Latest Posts

gimana kalo gw…??

Dulu pas gw SMA dan kuliah, tuker pinjem buku baik itu novel, komik, atau buku2 ‘berat’ pun masih sering terjadi.. Sekarang, boro2.. Di depan kelas dari tahun ke tahun kalo gw tanya: “Dalam tiga bulan terakhir, kalian baca buku apa ?”.. Selalu ‘melempem’, diam seribu bahasa, hening tak terkira, hanya senyum2 ria..

Dulu tujuan gw nulis blog itu, salah satunya adalah menumbuhkan minat baca di kalangan anak2 muda, mangkanya gaya bahasanya pake “lu gue”.. Tambah idealis pulak: supaya mereka suka sains.. Gwakakak.. Gw sadar koq, sungguh ini suatu euforia banget di negeri yang kebanyakan mental manusianya nggak suka belajar..

Yang tersisa hanya kenangan masa lalu, dimana Islam pernah punya masa keemasan.. Pengennya mewujudkan itu lagi, tp nggak paham, bahwa saat masa keemasan itu, sains menjadi andalan.. Knowledge menjadi bahan bakar.. Membaca dalam arti luas dan menulis jadi budaya..

Saat ini, membuat banyak orang muda kembali menjadi suka bacaan sepertinya tambah sulit kalo caranya hanya melalui tulisan aja.. Lah gimana ?? Wong baca aja males, belum lagi masalah literasi / pemahaman.. So, ini menjadi salah satu alasan kenapa gw kembali membuat youtube channel, plus reels ataupun shorts..

Kali aja melalui format audio visual bisa jadi pemicu menyadarkan mereka, bahwa sains tuh oke dan membaca tuh keren.. Meskipun ini sebenernya kan bukan tugas gw.. Gw-nya aja yang belagak sok jago.. Gwakakak..

Gw lupa pernah baca di portal mana, ada surveinya bahwa channel youtube bergenre edukasi di Indonesia sini adalah channel yang peminatnya paling sedikit.. Udah tau paling dikit kok masih dilakonin ?? Entahlah, mungkin juga gara2 gw-nya yang emang suka penasaran..

Gw suka penasaran dan suka munculin pertanyaan: “Gimana jadinya ya kalo gw: titik2 ??.”.. Titik2 itu dari zaman SMA udah pernah terisi macem2.. Mulai dari jualan kaset, sapu tangan, belajar gitar & piano, ngomik, ngeblog, maen microstock, sampe akhirnya sekarang ya ini: “Gimana jadinya ya kalo gw bikin kelas online plus rajin ngonten di youtube ??”

Terlebih zaman pun udah berubah.. Era abad2 lalu ada ungkapan: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya..”.. Sekarang di era new media, cara baru sudah muncul.. Bisa dijadiin “Ikatlah ilmu dengan mem-video-kannya..”..

Kalo gw ngincer anak2 muda sekarang, “sarang” mereka bukan di facebook, tp di youtube, IG, dan TikTok.. So, saatnya maen ke “sarang” mereka.. I love to try new things, mencoba hal2 baru juga akan memaksa seseorang untuk belajar hal2 yang baru..

So, itulah alasan kenapa sekarang suka share reels.. Ada juga alasan spiritual sih, tapi nanti aja deh kapan2 di postingan yang berbeda.. (^_^)/

nonton pendek..

Suatu ketika pernah ngobrol sama temen baru yang profesinya dosen juga. Umurnya masih muda, gw tebak sih masuk ke millenials lah..

Sebagaimana Millenials dan Gen Z saat ini, pastilah ‘terpapar’ medsos.. Entah gimana ceritanya, pas ngobrol dia tuh ngomong gini “Sekarang koq rasanya saya jadi agak susah fokus dan gampang lupa ya ??.. Kayaknya sih ni gara2 kebanyakan nonton reels IG dan shorts nih..”

Pas awal gw masuk ke ruang tunggu dosen tempat ketemu dia pun, emang dia tuh lagi sendirian sambil mantengin HP-nya.. Kayaknya sih dia saat itu juga lagi nonton reels.. Bener nggak sih, tontonan berdurasi pendek bisa berdampak kayak gitu ?? Jadi kepo dong, akhirnya coba cari2 tau.. Dan ternyata dampaknya bisa lebih dari itu..

Ada sebuah studi yang dilakukan pada sejumlah mahasiswa di Tiongkok pada tahun 2022.. Studi ini mencoba menginvestigasi dampak dari kelebihan maen online games dan nonton video pendek (shorts) pada kecemasan, depresi, prospective memory, dan academically delayed of gratifications (ADOG)…

Ada 1016 mahasiswa yang dilibatkan.. Dari total yang dilibatkan, diketahui 20,8% mahasiswa maenin game online, 43,9% nonton video pendek, dan 35,3% menggunakan internet untuk kegiatan lainnya..

Hasilnya: online games dan shorts lebih dapat menyebabkan kecemasan ataupun depresi ketimbang kegiatan online lainnya.. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk main online games dan shorts, nilai kecemasan dan depresinya jadi semakin memburuk.. Dan akibatnya, ADOG-nya pun menurun..

Instant gratification atau kepuasan / kesenangan instan yang disajikan oleh video pendek ini juga dinilai perlu diwaspadai.. Karena bisa mengikis kesabaran dan delayed gratification / penunda-an kesenangan.. Padahal untuk mendalami dan mengembangkan hal2 positif seperti hobby, pertumbuhan pribadi, dan pencapaian, sangatlah membutuhkan kesabaran dan disiplin..

Dan tentu saja untuk melakukan itu semua seseorang harus rela “menunda kesenangannya” untuk sejumlah waktu yang lama.. Mengkonsumsi video pendek membuat seseorang masuk dalam kondisi “quick rewards”, dan ujung2nya dapat membuatnya sulit untuk terikat dalam aktivitas yang membutuhkan komitmen jangka panjang..

