All posts filed under: favourite

knowing and creating self..

Pas ke Gramed, ada buku yang menarik perhatian gw.. Di cover belakangnya, pentolan tim penulis menyatakan: “Life is not about finding yourself, life is about creating yourself..”.. Nice quote.. Meski ‘nice’, sifat sotoy gw ngerasa masih ada yang janggal.. Karena kalo dipikir lebih dalam lagi, “finding yourself” itu bisa jadi dasar dari segalanya.. Gimana caranya seseorang bisa meng”create” dirinya tanpa dia tahu diri sendirinya “terbuat” dari apa ??.. Logika sederhananya, setiap “bahan dasar” selalu membutuhkan cara pengolahan yang berbeda.. Logam, tanah, air, bahkan tiap sayur atau daging sekalipun memerlukan pengolahan yang berbeda untuk kemudian jadi sesuatu yang istimewa.. Bisakah kita meng’create’ sesuatu dari apa2 yang nggak diketahui ??.. Bisa aja sih, tapi nggak tau juga jadinya bakal gimana.. Hasilnya bisa jadi mengejutkan, atau menyedihkan.. Untuk “experimen” kehidupan, kayaknya mendingan membuat sesuatu dari apa2 yang udah diketahui.. Kalo udah tau diri ini adalah pisang, kan enak, tinggal nentuin nanti di masa depan diri ini mau di”create” jadi apa.. Mau jadi pisang goreng kah, kripik pisang kah, atau tendangan pisang ?? (Halah..!!).. Kalo tau diri ini logam, …

award dari blogger..

Yeah.. Alhamdulillah, dapet award lagi dari seorang blogger.. Nggak ada hadiahnya sih emang, namanya juga award subjektif dari seorang blogger.. Tapi buat gw, ini merupakan bentuk apresiasi yang sangat layak untuk dihargai.. Karena si pemberi award telah menulis sejumlah Annual Report (3 kali berturut-turut sebagai Juara 1 Annual Report Awards), lebih dari 90 edisi Majalah Internal Perusahaan, lebih dari 100 naskah Press Release, dan lebih dari belasan advertorial.. Mendapatkan feedback apresiasi dari seseorang yang terbukti punya kompetensi menulis, sudah cukup menyenangkan hati gw.. Apalagi blog gw ini seringkali ditenagai oleh pikiran2 ngalor ngidul gw yang entah mau dikemanain, atau diobrolin sama siapa, akhirnya ya jatohnya ditulis di blog.. Ada kata2 dari orang bule sono: “Sometime, only paper will listen to you..”.. Ya itu dulu sih, mungkin sekarang papernya udah ganti jadi monitor.. hehe.. Tahun kemarin gw juga dapet award yang sama dari blogger yang sama.. Sang pemberi award di tahun ini menyatakan suka dengan gaya tulisan gw.. Beliau bahkan menuliskan di postingan awardnya seperti ini: “Blogger Ogie Urvil selalu hadir dengan tulisan yang sangat membuka …

dark playground..

Tim Urban, lulusan cum laude dari Harvard, CEO “Wait But Why” yang  berdomisili di New York mengartikan procrastination sebagai “The action of ruining your own life for no apparent reason..”.. Gw suka gimana si Tim ini menjelaskan procrastination saat ia tampil di TED talk.. Kita ini makhluk reaktif, otak sangat suka bereaksi terhadap stimulus tindakan2 yang gampang..   Tim menganalogikan kegiatan2 nyaman + gampang dan mengakibatkan penundaan itu sebagai “Dark Playground..”.. Mantengin youtube, medsos, liat2 instagram, window shopping situs belanja online, bahkan ngobrol ngalor ngidul, di saat tugas2 / pekerjaan masih tergeletak tak terurus, kesemuanya itu adalah sesuatu yang menyenangkan.. Penamaan “Dark Playground” menjadi cocok.. Roller coaster emosi di facebook, pertunjukan / show yang oke di youtube, berputar2 di komedi putar situs belanja online, kesemuanya merupakan arena bermain dari Dark Playground.. Cobalah “masuk” ke zona itu, memang terasa sensasi bermainnya yang tanpa beban berat di otak.. Menjadi “Dark” saat sebetulnya ada rasa aman yang palsu, rasa bersalah, kesenangan yang sejatinya nggak menghasilkan apapun, males yang diturutin, dan habisnya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.. Kalau seseorang …

knowing is not a product..

Sepertinya masih banyak yang merasa kalo “udah tau” itu adalah hal yang final atau hasil akhir..  Cobalah kemukakan hal ini pada Jerome Bruner, ia pasti tidak sependapat.. Bruner adalah seorang Ph.D psikologi jebolan Harvard, sekaligus salah seorang pendiri Center for Cognitive Study di Harvard.. Dalam sebuah karyanya “Studies in Cognitive Growth” (1966), ia menyatakan “Knowing is not a product..” Menurutnya, seseorang bisa bener2 tahu akan sesuatu, jika dia bisa membangun makna dari informasi yang diterimanya, melalui penggunaan alasan2 atau “reasoning” (seperti kenapa bisa begini kenapa bisa begitu).. Nah, kondisi kayak gitu adalah bentuk dari sebuah “information processing”, dan bukan sebuah bentuk produk yang sifatnya final.. Maka Bruner berkesimpulan: “KNOWING IS A PROCESS, NOT A PRODUCT..” Banyak dari kita (termasuk gw juga) merasa, kalo sekedar tahu ayat Al-Qur’an saja sudah cukup oke.. Padahal kalo merujuk pada teori Bruner, kondsi kayak gitu hanya bagian dari sebuah proses, bukan hasil akhir.. Tanpa berpikir reasonable, mengkonstruksi makna, terlalu naif bila hanya berhenti pada tahap TAHU saja.. Mungkin ini juga yang jadi alasan kenapa ada orang2 yang tahu ayat Qur’an, …

ubah malas..

Awal semester baru udah dimulai.. Dari angkatan ke angkatan, umumnya selalu ada mahasiswa yang bilang ke gw kalo dia mau “tobat”.. Dalam artian nggak mau “telatan”, mau rajin, mau lebih oke lah dari semester sebelumnya.. Intinya, mau berubah gitu.. “Semester depan nggak gini lagi deh mas..”.. Kurang lebih begitu kalimat standard yang mereka ucapkan.. Kalo dari pengalaman, kalimat ini seringan terlontar dari mahasiswa yang menurut gw tercemari oleh rasa malas.. Gagal melawan rasa malas mereka sendiri di semester sebelumnya.. Tekad berubah hanya jadi sekedar tekad kalo rasa males tetep gagal dilawan.. Berubah dari males jadi rajin bukanlah hal yang mudah.. Terkait dengan perubahan, Rhenald Khasali Ph.D (2008) pernah menuliskan di dalam bukunya “Mutasi DNA Powerhouse”, bahwa ada empat harapan yang nggak realistis.. Yakni bahwa: (1) Perubahan itu mudah, (2) perubahan bisa diselesaikan dalam waktu singkat, (3) Perubahan itu murah “biayanya”, dan (4) Perubahan itu dapat menyenangkan semua pihak.. Untuk bisa berubah, dan masih mengharapkan keempat hal tersebut bisa dibilang mustahil.. Keempat hal itu buat gw bisa berlaku untuk level corporate dan level personal.. Pada level …