Latest Posts

prisma kesadaran..

Gw lupa sih tepatnya kapan dan dimana, pernah nemu anjuran untuk belajar melampaui dualitas.. Ternyata untuk bisa punya kemampuan melampaui dualitas (yang banyak jenisnya ini), perlu tingkat kesadaran yang tinggi.. Analoginya kayak prisma Newton..

Pernah liat prisma Newton ? Di buku, internet, atau di manapun deh.. Itu loh: yang ada satu prisma, terus ada sebuah cahaya putih masuk dari belakang menembus prisma, kemudian pas keluar ke depan prisma, cahayanya menjadi beragam warna..

Manusia cenderung ‘terkurung’ di dalam prisma tersebut dalam posisi kepala melihat ke depan.. Kepala di dalem situ cenderung ‘terkunci’ untuk terus melihat ke arah warna2 tersebut.. Jadi yang keseringan dilihat adalah ragam warna dualitas: baik buruk, untung rugi, pahit manis, senang kecewa, kelompok A kelompok B, dan sejenisnya..

Di banyak agama, bukan hanya yang langit-an, namun yang bumi-an juga, selalu ada metode2 untuk menaikkan kesadaran manusia.. Mulai dari sholat khusyu’, tafakkur, meditasi, atau lainnya yang tujuannya adalah keheningan untuk membangkitkan kesadaran sejati..

Kenapa selalu ada yang model begini di banyak agama dan kepercayaan ? Ini seakan menempatkan kesadaran sebagai sesuatu yang vital.. Kalo di Islam emang iya sih.. Ada istilah Takwa, yang bisa bermakna kesadaran akan Allah atau God-consciousness.. Bahkan tertulis tegas pada sejumlah ayat Qur’an: Surga diperuntukkan bagi orang2 yang bertakwa..

Dengan analogi prisma ini, untuk bisa melampaui dualitas, seseorang mesti bisa “keluar” dan memanjat ke atas prisma tersebut.. Kemudian mencoba melihat sumbernya: sebuah cahaya Tuhan yang putih murni.. Saat bisa berada di atas prisma, seseorang bisa menyadari bahwa yang dilihat dari dalam prisma merupakan bentuk pembiasan..

Output2 pemikiran kita yang dibungkus oleh prisma Ego seringkali adalah bias.. Bisa bias persepsi, asumsi, perspektif, dll.. Ini yang bikin kebenaran sejati sulit dimiliki manusia.. Malah sering juga kan kita jadi ada di situasi yang bikin mikir: “Ini sebetulnya yang bener yang mana sih ??”

Masalahnya, untuk bisa “keluar” dari prisma nggak semudah itu, malah cenderung sulit.. Jalan yang umum: (1.) Lewat menemukan sendiri bahwa kondisi dia tuh ada di dalam prisma.. Atau cara (2.) “Dijedotin” berkali2 sampe benjol2 ke dinding prisma sampe dia tahu bahwa dirinya ada di dalemnya.. (^_^!)..

Sampe akhirnya paham ia perlu palu, gergaji, pahatan, atau sejenisnya buat ngiris prisma, bisa keluar dari situ, dan memanjat ke atasnya.. Kedua jalan ini perlu perbekalan yang sama: pengetahuan.. Dengan ini, wahyu pertama adalah Iq’ra menjadi lebih make sense lagi.. Pengetahuan, terus tafakkur, lanjut latihan pengamalan merupakan anak2 tangga menuju kesadaran yang lebih tinggi..

“When you become more conscious, you will begin to see things as they are, not as you wish them to be.” – unknown.

bonus atau bencana ?

Saat ikut training akademi edukreator 5 Juli kemarin, gw berkenalan dengan dua orang edukreator.. Keduanya punya bimbel.. Mereka ngonten sekaligus untuk mempromosikan bimbel mereka.. Salah satunya, konten youtubenya tentang matematika.. Kebayang dah, gimana sulitnya menggaet viewers dengan tema itu.. Dan itu udah berjalan sejak tahun 2021.. Gokil !!

Di luar dugaan sih, channel gw bisa lolos seleksi akademi edukreator.. Soalnya kan channelnya baru mulai November 2024 kemarin, subscriber dan views juga masih dikit.. Tapi ya itulah hidup.. Tempe semua, nggak ada yang tahu..(^_^)/

Setelah ngobrol” dengan kedua edukreator bimbel itu, koq ya jadi semakin pesimis soal Indonesia emas, bonus demografi, dan hal” manis lainnya yang dijanjikan sama pejabat” sini.. Poinnya sih, banyak anak remaja sekarang yang bener” minim nalar, minim literasi, plus kemampuan itung”an dasar matematik yang lemah..