Belum lagi urusan prospective memory.. Ini adalah “memory of future plans”.. Kemampuan untuk mengingat niat atau tindakan yang akan dilakukan seseorang di masa mendatang.. Jadi misalnya pas pagi, berniat ngerjain kerjaan tertentu nanti di malemnya.. Nah, online games dan shorts bisa ‘merusak’ hal ini melalui kesenangan instan dan turunnya ‘self-control’ untuk menyadari future plans..

Studi ini juga menemukan: nilai prospective memory pemain game online dan penonton shorts lebih rendah daripada kelompok lainnya.. Dan semakin lama waktu yang digunakan untuk maen atau nonton shorts, maka nilainya pun semakin turun secara bertahap..

Jadi, bukannya nggak boleh sih, cuman ya jangan berlebihan.. Cuman kan kelebihan apa nggak-nya ini yang masih abu2.. (^_^!)

My second online course..

My second online course on Udemy.. Bayar cuma sekali, akses sampe mati (^o^)/.. Yang ini tentang proses kreatif.. Sebenernya apa aja sih aspek2 yang bisa mempengaruhi kreativitas kita ??.. Terus gimana koq ide2 bisa muncul di kepala kita ??.. Kesemuanya dibahas mendalam di kelas online ini..

https://www.udemy.com/course/proses-kreatif-pelajari-cara-cara-pemunculan-ide-kreatif/?couponCode=LETSLEARNNOW

My first online course..

Daripada materi ajar ngendon di harddisk, mending dijadiin online course aja.. Sayang kan, udah baca puluhan buku kreativitas buat referensi, eh malah dipendem.. So, akhir Agustus kemarin, jadi deh my first online course.. Kelas kedua, mungkin minggu depan tayang, masih dalam tahap review.. Yuk, monggo diliat2..

https://www.udemy.com/course/mendefinisikan-kreativitas-dasar-untuk-jadi-lebih-kreatif/?couponCode=LETSLEARNNOW

komputer kreatif ??

Ramainya generative AI yang membuat gambar, musik, atau lainnya dari teks promt, jadi timbul pertanyaan: bisakah komputer menjadi kreatif ??

Dari sekian banyak bacaan referensi buat ngajar matkul kreativitas, nggak ada sih yang menyatakan “bisa”.. Mulai dari definisi kreativitas, sampai prosesnya, ‘kualitas2’ yang menjadikan sesuatu itu bisa disebut kreatif, banyak yang nggak ‘masuk’ saat disemat-kan ke komputer..

Seperti pakar kreativitas Teresa Amabile yang menyatakan; kreativitas bukanlah proses algoritmik, dimana urutan dan strukturnya sudah jelas untuk kemudian menghasilkan output yang jelas pula.. Kreativitas justru muncul dari ketidak-jelasan masalah dan beragam jalur yang bisa ditempuh untuk menghasilkan solusi..

Sistem komputer bekerja dengan mengikuti perintah/instruksi yang spesifik tanpa kesalahan.. Sedangkan kreativitas bukanlah prosedur yang sekedar mengikuti perintah, dan terkadang kesalahan2 malah bisa jadi pemicu seseorang untuk memunculkan ide2 kreatif yang baru..

Gw udah nyoba Dall-E dan Leonardo Ai untuk bikin visual.. Tapi ya gitu, rasanya memang seperti nggak melakukan proses kreatif.. Salah satu ciri sesuatu bisa disebut kreativitas adalah adanya niat atau kesengajaan.. Karena disengaja, maka gambaran kasar hasilnya umumnya sudah ada duluan di kepala..

Berkarya seni grafis, musik, tulis, video atau produk, bukanlah tebak2 buah manggis, atau seperti melempar dadu dan menyerahkan pada “chance” atau “gimana nanti” hasilnya seperti apa.. Kalo AI kan begitu cara kerjanya.. Bikin promt, hasilnya kita duga2, atau kita liat nanti jadinya seperti apa..

Substansi penting dari kreativitas adalah orisinalitas dan keunikan.. AI bisa menghasilkan gambar2 yang bagus dan baru, tapi secara kulit, bukan substansi.. Substansi keunikan karya umumnya ditentukan oleh style atau ‘gaya’ dari karya tersebut.. Dalam konteks karya visual, pencipta substansinya adalah manusia pembuat style yang diperoleh dari penajaman skill bertahun2..

AI ‘mempelajari’ style2 gambar / ilustrasi tersebut (banyak yang tanpa izin) dan menjadikannya dataset, dari jutaan karya manusia.. Seandainya dataset itu diisi hanya dengan gambar anak2 TK, maka sebagus dan sedetail apapun prompt-nya, tetep aja yang akan keluar adalah visual gambar anak TK.. Mana bisa yang begitu disebut kreatif ??..

Klaim: ini style-nya si A, ini style-nya si B, dan seterusnya, hanya bisa dilakukan oleh manusia.. Nggak ada yang bisa meng-klaim ini style-nya MidJourney, ini stylenya Leonardo Ai, ini stylenya Flux, dst..

Gw bukannya anti Gen-AI.. Dalam sejumlah aspek, ia memang bisa membantu sejumlah pekerjaan.. Dalam membuat gambar ataupun background slide materi ajar gw misalnya..

Cuman kadang, ada juga yang jadi mengalami ‘ilusi kreativitas’.. Mangkanya ada orang yang pake Gen-AI untuk bikin gambar, terus merasa kreatif, seakan2 dia adalah seniman/illustratornya.. Terus berani buka kursus online, bawa2 kata kreativitas.. Lucu kan jadinya.. (^_^!)/