atau berlawanan dengan hal2 yang konvensional.. Para Contrarian (mereka yang suka mengambil pilihan atau sikap yang kontra) seringkali mengeluarkan ide / opini yang nggak populer.. Orang2 model begini umumnya hanya mencoba untuk menjadi berbeda, tapi sebenarnya “they are not solving problems or expressing themselves.” – begitu kata Runco.. Ya tentu saja ide2 yang melawan status quo mampu lebih menarik perhatian audiens, dan menganggap “Heii, si do’i kreatif banget ye, idenya out of the box..” …