Beberapa video yang sempat viral mengenai murid” SMP/SMA yang nggak bisa perkalian dan jenis hitung”an lain, itu memang nyata terjadi.. Buat yang tinggal di kota” besar, atau circle-nya kebanyakan murid” sekolah swasta, mungkin ini nggak begitu kelihatan.. Tp kalo di pinggiran, apalagi di pedesaan, bisa beda ceritanya.. Yah ini nggak bisa maen pukul rata sih..

Sebetulnya ini terkait dengan faktor inkompetensi.. “Inkompetensi membunuh lebih banyak orang daripada kejahatan..” begitu kata Bagus Muljadi.. Di mana pun dan pada profesi apapun, inkompetensi sangatlah kocak, kalau nggak mau dibilang berbahaya..

Zaman peralihan ke e-KTP dulu, gw foto KTP di kantor kecamatan.. Tuh pegawai kecamatan foto pake kamera DSLR.. And you know what ?!?.. Pas e-KTPnya jadi, foto gw ngeblur !! Jauh masih bagusan foto anak gw yang SD waktu ambil foto kucing pake kamera HP..

Walhasil, mesti poto ulang ke Dukcapil.. Pas ke sono, cakep deh.. Blankonya abis.. Akhirnya pake surat keterangan sementara.. Itu contoh kasus kecil..

Coba ambil contoh kasus para pengajar yang nggak kompeten.. Berapa anak bisa rusak masa depannya gegara mereka ??.. Menghabiskan waktu bertahun-tahun, hanya untuk hal yang nggak substansial.. Waktu terbuang, ilmu nggak terdulang..

Celakanya, pelaku inkompetensi seringkali “halu” dan nggak mau mengakui bahwa dirinya nggak kompeten.. Dunning Kruger Effect berjalan.. Jadinya minim reflektif, dan berakibat menjadi SDM rendah tanpa sadar.. Ujungnya, dalam aspek apapun: SDM rendah nggak akan bisa menelurkan SDM bermutu..

Inkompetensi seringkali nggak memakan korbannya secara langsung.. Karena seringkali diberi polesan” dan dibungkus kata” manis.. Namun saat kebenaran terungkap, penyesalan tersingkap.. Baru korbannya berucap: “What have I done ?!?”..

Saat di level kekuasaan dipenuhi orang” dengan inkompetensi, output” aneh seringkali terlihat.. Berita korup dimana”, isilop maen robot”an, sampe solusi” absurd dari para petinggi negeri.. So, nantinya bonus demografi, atau bencana demografi ?? Entahlah..

non-konformis..

Bini’ gw cerita, katanya pas dia jemput si bontot cowok (kelas 1 SD), gurunya ngeluh.. Gurunya ngomong sambil ketawa: “Aduh buu’ saya bingung ini anaknya mau digimanain lagi.. Suka berisik.. Udah dipindah2 duduknya di kelas, teteeup aja nggak bisa diem..”

Gwakakak.. Emang nih anak cowok gw nggak bisa anteng.. Kalo lagi mandi aja, suka berisik nyanyi2 nggak karuan.. Disuruh tidur siang susah, tiap hari pasti ke kantor ngerecokin gw kerja, kadang sambil bawa2 kucing.. Dari awal masuk SD gw udah denger juga kabar soal anak gw yang nggak bisa diem.. Tapi Alhamdulillah-nya sejauh ini nilai akademiknya cenderung bagus..

Katanya sih, kalo anak bandel, nggak bisa diem, suka ngerecokin gurunya sampe pusing, itu tanda bahwa tuh anak punya potensi kreatif yang oke.. Yah semoga aja lah yaa (menghibur diri)..

Tapi memang pernah ada penelitian di beberapa Sekolah Dasar, sejumlah guru diminta membuat daftar murid favorit dan kurang favorit.. Dibuatlah peringkat dalam dua kelompok ini berdasarkan sejumlah karakteristik si murid.. Hasilnya: murid kurang favorit selalu berisikan murid2 yang non-konformis, yang sulit diatur, dan malah pengen punya aturan sendiri..

Padahal Adam Grant (2017) dalam buku “Originals” menuliskan: penelitian menunjukkan bahwa murid paling kreatif lah yang paling kecil kemungkinannya menjadi murid favoritnya guru.. Para guru cenderung mendiskriminasi murid yang sangat kreatif dan melabeli mereka sebagai biang onar..

Menurut Adam, para-non konformis inilah yang sebetulnya memiliki potensi untuk dapat memunculkan ide original.. Namun sayangnya kecenderungan untuk memaksa mereka menjadi “penurut” menjadikan hal tersebut lebih sulit terjadi..

Jadi, buat bo-ebo yang punya anak nggak bisa diem dan non-konformis, jangan dulu berkecil hati.. Mana tau itu adalah bibit potensi dari energi kreativitas yang tersalurkan, namun belum dalam bentuk karya.. Ya mau berkarya gimana di umur segitu ? Paling banter ngegambar.. Lantas kalau lagi bosen gambar, mau ngapain lagi ? Ya paling enak berisik sendiri atau ngerecokin temen2nya.. (^o^!)..

