Latest Posts

bingung kebenaran..

Kalo ngasi tugas2 desain ke mahasiswa, gw suka nggak ngasi contoh hasil jadinya.. Karena desain grafis itu ada faktor subjektivitasnya.. Jadi biarin aja mereka ‘bingung’.. Toh dasar2 teori dan implementasinya sudah disampaikan..

Tinggal gimana si mahasiswa mau mencari referensi dan berpikir mandiri.. Dalam konteks skill dan knowledge, hubungan guru dan murid seringkali menjadi hubungan hirarki yang ‘semu’.. Karena pada dasarnya nggak ada yang bisa mengajari orang lain, yang ada hanya men-share informasi kepada orang lain..

Kalo dipikir lebih dalam, memang yang gw lakukan di depan kelas itu ‘sekedar’ membagikan informasi berupa teori2 desain.. Yang kemudian harus baca2 atau cari referensi lagi ya si mahasiswa, yang harus melakukan latihan2 dan mengerjakan tugas ya si mahasiswa juga.. So, yang sangat menentukan adalah diri si murid sendiri.. Mau terus ‘mendevelop’ informasi2 tersebut atau nggak..

Gw pikir, ada baiknya membiarkan mahasiswa berada dalam fase ‘kebingungan’.. Karena di fase itulah umumnya seseorang lebih terpicu untuk mencari tahu dan mengobservasi lebih jauh.. Dan terbuka kemungkinan referensi yang akan dia temukan bisa saja lebih bagus daripada referensi gw sebagai pengajar..

Sikap berpikir dan bertindak mandiri ini sepertinya juga berlaku di kehidupan.. Menurut guru Yoga bijak Haridas Baba: Seorang guru dapat menghidangkan jamuan kebijaksanaan, tetapi si murid harus tetap memakan dan mengunyahnya sendiri..

Ini masih relate sama kondisi sekarang sih.. Tulisan2 dan video2 yang ‘berbobot’ dan isinya ‘daging’ bertaburan di internet, tapi yang sering dikonsumsi malah yang ‘krupuk’ kayak video prank, pamer kemewahan, dan kucing2 lucu.. (^o^!)/..

Wilcox (1995), dalam bukunya “Ilmu Jiwa berjumpa Tasawuf” menyatakan: di dalam Tasawuf, manusia secara individual adalah subjeknya, laboratoriumnya, dan juga sekaligus penelitinya.. Maka, untuk menemukan kebenaran versi dirinya sendiri, harus melalui pengalaman pribadi dan batiniahnya sendiri.. Dan nggak penting pula untuk dipaksakan pada orang lain.. Karena detail kehidupan yang dilalui setiap orang pasti berbeda2..

Kebenaran tunggal manusia menjadi tidak ada.. Malah pencarian kebenaran pun bisa membikin kita sendiri bingung.. Seringkali ke-mengerti-an kita akan suatu hal justru ‘memancing’ dan membuka ketidak mengertian yang lain..

Dari perspektif Sufi, konsep tersebut tercermin dalam gerakan tawaf yang berbentuk lingkaran.. Lingkaran itu ‘unlimited’ dan tanpa sudut, yang bermakna: sulit mengklaim kebenaran dari satu sudut pandang..

Puncaknya, seorang muslim yang sudah hyper sakti mandraguna pun tetep harus mengucap dalam sholatnya “Tunjukilah kami jalan yang lurus..” Perasaan mau paling benar sendiri pun pupus.. Ini sebabnya dalam Islam, manusia dituntut untuk belajar terus menerus..

Perhatikan saja, yang sering mengklaim dirinya paling bener umumnya mereka yang berhenti belajar dan nggak baca2 lagi.. Termasuk berhenti belajar menakar dirinya sendiri..

analogi hidup..

Sejauh ini, ada beberapa analogi kehidupan yang gw tau.. Yang pertama: hidup adalah perlombaan atau pertandingan.. Hidup ibarat track balap lari atau arena tanding.. Jadinya, hidup penuh dengan persaingan, adu cepat, adu sukses, atau adu-adu yang lain..

Yang kedua: hidup adalah perjalanan atau sekedar mampir lewat saja.. Ini sering ditemukan dalam perspektif agama.. Ya namanya perjalanan, bisa santai, bisa menikmati apapun dalam perjalanan.. Tapi ya gitu, ‘sense of competitiveness’ jadi kurang terbangun.. Akibatnya, jadi nggak ada suatu impian / goal yang harus dikejar.. Hidup seadanya pun tak apa..

