Author: ogieurvil

bingung kebenaran..

Kalo ngasi tugas2 desain ke mahasiswa, gw suka nggak ngasi contoh hasil jadinya.. Karena desain grafis itu ada faktor subjektivitasnya.. Jadi biarin aja mereka ‘bingung’.. Toh dasar2 teori dan implementasinya sudah disampaikan.. Tinggal gimana si mahasiswa mau mencari referensi dan berpikir mandiri.. Dalam konteks skill dan knowledge, hubungan guru dan murid seringkali menjadi hubungan hirarki yang ‘semu’.. Karena pada dasarnya nggak ada yang bisa mengajari orang lain, yang ada hanya men-share informasi kepada orang lain.. Kalo dipikir lebih dalam, memang yang gw lakukan di depan kelas itu ‘sekedar’ membagikan informasi berupa teori2 desain.. Yang kemudian harus baca2 atau cari referensi lagi ya si mahasiswa, yang harus melakukan latihan2 dan mengerjakan tugas ya si mahasiswa juga.. So, yang sangat menentukan adalah diri si murid sendiri.. Mau terus ‘mendevelop’ informasi2 tersebut atau nggak.. Gw pikir, ada baiknya membiarkan mahasiswa berada dalam fase ‘kebingungan’.. Karena di fase itulah umumnya seseorang lebih terpicu untuk mencari tahu dan mengobservasi lebih jauh.. Dan terbuka kemungkinan referensi yang akan dia temukan bisa saja lebih bagus daripada referensi gw sebagai pengajar.. Sikap berpikir …

analogi hidup..

Sejauh ini, ada beberapa analogi kehidupan yang gw tau.. Yang pertama: hidup adalah perlombaan atau pertandingan.. Hidup ibarat track balap lari atau arena tanding.. Jadinya, hidup penuh dengan persaingan, adu cepat, adu sukses, atau adu-adu yang lain.. Yang kedua: hidup adalah perjalanan atau sekedar mampir lewat saja.. Ini sering ditemukan dalam perspektif agama.. Ya namanya perjalanan, bisa santai, bisa menikmati apapun dalam perjalanan.. Tapi ya gitu, ‘sense of competitiveness’ jadi kurang terbangun.. Akibatnya, jadi nggak ada suatu impian / goal yang harus dikejar.. Hidup seadanya pun tak apa.. Yang ketiga gw dapet dari konsep psikologi Adler: hidup adalah tarian kontribusi.. Hidup ya ‘menari’ terus saja, masing2 orang cukup memperhatikan panggungnya masing2, tidak perlu pusing memikirkan panggung orang lain.. Cukup menari dengan bahagia menebar kontribusi / manfaat.. Dan karena tarian, pastilah bergerak (tidak ada tarian yang diam), nanti tauk2 akan sampai di tempat2 yang nggak terduga.. Pilih yang mana ?? Atau bisa juga di-‘mix and match’.. Kalau seorang atlit, pilihan pertama jelas lebih cocok.. Karena kompetisi memang sudah menjadi inti dari profesinya, dan menjadi juara adalah …

pinggir kali..

Depan rumah gw itu kali Sunter, sungai yang jadi ‘pemisah’ Jakarta Timur dan Bekasi.. Jadi komplek gw itu pas banget perbatasan antara Jakarta dan Bekasi, dan yaah, KTP gw Bekasi.. Kampus tempat ngajar di Srengseng Sawah – Jaksel.. Pas ngajar, gw sering jadiin becandaan buat nyindir mahasiswa yang telat dateng masuk kelas..”Gw dateng ke sini tuh lintas propinsi loh, mosok lu yang kepeleset doang nyampe’ malah belakangan ?..” (^_^!) Waktu masih kecil sekitar kelas 3 SD gitu, di pinggir kali pas depan rumah, ada sedikit lahan tanah gitu deh.. Lahan tanah tersebut ditumbuhi sejumlah pohon bambu.. Belum gede sih pohon bambunya, paling tingginya baru sekitar 1 meter lebih dikit.. Tapi cukup rimbun, yaah seukuran anak kecil bisa lah maksain masuk ke ‘dalem’ rimbunan situ.. Nah, pada suatu malem, gw keluar rumah gitu.. Biasa, buat liat2 aja, karena kadang ada temen juga yang keluar, kan lumayan bisa lanjut maen bareng.. Terus ngerasa ada yang aneh di dalem rimbunan bambu.. Kayak ada yang ngeliatin gw.. Tapi pas diliat berbekal cahaya lampu jalan dari jarak gw berdiri sekitar …

meta-pusing..

Hal2 ghaib seperti jin, hantu, astral, Qaromah, sihir, santet dan sejenisnya seringkali mengundang pro dan kontra.. Sebagian percaya itu beneran ada, sebagian menganggap itu mengada-ada.. Sebagai orang yang pernah “nyerempet” ngalamin model2 gitu, terlebih di Qur’an juga disebutkan ada jin dan keghaiban lain di alam ini, gw memilih untuk percaya.. Padahal ini fenomena menarik untuk dilihat dari kacamata sains.. Masuknya mungkin bisa lewat meta-fisika.. Tapi memang jarang banget ada buku yang berani ngebahas ini lewat sains secara gamblang.. Poin yang sering gw temui: itu ghaib, ya cukup diyakini aja.. Ada satu buku jadul bertema metafisika yang gw suka.. Judulnya“Setetes Rahasia Alam Tuhan – melalui peristiwa metafisika Al-Mi’raj.”. Penulisnya KH. Bahaudin Mudhary (1921-1979).. Beliau ulama Madura yang bisa berbahasa Arab, Inggris, Jerman, Belanda, dan Perancis.. Pantes pas gw liat rujukan bukunya ada yang berbahasa Arab, Belanda dan Perancis.. Dan hebatnya, beliau menulis ini sekitar tahun 60an.. Di dalam bukunya beliau menuliskan bahwa ilmu pengetahuan itu ada beberapa macam: (1.) Ilmu pengetahuan Eksakta, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas objek2 yang kasar dan bisa ditangkap oleh panca-indera manusia. …

pseudo-creativity..

Baru nemu nih istilah pseudo-creativity.. Konsep ini pertama kali diajukan oleh Cattel & Butcher (1968), dalam “The Prediction of Achievement and Creativity”.. Istilah ini ditujukan untuk ide2 yang terkesan original dan oke, tapi sebetulnya nggak.. Cuman karena ‘kebetulan’ aja momennya pas, atau karena terdapat unsur ‘kebebasan’ di dalam kreativitas itu sendiri, jadi seseorang bisa sesukanya melontarkan ide2 yang aneh sekalipun.. Terlepas bisa dijalankan idenya atau nggak, yang penting kesannya kreatif dan original.. Runco (1999), dalam “Encyclopedia of Creativity” juga menyatakan kurang lebih begini: Mentang2 ide kreatif itu subjektif dan berkesan ‘nggak bisa salah’, bukan berarti bisa seenaknya melontarkan ide yang kontra atau berlawanan dengan hal2 yang konvensional.. Para Contrarian (mereka yang suka mengambil pilihan atau sikap yang kontra) seringkali mengeluarkan ide / opini yang nggak populer.. Orang2 model begini umumnya hanya mencoba untuk menjadi berbeda, tapi sebenarnya “they are not solving problems or expressing themselves.” – begitu kata Runco.. Ya tentu saja ide2 yang melawan status quo mampu lebih menarik perhatian audiens, dan menganggap “Heii, si do’i kreatif banget ye, idenya out of the box..” …