Para guru juga banyak yang belum paham kreativitas secara komprehensif.. Aljughaiman dan Mowrer-Reynolds (2005), dalam “Teacher’s conceptions of creativity and creative student”, menemukan bahwa guru sering kali tidak memahami apa artinya menjadi kreatif, bahkan ketika mengaku menyukai kreativitas..

Setelah bikin channel YouTube kreativitas, gw jadi harus menchallenge diri sendiri buat lebih banyak baca buku mengenai kreativitas.. Makin ke sini makin ngerti kalo kreativitas itu luas banget, dan menariknya: nggak ada satu faktor tunggal yang bisa dijadikan penentunya..

De Souza Fleith, D. (2000), dalam “Teacher and student perceptions of creativity in the classroom environment”, juga menemukan bahwa guru tidak melihat adanya hubungan antara kreativitas dengan penghargaan, motivasi intrinsik, ataupun evaluasi diri..

Waspadai Shorts Video

Menonton shorts form content memang mengasyikkan. Namun dibalik itu dalam jangka panjang, terdapat dampak negatif yang cukup berbahaya bagi kondisi otak dan mental seseorang. Banyak hasil studi yang mengarah pada “konten video pendek harus diwaspadai”. Apa saja dampak negatifnya ? Monggo ditonton videonya.

cetakan kesukaan..

Ada seorang dokter, dia cerita waktu magang dulu, seringkali ditempatkan di ruang paliatif.. Ruang yang menyediakan perawatan bagi pasien dengan penyakit serius atau kronis yang tidak dapat disembuhkan.. Fasilitas perawatannya fokus pada pengelolaan gejala, dukungan psikologis, sosial, dan spiritual..

Karenanya, si dokter ini jadi sering mendampingi orang2 yang (sudah tahu) akan meninggal dalam waktu yang tidak lama lagi.. Di situ dia banyak melihat tatapan mata orang2 yang menurut dia berada dalam kesadaran paling tinggi, karena mereka tahu dirinya akan meninggal..

Saat itu dia terpikir untuk bertanya kepada para pasien di situ: “Kalau seandainya diizinkan untuk kembali mengulang hidup, apa yang akan Anda lakukan ?”

Jawabannya terbanyak cukup mengejutkannya.. Jawaban apa yang paling banyak atau berada di urutan pertama ?? Ternyata: “Saya akan lebih banyak melakukan apa2 yang saya sukai..” Jawaban kedua yang paling banyak dia temukan: “Saya akan lebih banyak mengatakan I love you pada pasangan saya..”. Dan yang ketiga: “Saya akan lebih banyak memberi..”

Berkat jawaban pertama itu, si dokter ini jadi nggak mengambil kesempatan menjadi PNS.. Karena ia mau melakukan apa yang dia sukai, bukan yang didesain oleh orang lain.. Gw lupa sih, dia ini kayaknya akhirnya buka praktek sendiri, plus layanan spiritual gitu..

Dari para pasien itu, ia belajar bahwa menjadi “sesuatu” (bisa diisi sendiri dengan suatu jabatan atau profesi), meski dari luar terlihat menawan, tidak lantas otomatis membuat seseorang menjadi bahagia..

Kalo dari sotoy2nya gw, “melakukan hal yang disukai” itu erat berkaitan dengan minat, hobby, dan passion seseorang.. Sebagai orang yang menggemari tasawuf, spiritual, ataupun kesadaran, gw meyakini kalo passion, minat, bakat, hobby, itu ada benang merahnya dengan misi jiwa..

Seseorang nggak lahir ke dunia bagai kertas putih polos, namun ada warna dasar atau corak tertentu yang memang sudah disematkan.. Untuk apa ? Ya untuk menjalankan misi jiwanya.. Sulit menemukan misi jiwa kalo proses penemuan jati diri belum selesai..

Menurut Nouman Ali Khan, Founder dan CEO Bayyinah Institute, topik penemuan jati diri itu ada di QS.17:84: “Tiap2 orang berbuat menurut keadaannya masing2”.. Ada di kata syakilaah (keadaannya), akar katanya ‘syakl’, dan artinya bisa “form”, bentuk, atau cetakan.. Dari perspektif psikologi bisa diartikan kecenderungan kuat di dalam diri..

Di terjemahan english kata ‘berbuat’ diterjemahkan sebagai kata “works”, atau bekerja.. Uniknya, di ayat “sebelahnya” QS.17:85, Alloh langsung berbicara tentang ruh.. Apakah ini ada kaitannya antara ruh seseorang dengan misi jiwanya setelah diturunkan ke dunia ? Entahlah..

“Seseorang nggak akan bisa mengenal diri sejatinya, sampai ia bisa menempatkan kecenderungan kuatnya (syakilaah-nya) dalam pekerjaannya sehari2.. “ – Nouman Ali Kahn.