Yang ketiga gw dapet dari konsep psikologi Adler: hidup adalah tarian kontribusi.. Hidup ya ‘menari’ terus saja, masing2 orang cukup memperhatikan panggungnya masing2, tidak perlu pusing memikirkan panggung orang lain.. Cukup menari dengan bahagia menebar kontribusi / manfaat.. Dan karena tarian, pastilah bergerak (tidak ada tarian yang diam), nanti tauk2 akan sampai di tempat2 yang nggak terduga..

Pilih yang mana ?? Atau bisa juga di-‘mix and match’.. Kalau seorang atlit, pilihan pertama jelas lebih cocok.. Karena kompetisi memang sudah menjadi inti dari profesinya, dan menjadi juara adalah targetnya..

Yang kedua sepertinya bisa dipilih kalo lagi stress.. Karena disadari atau nggak, kondisi tanpa persaingan seringkali membuat diri ini jadi ‘lembek’.. Yang ketiga saat ini contohnya makin banyak.. Menari atau berkarya aja secara tekun, berencana oke, tapi fokus lebih pada tarian harian.. Psikologi Adler tidak mengenal ‘pesaing’ atau lawan, adanya teman seperjuangan..

Seperti si Juki, atau TahiLalats, yang berkesan konsisten menghibur audiens dengan karyanya. Tarian kontribusi mereka berhasil membawa mereka ke tempat yang sebelumnya mungkin nggak mereka duga..

Dari ketiga analogi di atas, ada satu benang merah kesamaan supaya optimal menjalaninya: kenali diri sendiri.. Sebelum bertanding tau dulu diri ini ‘apa’, kuda pacu pasti kalah saat balapan di kolam renang.. Atlit badminton pasti akan bingung bermain di lapangan tennis..

Perjalanan hidup ibarat game RPG, tentukan diri ini, apakah warrior, swordsman, archer, atau magician supaya bisa lebih menikmati dan menebar manfaat selama perjalanan.. Tinggikan skill, karena petualang yang ber-skill tinggi tentu lebih dihargai ketimbang yang low-skill atau malah no-skill..

Melakukan tarian kontribusi pun perlu tahu diri dulu diri ini penari apa ??.. Kalau penari Jaipong, pasti agak ogah memilih musik disko sebagai musik pengiringnya.. Makin seseorang tau seluk beluk tarian dan potensi kelenturan tubuhya, semakin oke tariannya, dan berpotensi semakin disukai banyak orang..

Apapun analogi kehidupannya, sepertinya ada satu poin penting: menjadi otentik..

“Authenticity is about being true to who you are, even when everyone around you wants you to be someone else..” – Michael Jordan.

pinggir kali..

Depan rumah gw itu kali Sunter, sungai yang jadi ‘pemisah’ Jakarta Timur dan Bekasi.. Jadi komplek gw itu pas banget perbatasan antara Jakarta dan Bekasi, dan yaah, KTP gw Bekasi..

Kampus tempat ngajar di Srengseng Sawah – Jaksel.. Pas ngajar, gw sering jadiin becandaan buat nyindir mahasiswa yang telat dateng masuk kelas..”Gw dateng ke sini tuh lintas propinsi loh, mosok lu yang kepeleset doang nyampe’ malah belakangan ?..” (^_^!)

Waktu masih kecil sekitar kelas 3 SD gitu, di pinggir kali pas depan rumah, ada sedikit lahan tanah gitu deh.. Lahan tanah tersebut ditumbuhi sejumlah pohon bambu.. Belum gede sih pohon bambunya, paling tingginya baru sekitar 1 meter lebih dikit.. Tapi cukup rimbun, yaah seukuran anak kecil bisa lah maksain masuk ke ‘dalem’ rimbunan situ..

Nah, pada suatu malem, gw keluar rumah gitu.. Biasa, buat liat2 aja, karena kadang ada temen juga yang keluar, kan lumayan bisa lanjut maen bareng.. Terus ngerasa ada yang aneh di dalem rimbunan bambu.. Kayak ada yang ngeliatin gw.. Tapi pas diliat berbekal cahaya lampu jalan dari jarak gw berdiri sekitar 4 meteran gitu nggak ada apa2..

Kepo dong yaa.. Gw deketin deh tuh pelan2, semakin dekat, gw harus agak nunduk buat ngeliatnya, karena dahan2 bambunya ada yang turun menutupi “isi” rimbunan.. Dibaliknya rimbunan itu gelap.. Gw hendak menyingkap dahan2 bambu yang turun itu..

