All posts filed under: spiritual

prisma kesadaran..

Gw lupa sih tepatnya kapan dan dimana, pernah nemu anjuran untuk belajar melampaui dualitas.. Ternyata untuk bisa punya kemampuan melampaui dualitas (yang banyak jenisnya ini), perlu tingkat kesadaran yang tinggi.. Analoginya kayak prisma Newton.. Pernah liat prisma Newton ? Di buku, internet, atau di manapun deh.. Itu loh: yang ada satu prisma, terus ada sebuah cahaya putih masuk dari belakang menembus prisma, kemudian pas keluar ke depan prisma, cahayanya menjadi beragam warna.. Manusia cenderung ‘terkurung’ di dalam prisma tersebut dalam posisi kepala melihat ke depan.. Kepala di dalem situ cenderung ‘terkunci’ untuk terus melihat ke arah warna2 tersebut.. Jadi yang keseringan dilihat adalah ragam warna dualitas: baik buruk, untung rugi, pahit manis, senang kecewa, kelompok A kelompok B, dan sejenisnya.. Di banyak agama, bukan hanya yang langit-an, namun yang bumi-an juga, selalu ada metode2 untuk menaikkan kesadaran manusia.. Mulai dari sholat khusyu’, tafakkur, meditasi, atau lainnya yang tujuannya adalah keheningan untuk membangkitkan kesadaran sejati.. Kenapa selalu ada yang model begini di banyak agama dan kepercayaan ? Ini seakan menempatkan kesadaran sebagai sesuatu yang vital.. Kalo …

cetakan kesukaan..

Ada seorang dokter, dia cerita waktu magang dulu, seringkali ditempatkan di ruang paliatif.. Ruang yang menyediakan perawatan bagi pasien dengan penyakit serius atau kronis yang tidak dapat disembuhkan.. Fasilitas perawatannya fokus pada pengelolaan gejala, dukungan psikologis, sosial, dan spiritual.. Karenanya, si dokter ini jadi sering mendampingi orang2 yang (sudah tahu) akan meninggal dalam waktu yang tidak lama lagi.. Di situ dia banyak melihat tatapan mata orang2 yang menurut dia berada dalam kesadaran paling tinggi, karena mereka tahu dirinya akan meninggal.. Saat itu dia terpikir untuk bertanya kepada para pasien di situ: “Kalau seandainya diizinkan untuk kembali mengulang hidup, apa yang akan Anda lakukan ?” Jawabannya terbanyak cukup mengejutkannya.. Jawaban apa yang paling banyak atau berada di urutan pertama ?? Ternyata: “Saya akan lebih banyak melakukan apa2 yang saya sukai..” Jawaban kedua yang paling banyak dia temukan: “Saya akan lebih banyak mengatakan I love you pada pasangan saya..”. Dan yang ketiga: “Saya akan lebih banyak memberi..” Berkat jawaban pertama itu, si dokter ini jadi nggak mengambil kesempatan menjadi PNS.. Karena ia mau melakukan apa yang dia …

sadar takwa..

Beberapa minggu lalu sholat Jum’at, ceramahnya tentang takwa.. Lagi2 dari penceramahnya, takwa diartikan: Melakukan segala perintah-Nya dan menjauh dari larangan-Nya.. Kalo dipikir2, ini terlalu sempit dan kesannya “nggak mempan” untuk melawan kebatilan.. Perintah-Nya dianggap hanya jalanin ritual.. Culas dan korup bisa tetep jalan.. Gw lebih seneng arti takwa dari terjemahan bahasa Inggris, yakni: kesalehan, kesadaran (consciousness), dan takut (bergantung pada konteks ayatnya).. Ada sufi yang mengartikan kesalehan adalah perilaku atau aktivitas yang menambah keindahan atau mempercantik alam semesta.. Dan soal kesadaran, ini yang cukup penting.. Segala sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran, “rasa”nya akan berbeda.. Buah dari ke-takwa-an adalah kebaikan universal.. Akan bisa diterima di manapun, dan di zaman apapun.. Mangkanya ajaran para Nabi2 terdahulu juga sama, selalu mengajarkan takwa.. Nggak cuma Islam melalui Nabi Muhammad.. Sikap taqwa ada juga pada ajaran2: Nabi Adam (QS.5:27), Nabi Nuh (QS.23:23), Nabi Ibrahim (QS.29:16), Nabi Hud (QS.26:124), Nabi Saleh (QS.26:142 ), Nabi Luth (QS.26:161), Nabi Ilyas (QS.37:123,124), dan juga Nabi Isa (QS.5:112).. Bahkan kalo diteliti lebih dalam, nggak cuman agama ‘langit’ yang tujuannya mengarah pada takwa / kesadaran.. Namun …

pokoknya sekarang..

“Kalo lagi maen badminton gini, semua masalah kaya’ ngilang.. Yang utang lah, yang di-ngambek-in istri lah, yang masalah kantor lah, semuanya rasanya nguap gitu aja..” Kata seorang temen saat maen badminton.. “Tapi ntar pas udah kelar maen, apalagi udah sampe rumah, nongol lagi deh tuh masalah.. Stress lagi..” Begitu lanjutnya.. (^_^!).. Euuhh, pada dasarnya, bukan maen badminton-nya sih yang bikin dia merasa jadi kayak gitu, tapi fokus dia pada setiap detik momen bermain.. Kan bisa kejadian juga: orangnya ada di lapangan, tapi pikirannya entah ke mana.. Yang model gini mendingan jangan diajak maen deh.. (^o^)/ Ini sebetulnya juga bisa berlaku untuk aktivitas apapun yang bisa menyita fokus seseorang.. Mau itu badminton, basket, atau bidang laen pun bisa: kayak maen game, memasak, dsb.. Atau pendek kata: pikiran dan perasaannya bener2 fokus total pada momen aktivitas sekarang yang dilakukannya.. Yang hobby serius maen badminton pasti udah ngerasain sendiri sensasinya seperti apa.. Momen saat setelah servis dilakukan, setiap detik seakan benar2 perlu dicermati.. Otak berputar mikirin: nanti lawan mukulnya ke arah mana, kalo dikasi bola panjang ke belakang …

sekarang di sini..

Hal2 kecil bisa menjadi ‘bibit’ penemuan besar.. Sarang laba2 menjadi inspirasi dari pembuatan jembatan gantung.. Suara ketel di atas kompor merupakan awal inspirasi dari penciptaan mesin uap.. Lagi2: “Sic Parvis Magna”, atau Greatness from small beginnings.. Sic Parvis Magna juga bisa ditarik ke ranah spiritual, terutama untuk meningkatkan kesadaran.. Memperhatikan hal yang kecil memang bukan “hobby” kita sih ya, jadinya seringkali luput dari atensi.. Hal kecil yang sering nggak kita perhatikan dengan sungguh2 adalah waktu.. Berapa banyak yang menyadari bahwa momen sekarang atau detik dan menit sekarang adalah anugerah yang cuman bisa dinikmati saat ini juga ?? Contoh, pas gw ngetik postingan ini.. Momen ini kan nggak akan bisa terulang lagi.. Iya besok2 bisa ngetik postingan lagi, tapi kan bukan tulisan yang sama, bukan kalimat serta titik koma yang sama.. Bukan dengan sinar matahari yang sama, dan bukan dengan kopi yang sama.. Banyak dari kita seringkali kurang ‘pandai’ dalam menyadari momen “here and now”.. (Termasuk gw (^_T)!) Hehe… Karena nggak memperhatikannya, ya jadinya nggak menyadarinya.. Pas lagi mandi, pikiran ke sarapan, pas lagi sarapan pikiran …