Pas gw mau pegang tuh dahan2, eh tiba2 dahannya bergerak sendiri naik turun dengan keras terus2an !!.. Gw kaget dan agak mundur, pas gw liat, ternyata hampir semua dahan di rimbunan bambu itu bergerak2 dengan bunyi yang “kasar”!!.. Anak mana yang kagak ngibrit ngeliat begituan ??.. (^o^!!).. Kabur lah gw dengan detak jantung bervolume tinggi dan serasa mau copot..

Ya itu kenangan masa kecil di pinggir kali.. Dulu di situ juga ada pohon jambu klutuk, dan kalo sore gw dan temen2 suka manjatin tuh pohon.. Pinggir kali ya bener2 lahan tanah kosong, nggak ada bangunan..

Sekarang ??.. Dari lantai 2 depan rumah pun nggak bisa lagi ngeliat kali.. Rumah (yang sekarang jadi kantor) gw berhadap2an langsung dengan warung dan kontrakan2, yang jelas2 bagian belakang bangunan2 ini ‘blas’ pinggiran kali.. Padahal kan ya, ada hukum / aturan yang melarang membangun di bantaran kali.. Kalo nggak salah, sekitar 5-10 meter pinggir kali itu harus beneran lahan kosong dan ngga boleh dibangun bangunan pribadi..

Tapi ya itulah negeri ini, hukum bisa dibeli.. Berharap pemandangan depan rumah jadi asri kembali hanya tinggal mimpi.. Kecuali ada pemimpin yang bertangan besi di Bekasi, berani menindak kolusi dan gratifikasi tanpa kecuali.. Lah ini kenapa jadi puisi begini ??.. (^o^!)..

meta-pusing..

Hal2 ghaib seperti jin, hantu, astral, Qaromah, sihir, santet dan sejenisnya seringkali mengundang pro dan kontra.. Sebagian percaya itu beneran ada, sebagian menganggap itu mengada-ada.. Sebagai orang yang pernah “nyerempet” ngalamin model2 gitu, terlebih di Qur’an juga disebutkan ada jin dan keghaiban lain di alam ini, gw memilih untuk percaya..

Padahal ini fenomena menarik untuk dilihat dari kacamata sains.. Masuknya mungkin bisa lewat meta-fisika.. Tapi memang jarang banget ada buku yang berani ngebahas ini lewat sains secara gamblang.. Poin yang sering gw temui: itu ghaib, ya cukup diyakini aja..

Ada satu buku jadul bertema metafisika yang gw suka.. Judulnya
“Setetes Rahasia Alam Tuhan – melalui peristiwa metafisika Al-Mi’raj.”. Penulisnya KH. Bahaudin Mudhary (1921-1979).. Beliau ulama Madura yang bisa berbahasa Arab, Inggris, Jerman, Belanda, dan Perancis.. Pantes pas gw liat rujukan bukunya ada yang berbahasa Arab, Belanda dan Perancis.. Dan hebatnya, beliau menulis ini sekitar tahun 60an..

Di dalam bukunya beliau menuliskan bahwa ilmu pengetahuan itu ada beberapa macam:

(1.) Ilmu pengetahuan Eksakta, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas objek2 yang kasar dan bisa ditangkap oleh panca-indera manusia. Ini ilmu yang sudah biasa kita kenal di sekolah2 ataupun kampus2.. Setinggi2nya ilmu ini, tidak lebih hanya mampu menelaah alam kebendaan.. Meskipun sudah sampai pada pembahasan atom..

(2.) Ilmu Pengetahuan Abstrak.. Ilmu yang membahas objek2 yang tidak bisa ditangkap oleh panca indera.. Di sini termasuk ilmu2 kejiwaan.. Termasuk juga membahas makhluk2 yang hidup dalam alam 4 dimensi (jin, hantu, roh).. Di sini perlu ilmu pengetahuan yang “meta”, seperti meta geometri, meta fisika, ataupun meta kimia.. Quantum bisa masuk sini.. Peran dimensi rohani manusia juga turut berperan di sini..

(3.) llmu Pengetahuan Relatif.. Membahas objek2 yang gaib mutlak, yang tidak dapat diraba, diketahui, ataupun dianalisis dengan otak jasmani.. Seperti peristiwa surga, neraka, bidadari, malaikat, dan semacamnya..

(4.) Ilmu Pengetahuan Absolut.. Ilmu ini membahas objek yang menuju ke arah Yang Maha Mutlak seperti: adanya Tuhan, alam Arasy, Wahdaniyah / ke Esa-an, dan lain2 yang berhubungan dengan itu..

Bila manusia memperdalam sedikitnya keempat ilmu diatas, maka inilah yang disebut dengan “Al Quwwatul Kaamilah” (Kekuatan yang Sempurna).. Sempurna karena kecerdasannya muncul dari otak lahir dan otak batin..

Setiap lebaran kita berucap “mohon maap lahir dan batin”, tanpa menyadari dan kepo lebih jauh bahwa tubuh kita memang punya tubuh berdimensi rohaniah / batin..

Menurut beliau, karena ada badan batin, jadi indera batin juga ada, termasuk otak batin.. Indera batin ini yang bisa menghubungkan manusia dengan alam lain yang lebih besar.. Penasaran dengan bahasan2 metafisika lainnya ? Monggo dibeli bukunya di e-commerce favorit Anda…..\(^o^)/

pseudo-creativity..

Baru nemu nih istilah pseudo-creativity.. Konsep ini pertama kali diajukan oleh Cattel & Butcher (1968), dalam “The Prediction of Achievement and Creativity”.. Istilah ini ditujukan untuk ide2 yang terkesan original dan oke, tapi sebetulnya nggak..

Cuman karena ‘kebetulan’ aja momennya pas, atau karena terdapat unsur ‘kebebasan’ di dalam kreativitas itu sendiri, jadi seseorang bisa sesukanya melontarkan ide2 yang aneh sekalipun.. Terlepas bisa dijalankan idenya atau nggak, yang penting kesannya kreatif dan original..

Runco (1999), dalam “Encyclopedia of Creativity” juga menyatakan kurang lebih begini: Mentang2 ide kreatif itu subjektif dan berkesan ‘nggak bisa salah’, bukan berarti bisa seenaknya melontarkan ide yang kontra atau berlawanan dengan hal2 yang konvensional.. Para Contrarian (mereka yang suka mengambil pilihan atau sikap yang kontra) seringkali mengeluarkan ide / opini yang nggak populer..

Orang2 model begini umumnya hanya mencoba untuk menjadi berbeda, tapi sebenarnya “they are not solving problems or expressing themselves.” – begitu kata Runco.. Ya tentu saja ide2 yang melawan status quo mampu lebih menarik perhatian audiens, dan menganggap “Heii, si do’i kreatif banget ye, idenya out of the box..”

Padahal idenya itu hanya sekedar me-reject apa2 yang sudah ada, dan demi kepentingan ‘rejection’ itu sendiri, bukan demi kepentingan kreativitas.. Contoh paling gampang bisa diliat di ‘arena pertempuran’ politik.. Ada banyak ide (baca: janji) mereka yang kontra, berkesan original dan berbeda dari yang sudah ada selama ini, tapi pas dijalanin melempem abis.. (^_^!)..

Atau malah janjinya nggak dijalanin sama sekali atau setengah jalan.. Karena memang pada dasarnya itu nggak mungkin dijalanin secara komprehensif.. Jadi ya hanya mau berkesan berbeda dan menarik perhatian pemilih aja..

Kreativitas terasosiasi dengan pemunculan ide2 yang bagus dan orisinal.. Menelurkan ide kayak gitu bukan hal yang mudah.. Simonton, seorang peneliti kreativitas menemukan; bahkan para jenius pun kesulitan untuk mengetahui kapan mereka bisa mendapatkan ide yang benar2 bagus..

Robert Sutton, seorang profesor dari Stanford berpendapat: para pemikir original di dalam prosesnya mencari ide yang bagus akan meng-generate banyak ide yang berupa mutasi aneh, juga menemui jalan buntu, bahkan kegagalan total.. Namun itu akan terbayar karena ‘gudang’ idenya jadi lebih besar, dan bisa jadi juga ada ide yang benar2 baru di dalam situ..

Dalam buku “Originals”, Adam Grant (2016) menyatakan: bagi kita orang normal, supaya bisa dapet satu ide yang bagus, paling nggak perlu meng-generate 25 buah ide dulu.. Karena biasanya ide2 awal adalah ide yang paling konvensional dan mirip dengan default yang ada.. Begitu pusing mentok, baru deh kita ‘terpaksa’ mencari ide2 yang nggak biasa..

“Kalian harus mencium banyak kodok sebelum menemukan seorang pangeran..” – Dean Karmen.